PBB Khawatir terjadinya Kejahatan Kekejaman Massal di Myanmar Utara

waktu baca 2 menit
Junta Militer Myanmar-CNBC

PBB-KEMPALAN: Tom Andrews, Pelapor Khusus PBB untuk Myanmar pada hari Jumat (23/10) mengatakan dan mempresentasikan temuan laporan HAM tahunan tentang Myanmar kepada Majelis Umum PBB, yaitu ia telah menerima informasi bahwa puluhan ribu tentara dan senjata berat dalam perjalanan ke daerah yang sedang panas di Myanmar Utara dan Barat Laut. Ribuan tentara ini berkumpul di Utara negara Asia Tenggara yang telah berada dalam kekacauan sejak kudeta Februari.

Temuan ini juga menunjukkan adanya keterlibatan pemerintah militer dalam kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang di Myanmar. Andrews mengatakan, “Kita semua harus siap karena orang-orang di bagian Myanmar telah siap untuk kejahatan dan kekejaman secara massal yang akan lebih banyak. Saya sangat berharap bahwa saya salah.”

Menurut kelompok pemantau lokal, akibat adanya perbedaan pendapat ini lebih dari 1.100 warga sipil tewas dan lebih dari 8.000 ditangkap sejak adanya kudeta. “Taktik ini sangat mengingatkan dengan taktik yang digunakan oleh pemerintah militer sebelum serangan genosida terhadap Rohingya di negara bagian Rakhine pada 2016 dan 2017,” ucap Andrews.

Setelah pasukan keamanan melancarkan kekerasan yang menurut PBB mungkin sama dengan genosida, sekitar 740.000 orang Rohingya melarikan diri dari negara bagian Rakhine Myanmar pada tahun 2017. Pada hari Senin kepala militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, mengumumkan pembebasakn dari 5.000 orang yang dipenjara karena memprotes kudeta. Langkah ini dilakukan beberapa hari setelah ASEAN memberikan kecaman kepada rezim militer.

Utusan khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia mengkhawatirkan pecahnya perang saudara di negara itu. Andrews mengatakan seperempat juta orang telah ditelantarkan oleh pasukan militer Myanmar. Banyak dari mereka disiksa serta ditahan dan berujung oleh kematian. Andrews juga menambahkan ia menerima laporan terpercaya bahwa anak-anak juga telah disiksa.

(Aljazeera, Muhamad Nurilham)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *