Senin, 1 Juni 2026, pukul : 22:42 WIB
Surabaya
--°C

Menunggang Kuda Tuli

Maksum

Oleh Maksum – Wartawan Senior

KEMPALAN: Apa gerangan perbedaan bangsa yang maju dan bangsa yang terbelakangan? Penguasaan ilmu dan teknologi? Sebagian saja. Tingkat pendidikan tinggi warganya? Sebagian saja.

Kemampuan menciptakan equity before the law –semua orang sama di depan hukum? Sebagian juga. Keberhasilan menciptakan tertib berpolitik alias demokrasi? Juga sebagian saja. Mempersempit perbedaan orang kaya dan orang miskin? Itu juga sebagian saja.

Lantas yang lain yang tak kalah mendasarnya? Cara menyikapi krisis sosial dan bencana alam. Kata Charles Elwood, ada perbedaan sangat prinsip  di antara bangsa-bangsa ketika mereka tertimpa bencana atau krisis besar.

Tetapi, kata ahli filsafat sosial ini, yang mencolok ialah ada bangsa yang dapat merespons bencana dengan nalar yang rasional, serta ada bangsa yang menyikapi bencana dengan nalar irasional. Bodoh atau sembrono.

Bangsa yang dapat merespons bencana atau krisis besar dengan nalar nasional akan berpandangan bahwa bencana yang menimpanya merupakan proses pengalaman dan pembelajaran.

Karena itu, mereka sadar bahwa setelah itu bencana serupa diikhtiarkan jangan terjadi lagi. Sekurang-kurangnya bisa melakukan antisipasi agar lebih siap untuk meminimalisasi risiko jika bencana serupa tak dapat dihindarkan terulang kembali di saat yang lain.

Produk cara pandang yang rasional ini bangsa tersebut lebih tatak, lebih sigap. Lebih cerdik menghadapi bencana. Mereka juga senantiasa mereproduksi skil, perlengkapan, sarana, serta disiplin melakukan konsolidasi guna menghadapi bencana serupa yang mungkin terjadi. Mereka punya falsafah: ‘’hanya kuda tuli yang bisa terperosok pada lubang sama.’’

BACA JUGA  Iduladha 1447 H: DPD PAN Sidoarjo Tebar 700 Kantong Daging Kurban, Sasar Ojol dan UMKM

Sikap sebaliknya ditunjukkan oleh bangsa-bangsa yang menyikapi bencana atau krisis besar dengan nalar irasional. Kata mereka bencana itu adalah produk alam dan kekuatan supranatural yang murka.

Manusia tak bisa melawannya, karena bencana bersifat mistis. Tak bisa diduga. Datangnya tiba-tiba. Produk dari nalar ini ialah mereka pasrah, apatis, dan terserah nasib dan takdir saja.

Karena itu, meskipun bencana selalu saja terjadi, cara mereka berpikir dan bertindak dari waktu ke waktu tetap saja. Mereka tak makin sigap, tak lebih cerdik. Juga tak lebih tatak menghadapi bencana serupa yang selalu terjadi. Falsafah mereka: ‘’semua sudah ada yang ngatur.’’

Mereka tak makin disiplin. Tidak pernah melakukan konsolidasi. Tak pernah mereproduksi skil, teknologi, dan sarana untuk pasang badan bahwa mereka bakal lebih siap menghadapi bencana serupa yang bakal menimpanya di kesempatan lain.

***

Pertanyaannya termasuk bangsa yang nalarnya rasional ataukah bangsa yang nalarnya irasional ketika saat ini kita tertimpa banjir bandang yang menelan banyak korban jiwa, harta, dan materi?

BACA JUGA  Memutus Tradisi Fraud: Gresik Sabet Rekor WTP 11 Kali Beruntun di Tengah Badai OTT Jawa Timur

Marilah kita simak kenyataannya. Hampir tiap tahun banjir kebakaran hutan menimpa banyak daerah dan wilayah. Hampir tiap tahun air bah yang masif ini meminta korban jiwa, harta, dan materi.

Sudahkah kita berubah? Apakah banjir besar telah menjadi pelajaran yang menyadarkan banyak orang? Apakah masyarakat kita makin lama makin mengambil pelajaran untuk tidak sembarangan membuang limbah? Tidak melakukan pengundulan kawasan penyangga yang dijadikan daerah resapan air hujan?

Ini baru masyarakatnya. Pemerintahnya? Apakah pemerintah daerah mau ambil pelajaran dari banjir bandang atau kebakaran hutan dengan makin disiplin menjaga tata ruang, tidak menggunduli hutan, atau tak merusak kawasan hijau?

Apakah pemerintah makin malu dengan sering terjadinya bencana banjir besar atau kebakaran hutan dan karenanya makin tegas menindak warganya yang membuang limbah, merusak hutan, dan tidak membangun pondok mewah di daerah resapan air hujan?

Rasanya, kita harus jujur mengatakan bahwa berbagai bencana banjir yang tidak tahun meminta korban jiwa dan harta, serta kebakatan hutan ibarat cermin raksasa tentang sikap,  mental, serta derajat disiplin bangsa ini.

Merespons berbagai bencana kita ibarat menunggang kuda tuli. Ndablek. Tak mau berubah. Karena itu, selalu terperosok pada lubang yang sama. Oooh nasib. (*)

Editor: Freddy Mutiara

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.