Bangsa Amerika yang sudah merdeka 250 tahun dan dianggap sebagai contoh negara demokrasi paling sukses di planet bumi masih mengalami keterpecahan yang menganga seperti itu. Bangsa Indonesia yang baru 76 tahun merdeka pasti punya problem kebangsaan yang jauh lebih serius daripada Amerika.
Negara-negara di Eropa Timur, di Asia Tengah, dan di beberapa wilayah lain juga mengalami hal yang sama. Ketika komunisme di seluruh Eropa ambruk, menyusul bubrahnya Uni Soviet, puluhan ribu orang turun ke jalan merayakan kebebasan.
Ritual yang mereka lakukan terlihat seragam. Mereka beramai-ramai menurunkan dan menghancurkan patung para pemimpin komunis yang berdiri tegak selama puluhan tahun. Patung Stalin mereka hancurkan, patung Nicolae Ceausescu di Rumania dihancurkan, patung-patung Karl Marx dihancurkan dimana-mana.
Ketika rakyat Iraq merasa terbebas dari kekuasaan Sadam Hussein–yang menjadi orang kuat selama puluhan tahun–yang mereka lakukan pertama adalah menurunkan patung besar Sadam Hussein di pusat kota Baghdad. Patung pun roboh dan rakyat bersorak-sorai merayakannya.
Sejarah berputar dan bergerak dengan cepat. Setiap terjadi perubahan rezim, terjadi juga penghancuran patung seolah ritual wajib yang rutin. Hal itu terjadi di Amerika yang demokratis dan terjadi juga di Iraq yang diktatorial.
Kita tidak pernah belajar dari sejarah. Satu-satunya yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah. Proyek patung Bung Karno masal–yang sekarang digalakkan oleh Megawati—adalah salah satu bukti bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi