PBB Sebut Kerja Paksa masih Terjadi di Kelompok Masyarakat Uighur

waktu baca 2 menit
Ilustasi Kerja Paksa-Borgen Magazine

PBB-KEMPALAN: Berdasarkan laporan dari badan PBB pada Jumat (11/2), disebutkan bahwa Tiongkok masih melakukan tindakan dan kebijakan diskrimintatif kepada semua masyarakat Uighur, seperti misalnya kerja paksa dan jam kerja yang panjang. Pihak PBB juga kemudian mendesak Tiongkok untuk segera menghentikan tindakan kerja paksa tersebut dan mulai menerapkan standar kerja global.

Laporan dari badan PBB yang bergerak di bidang buruh yaitu International Labour Organization (ILO) memberikan pernyataan bahwa Tiongkok telah melanggar banyak pasal dari Kebijakan Internasional Pekerja pada tahun 1964.

Laporan ILO tersebut terdiri dari 870 lembar halaman yang berjudul “Aplikasi Standarisasi ILO” dan berisikan tindakan tiap-tiap negara dalam mengaplikasikan rekomendasi dan kebijakan dari Kebijakan Internasional Pekerja tahun 1964.

Dalam laporan tersebut, terdapat beberapa negara seperti misalnya Kongo dan Afghanistan yang melakukan tindakan kekerasan seperti misalnya mempekerjakan pekerja dibawah umum, ketidaksetaraan hingga proteksi yang tidak memadai.

Kemudian dalam kaitannya dengan Tiongkok, laporan tersebut menyebutkan bahwa Tiongkok masih melanjutkan tindakan sistematisnya untuk melakukan kekerasan kepada masyarakat Uighur di Xinjiang.

Lebih dari 13 juta orang Uighur yang berada di Xinjiang menjadi target dari adanya kekerasan terhadap pekerja.

Tiongkok kemudian selalu memvalidasi tindakannya tersebut sebagai tindakan “Re-edukasi” hingga “De-ekstemisasi”.

Lalu dalam kekerasannya, semua pekerja Uighur yang ada di Xinjiang tidak mendapatkan gaji sedikitpun, meskipun terdapat peraturan nasional mengenai minimal gaji.

Menanggapi hal tersebut, PBB kemudian mendesak Tiongkok untuk dapat memberikam informasi yang transparan untuk dapat mencegah adanya tindakan kekerasan dalam pekerjaan.

(Muhamad Nurilham, Aljazeera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *