Kamis, 23 April 2026, pukul : 00:51 WIB
Surabaya
--°C

Patung Sukarno

Sejarawan muslim Ibnu Khaldun melihat sejarah sebagai sebuah spiral, dan karena itu muncul keyakinan bahwa sejarah akan mengulangi dirinya sendiri, l’histoir repete. Roda sejarah berputar seperti pedati yang berputar kadang di atas kadang di bawah. Orang Jawa menyebutnya cakra manggilingan, tradisi Yunani menyebutnya panta rei, berputar berulang-ulang.

Hegel melihat sejarah sebagai sebuah proses untuk ‘’menjadi’’, sebuah proses eksistensial menuju sebuah titik puncak. Dalam proses itu muncul tesa yang kemudian melahirkan antitesa dan pada akhirnya terjadilah sintesa baru. Proses ini akan menuju satu titik puncak yang akan menjadi puncak sejarah.

Ketika sejarah sudah sampai pada puncaknya maka sejarah akan berhenti, karena manusia terakhir sudah muncul. Itulah manusia paripurna yang hidup sesuai dengan kodrat kemanusiaan. Pada titik itu sejarah telah berakhir, the end of history and the last man, seperti yang diproklamasikan Francis Fukuyama (1991).

Sejarah macam apa yang ingin ditulis oleh Megawati? Kayaknya Mega ingin menyegel sejarah Indonesia dalam versi hegelian yang linier itu. Sejarah Indonesia sudah berakhir di tangan Sukarno, dan Sukarno sudah muncul sebagai ‘’the last man’’.

Rentang sejarah yang linier–maupun putaran sejarah yang spiral–bisa berlangsung ratusan tahun, atau bahkan lebih pendek dalam puluhan tahun atau tahunan saja. Sejarah bangsa Amerika ditulis oleh para pemenang berkulit putih yang menduduki benua itu pada abad ke-18. Sejarah sebelum itu dihapus dan dianggap tidak ada.

Bangsa pribumi Indian yang beratus tahun menghuni benua Amerika dianggap tidak eksis. Penghancuran dan pembunuhan sistematis dilakukan dengan cepat dan singkat, bukan hanya dengan menggunakan senjata, tapi juga dengan senjata biologis berupa penyakit menular. Sejarawan Jared Diamond mengatakan bahwa jumlah orang pribumi yang mati karena penyakit menular, yang dibawa orang kulit putih, jauh lebih besar dibanding jumlah korban karena senjata orang kulit putih.

Penyakit campak dan cacar—yang sekarang dianggap sebagai penyakit ringan yang sudah hilang—adalah dua jenis penyakit yang paling mematikan yang ditularkan orang kulit putih terhadap bangsa pribumi. Orang-orang kulit putih itu sudah mempunya kekebalan kelompok dan kemudian–senjaga atau tidak—menularkan penyakit itu kepada bangsa pribumi. Ratusan ribu Indian pribumi Amerika mati karena pandemi itu.

Bukti-bukti sejarah jelas menunjukkan bukti genosida masal itu. Toh bangsa kulit putih tidak pernah merasa bersalah atas pembantaian besar itu. Mereka anggap kolonialisme dan imperialism bukanlah kejahatan. Sebaliknya, kolonialisme dan imperialisme adalah tugas sejarah yang menjadi kewajiban bangsa kulit putih yang beradab, untuk memperadabkan dunia ketiga. Penjajahan dan penaklukan itu adalah ‘’white man’s burden’’ beban sejarah orang kulit putih yang harus ditunaikan.

Itulah yang terjadi di seluruh belahan dunia. Di Amerika Utara, Amerika Selatan, di Australia dan Afrika, penduduk pribumi dianggap tidak ada dan tidak pernah eksis. Hamparan tanah luas itu dianggap sebagai bumi yang suwung yang bebas dikuasai oleh bangsa kulit putih. Karena itulah orang kulit putih mengeluarkan prinsip ‘’terra nulius’’, tanah kosong, untuk menjustifikasi perampasan dan penjajahan masal itu.

Bagi bangsa kulit putih para kolonis itu adalah pahlawan. Tetapi bagi bangsa pribumi mereka adalah penjajah. Bagi bangsa kulit putih para kolonis adalah pembebas, tetapi di mata para budak belian yang didatangkan dari Afrika dalam jumlah puluhan ribu, orang-orang kulit putih itu adalah monster pembunuh yang mengerikan.

Christopher Columbus adalah pahlawan bagi orang kulit putih yang beremigrasi ke Amerika. Tapi, bagi orang-orang kulit hitam keturunan budak belian dari Afrika, Columbus adalah lambang kekejaman dan kezaliman. Para pejuang konfederasi pada perang sipil Amerika adalah pahlawan pemersatu bangsa. Tapi, bagi orang kulit hitam mereka adalah perampas kebebasan dan pedagang manusia yang tidak berperikemanusiaan.

Melewati masa 200 tahun setelah kemerdekaan Amerika, sejarah kemudian berbalik. Puluhan ribu orang menurunkan patung Columbus dalam demonstrasi ‘’Black Lives Matter’’ sepanjang 2020. Patung Columbus diambrukkan, dirusak, dan kemudian ditenggelamkan ke sungai. Nasib yang sama dialami oleh patung Jefferson Davies, presiden pertama konfederasi Amerika Serikat. Patung itu diturunkan, lalu dirusak, dan beramai-ramai ditenggelamkan ke sungai di Virginia.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.