Pasalnya, menurut Evi, syarat dukungan 13 suara tersebut sebelumnya tidak pernah disosialisasikan ke pengurus Pemkot/Pemkab. Sehingga, ia menduga ada unsur kesengajaan agar tidak ada lagi yang maju sebagai bakal calon untuk menandingi Vincent Ngai.
“Kalau Vincent sudah didukung 22 suara, kan sisa suara cuma tinggal 11 suara. Tidak cukup bagi yang lain untuk mendaftarkan diri sebagai bakal calon,” ucap Evi yang juga anggota tim formatur Musorkot KONI Surabaya.
Evi juga mengancam akan melakukan protes bersama Pengkot/Pengkab pendukungnya jika aturan syarat dukungan tidak segera diubah.
“Mestinya syarat dukungan lebih lunak, supaya jumlah bakal calon yang maju bisa dua atau tiga, sehingga ramai,” tuturnya.
Evi sendiri mengaku tidak bisa berbuat banyak, mengingat waktu persiapan yang sangat mepet. Vincent sudah persiapan sejak setahun lalu, sedang dirinya baru Agustus 2021 kemarin setelah diminta maju oleh Ketua PP Perbasi, Dani Kosasih.
Evi didorong maju, karena dinilai berhasil saat menjabat sebagai Ketua Perbasi Kota Surabaya. Yakni,
mengawinkan gelar di Porprov VI 2019 di Gresik dengan merebut medali emas putra dan putri. Disamping itu, Evi dinilai mumpuni karena punya fasilitas latihan basket dan hotel.
“Saya mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Perbasi Jatim bukan mencari apa-apa, tetapi semata-mata karena ingin memajukan basket di Jawa Timur,” ungkapnya.
Sebab, lanjut Evi, dalam dua kali PON Jatim tidak pernah merebut medali emas. Pada PON XIX 2016 di Jabar, Jatim hanya mampu merebut medali perak dari tim putra. Sedang tim putri hanya kebagian medali perunggu.
Medali emas basket putra direbut tim Jawa Barat. Sedang tim putri direbut tim Jateng. (Dwi Arifin)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi