Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 4 Nov 2021 09:25 WIB ·

Jokowi dan Orang Hutan


					Siti Nurbaya Bakar. (KemenLHK) Perbesar

Siti Nurbaya Bakar. (KemenLHK)

KEMPALAN: Menteri kesehatan bukan orang kesehatan, bukan dokter. Menteri pertahanan bukan orang tahanan, menteri pertanian bukan petani, menteri kehutanan bukan orang hutan.

Joke itu beredar luas waktu Presiden Jokowi tahun lalu mengumumkan resafel kabinet dan mengangkat Budi Gunadi Sadikin sebagai menteri kesehatan. Budi, sebagaimana publik mafhum, seorang bankir, bukan dokter dan tidak punya latar belakang kesehatan.

Prabowo Subianto yang menjadi menteri pertahanan jelas bukan orang tahanan. Dia pensiunan jenderal bintang tiga. Sahrul Yasin Limpo juga bukan petani yang mencangkul di sawah. Dia gubernur Sulawesi Selatan dua periode.
Siti Nurbaya Bakar, yang menjadi menteri kehutanan, tentu bukan orang hutan. Dia birokrat tulen yang lama berkarir di Departemen Dalam Negeri dan kemudian menjadi politisi Nasdem. Kalau kemudian dia diangkat menjadi menteri kehutanan yang antara lain bertugas mengatasi kebakaran hutan, tentu bukan karena kebetulan nama belakangnya ‘’Bakar’’.

Kali ini Siti Nurbaya viral di media sosial karena pernyataannya yang heroik mengenai deforestasi atau penggundulan hutan. Bu Menteri menegaskan bahwa proyek pembangunan besar-besaran di Indonesia di era Jokowi ini tidak harus berhenti karena program deforestasi yang mentargetkan nol emisi karbon pada 2050.
Presiden Jokowi yang mengikuti KTT PBB mengenai perubahan iklim (COP26) di Glasgow, Skotlandia, Senin (1/11), mengklaim bahwa Indonesia sudah berhasil melakukan preservasi hutan dan angka kebakaran hutan sudah turun sampai 82 persen.

Ini tentu pernyataan yang tidak kalah heroik. Seperti biasanya, Jokowi selalu berhasil mencuri panggung di even besar internasional. Sebelum ke Glasgow, Jokowi mengikuti konferensi negara-negara anggota G20 di Roma, Italia. Jokowi menjadi perhatian karena Indonesia mendapat giliran menjadi presiden negara-negara ekonomi besar itu untuk masa kepemimpinan 2022.

Kehadiran Jokowi di Roma diekspos besar-besaran di dalam negeri. Jokowi digambarkan menjadi sosok sentral dalam pertemuan itu. Meskipun diketahui tidak piawai dalam berbahasa Inggris tapi Jokowi terlihat tidak canggung bercengkerama dengan Emmanuel Macron, Boris Johnson, Angela Merkel, dan tuan rumah Mario Draghi.

Publik tidak tahu apa yang diperbincangkan. Yang terlihat adalah Jokowi tetap memakai masker sementara lawan-lawan bicaranya tidak bermasker. Seperti biasanya, netizen Indonesia riuh rendah berkomentar. Pendukung Jokowi menyebut Jokowi tetap konsisten menjaga prokes dengan tetap bermasker. Para pengritik menyebut Jokowi memakai masker supaya tidak banyak omong karena tidak lancar berbahasa Inggris.

Sebuah video beredar viral menggambarkan Jokowi menerima standing ovation dalam sebuah acara. Pengacara youtuber Hotman Paris memberi caption ‘’Siapa yang tidak bangga punya presiden Bapak Jokowi yang disambut begitu meriah’’.

Usut punya usut ternyata video itu rekaman lawas saat Jokowi berkunjung ke Australia 2020. Haters Jokowi pun membalas dengan mengedarkan video Jokowi dan tim menteri bertemu dengan delegasi asing. Dalam video itu Jokowi berbicara dalam bahasa Inggris dengan logatnya yang khas yang sering menjadi bahan candaan.

Pidato Jokowi di COP26 Glasgow mengenai prestasi penanganan kebakaran hutan Indonesia disiarkan luas di Indonesia dan diamplifikasi ramai-ramai di berbagai akun medsos. Tapi, klaim heroik Jokowi ini langsung mendapat sanggahan dari Greenpeace, organisasi aktivis lingkungan yang paling otoritatif di dunia.

Tidak tanggung-tanggung, Greenpeace Indonesia menyebut klaim-klaim Jokowi yang disampaikan di Glasgow adalah omong kosong. Perwakilan Greenpeace Indonesia M Iqbal Damanik mengungkapkan klaim Jokowi mengenai transisi energi, keberhasilan menurunkan angka kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga target rehabilitasi 600 hektar mangrove atau hutan bakau pada 2024 mendatang, tidak didukung bukti.

Menurut Greenpeace, angka penurunan karhutla sampai 82 persen selama 2020-2021 tidak bisa dianggap sebagai keberhasilan Jokowi. Sebab, penurunan angka karhutla itu lebih banyak dipengaruhi faktor alam. Begitu pun, pada tahun-tahun sebelumnya. Angka Kerhutla menurun cukup tinggi ketika musim-musim basah, ketika curah hujan cukup tinggi.

Biasanya setiap tahun Indonesia menjadi pengekspor asap terbesar di Asia Tenggara. Penerima ekspor asap terbesar adalah negeri jiran Malaysia yang berbatasan langsung dengan hutan-hutan Kalimantan dan Sumatera yang menjadi langganan kebakaran. Singapura juga sering menjadi korban ekspor asap gratis dari Indonesia.

Dalam setahun terakhir memang tidak terdengar kabar adanya ekspor asap gratis itu karena kebakaran hutan memang jarang terjadi. Jokowi mengklaim penurunan sampai 80 persen itu sebagai prestasi. Tapi Greenpeace menganggapnya sebagai kebetulan atau nasib baik.

Apapun, kebetulan atau nasib baik, yang jelas selama hampir dua tahun terakhir tidak ada kebakaran hutan, dan Jokowi boleh menepuk dada dan mengklaimnya sebagai keberhasilan, meskipun Greenpeace tidak sependapat.

Greenpeace mengatakan memang laju penggundulan hutan turun, tetapi hal itu terjadi secara alamiah karena musim hujan yang sangat basah. Greenpeace tidak melihat ada intervensi kebijakan terhadap kebakaran hutan yang optimal dari pemerintah, dank arena itu keberhasilan ini tidak bisa diklaim sebagai keberhasilan Jokowi.

Greenpeace malah menganggap data-data yang disampaikan Jokowi sebagai data asal ambil seperti data tukang pulung. Data ‘cherry picking’ itu tidak menggambarkan situasi yang seutuhnya.

Karhutla masih banyak terjadi di konsesi-konsesi yang sama seperti di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Kebakaran terjadi di titik yang sama sejak 2015.

Soal transisi energi, Greenpeace menganggap Jokowi belum memperlihatkan kesungguhan dalam implementasinya. Salah satu yang disoroti adalah penggunaan bahan bakar fosil dari batubara.

Pemerintah Jokowi masih…

Artikel ini telah dibaca 94 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Preman

28 November 2021 - 09:25 WIB

Toilet

27 November 2021 - 09:14 WIB

Sapujagat

26 November 2021 - 09:31 WIB

Presiden Satu Jam

25 November 2021 - 08:42 WIB

‘’Nerror’’ di Istana

24 November 2021 - 09:07 WIB

Lockdown (Lagi)

23 November 2021 - 09:13 WIB

Trending di Kempalpagi