KEMPALAN: Bill Gates dan Sukmawati Soekarnoputra tidak ada hubungan sama sekali. Tetapi, dua nama itu beberapa waktu belakangan ini sedang ramai menjadi perbincangan media, meskipun skala dan kasusnya beda. Keluarga Gates menjadi viral internasional ketika putri pertamanya, Jennifer Katharine, menikah dengan seorang pemuda muslim secara ritual Islam. Sementara Sukmawati menjadi viral nasional karena akan pindah agama dari Islam ke Hindu.
Dua peristiwa itu berbeda dan terpisah puluhan ribu kilometer. Tapi, peristiwa itu punya benang merah yang menunjukkan bagaimana masyarakat di Amerika dan Indonesia memperlakukan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Agama adalah urusan privat yang sangat pribadi, dan tidak selayaknya menjadi konsumsi publik. Itu pandangan umum masyarakat Amerika dan Barat. Karena itu agama tidak menjadi perbincangan umum karena menyangkut privasi. Menanyakan agama seseorang adalah tabu sosial yang harus dihindari. Beragama dan tidak beragama menjadi hak perseorangan yang dihormati sebagai hak asasi manusia.
Masyarakat Amerika adalah masyarakat religius, meskipun secara formal Amerika adalah negara sekuler. Agama dipisahkan dari urusan negara, dan bahkan sekolah negeri tidak boleh mengajarkan pelajaran agama dan praktik keagamaan seperti berdoa.
Tapi, simbol-simbol agama memainkan peran penting dalam tatanegara dan tata politik Amerika. Sekadar contoh, mata uang dolar–yang menjadi simbol paling penting dalam praktik kapitalisme Amerika—mencantumkan motto ‘’In God We Trust’’, Kami Beriman kepada Tuhan, dalam setiap lembarnya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi