Menu

Mode Gelap

Kempalanbis · 28 Okt 2021 21:00 WIB ·

Tantangan Bu Nyai Sumenep Pimpin Perempuan UMKM Jawa Timur


					Gubernur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati dan Wakil Bupati Lamongan menunjukkan kerajinan hasil produksi UMKM. Perbesar

Gubernur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati dan Wakil Bupati Lamongan menunjukkan kerajinan hasil produksi UMKM.

Catatan Ekonomi Dr. Khairunnisa Musari

“Menolong UMKM, menolong perempuan, berarti kita menolong Indonesia…”

Demikian sambutan Gubernur Bank Indonesia dalam Deklarasi ‘Menuju Sejuta Sertifikasi Halal Gratis bagi UMKM’ oleh Pemberdayaan Perempuan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Indonesia (PPUMI) tepat 28 Oktober, bersamaan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Dukungan banyak pihak pada deklarasi PPUMI tidak lepas dari upaya mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia pada 2024. Juga, guna mewujudkan Indonesia sebagai salah satu dari lima kekuatan ekonomi dunia pada 2045. UMKM dan perempuan diyakini banyak pihak akan menjadi kunci transformasi mencapai visi Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia mewakili Presiden Republik Indonesia menyampaikan bahwa UMKM Indonesia yang sebanyak 64,2 juta usaha secara nyata berkontribusi hingga 60,51% Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara dengan Rp 9.580 triliun.

Selain itu, sumbangsih sektor usaha ini juga ditunjukkan dengan daya serap hingga 96,92% tenaga kerja atau setara dengan 120,59 juta orang. Itulah sebabnya, sektor UMKM menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam agenda pemulihan ekonomi nasional.

Dari seluruh UMKM Indonesia, sebanyak 60% usaha dikelola oleh perempuan. Perempuan Indonesia memiliki rasio kepemilikan usaha lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia. Hal ini dapat dipahami mengingat setengah dari potensi sumber daya pembangunan Indonesia adalah perempuan. Sebanyak 53,6% perempuan Indonesia berada pada usia produktif dan Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk usia produktif terbesar di Asia hingga 191 juta jiwa.

Namun demikian, sangat disadari betapa banyak tantangan yang dihadapi UMKM dan perempuan untuk mendukung visi Indonesia. Untuk itu, mengombinasikan UMKM dan perempuan yang menjadi target PPUMI diharapkan menjadi langkah strategis untuk mengakselerasinya. Tentu nakhoda PPUMI di pusat dan daerah haruslah perempuan yang tidak sekedar tangguh, tetapi juga mampu menggerakkan dan mensinergikan berbagai modal sosial untuk mendorong pemberdayaan perempuan UMKM.

Nyi Eva, Wakil Bupati Sumenep

Kebanyakan masyarakat Sumenep mengenalnya sebagai Nyi Eva. Wakil Bupati Kabupaten Sumenep. Sebutan Nyi Eva lebih populer ketimbang Dewi Khalifah, nama aslinya.

Dewi Khalifah mendapat amanah memimpin PPUMI Jawa Timur. Pengalamannya sebagai Ketua Fatayat dan Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumenep, Ketua Ikatan Wanita Pengusaha (IWAPI) Kabupaten Sumenep, dan Ketua Bidang Ekonomi Majelis UIama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumenep menjadikan pelaku usaha UMKM, akademisi, jurnalis, dan profesional lainnya yang bergabung dalam PPUMI Jawa Timur sepakat menjadikan beliau sebagai nakhoda pemberdayaan perempuan UMKM Jawa Timur.

Profil perempuan UMKM Jawa Timur tidak begitu jauh berbeda dengan profil perempuan UMKM Indonesia. Sektor UMKM di Jawa Timur mendominasi hingga 98% dari seluruh aktivitas perekonomian dan perempuan mendominasi hingga 50% sektor UMKM di Jawa Timur. Pada Semester I 2021, sektor UMKM menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur sebesar 57,25%.

Meski eksistensi UMKM dan perempuan diakui pemerintah memiliki peran kunci dalam pemulihan ekonomi nasional dan mendukung visi Indonesia 2024 dan 2045, namun keduanya belum berkembang sebagaimana diharapkan.

Tantangan yang dihadapi perempuan UMKM di Indonesia maupun Jawa Timur masih dihadapkan pada soalan-soalan klasik, baik dari aspek internal maupun eksternal.

Secara umum, perempuan UMKM dihadapkan pada soalan dukungan dari keluarga atau suami, beratnya tanggung jawab rumah tangga yang ditanggung, sulitnya mengatur waktu antara usaha dan keluarga, norma agama dan kultural pada lingkungannya, pendidikan rendah, minim keterampilan, terbatasnya permodalan dan aksesnya, lemahnya jaringan usaha, terbatasnya akses pasar dan kemampuan penetrasi pasar, serta lifetime produk yang pendek.

Kehadiran PPUMI diharapkan dapat menjadi jembatan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk menjawab tantangan tersebut melalui pendampingan, program bantuan dana lunak, pelatihan, hingga membantu akses produksi, distribusi, dan pemasaran. Termasuk menyiapkan perempuan UMKM beradaptasi dengan digitalisasi dan membantu mengakses sertifikasi halal.

Mendukung Visi Indonesia 2024 dan 2045

Untuk menuju visi 2045, salah satu kunci utama mewujudkannya untuk Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia adalah melalui ekonomi syariah.

Oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk mencapai visi 2024. Indonesia tidak sekedar mencanangkan untuk menjadi Pusat Ekonomi dan Keuangan Syariah Dunia, tetapi juga menjadi Pusat Produsen Halal Dunia.

Ada empat strategi yang dilakukan pemerintah Indonesia.

Pertama, penguatan rantai nilai produk halal dengan fokus pada sektor yang dinilai potensial dan berdaya saing tinggi.

Kedua, penguatan sektor keuangan syariah.

Ketiga, penguatan sektor UMKM sebagai penggerak utama rantai nilai produk halal.

Keempat, penguatan pada bidang ekonomi digital, utamanya perdagangan dan keuangan.

Kehadiran PPUMI cukup strategis untuk turut andil dalam menghadapi tantangan strategi penguatan UMKM sebagai penggerak utama rantai nilai produk halal. Mengawalinya, pendampingan bagi perempuan UMKM untuk mengakses sertifikasi halal menjadi langkah logis.

Tidak bisa dipungkiri, ekonomi syariah dan industri halal saat ini telah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Banyak negara berpenduduk mayoritas non muslim juga menjadikan keduanya sebagai motor penggerak perekonomian.

Tentu saja ini bukan pekerjaan mudah bagi Jawa Timur. Dan ini tentu bukan pekerjaan Nyi Eva semata atau PPUMI Jawa Timur semata. Sinergi dan bahu-membahu antar para pemangku kepentingan menjadi jalan yang tidak terelakkan. Bekerja secara kolektif, gotong royong, berjamaah tentu akan membawa capaian yang jauh lebih baik, lebih cepat, dan lebih luas.

Menyimak rekam jejak kiprah Nyi Eva, saya pribadi menaruh harapan besar sekaligus kepercayaan bagi Bu Nyai Sumenep ini akan membawa perempuan UMKM Jawa Timur menjadi lebih berdaya.

“Ke depan, tugas kita masih banyak. Semoga niatan ibadah membantu UMKM menjadi kekuatan untuk kita semua dan dimudahkan Allah,” pesannya kepada para pengurus PPUMI Jawa Timur. Insya Allah…

*Dosen Tetap Prodi Ekonomi Syariah Pascasarjana dan FEBI UIN Kiai Haji Achmad Siddiq; Sekretaris I DPW IAEI Jawa Timur; Koordinator Ekraf PPUMI Jawa Timur

Editor: Freddy Mutiara

Artikel ini telah dibaca 153 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Gus Muhdlor: Kolaborasi Antar-Wilayah Harus Diperkuat untuk Dukung UMKM

4 Desember 2021 - 17:51 WIB

Penambangan Asteroid dan Bisnis Antariksa, Potensi Ekonomi Masa Depan(?)

4 Desember 2021 - 16:15 WIB

Gubernur Khofifah Pimpin Misi Dagang ke Maluku, 8 Jam Catat Transaksi Rp 232,74 Miliar

3 Desember 2021 - 05:49 WIB

Ketua DPD RI Optimis Impor Beras Bisa Dihentikan

2 Desember 2021 - 06:15 WIB

Pemprov Jatim Terima Bantuan 10.000 Paket Sembako dari Mayapada Group

2 Desember 2021 - 06:07 WIB

Ketua DPD RI: SDM Sektor Pertanian Jadi PR Besar Pemerintah

1 Desember 2021 - 16:06 WIB

Trending di Kempalanbis