Jumat, 15 Mei 2026, pukul : 21:50 WIB
Surabaya
--°C

Hidup di Bui

‘’Apalagi penjara Tangerang
Masuk gemuk pulang tinggal tulang..’’

KEMPALAN: Penggalan bait lagu ‘’Hidup di Bui’’ itu populer pada dekade 1980-an. Dinyanyikan oleh grup band D’Lloyd, lagu itu bercerita mengenai kondisi buruk di penjara, khususnya di penjara Tangerang. Saking buruknya kondisi penjara, sampai digambarkan narapidana menjadi kurus kering tinggal tulang ketika keluar dari penjara.

Kondisi LP Tangerang sekarang, mungkin, tidak seburuk yang digambarkan D’Lloyd. Mungkin tidak ada narapidana yang keluar dari penjara Tangerang tinggal tulang. Tapi, tragedi kebakaran LP Tangerang–yang mengakibatkan 44 orang narapidana tewas terpanggang–mengungkit kembali memori buruk yang digambarkan lagu ‘’Hidup di Bui’’.

‘’Hidup di bui bagaikan burung, Bangun pagi makan nasi jagung, Tidur di ubin pikiran bingung, apa daya badanku terkurung. Terompet pagi kita harus bangun, makan diantri nasinya jagung, tidur di ubin pikiran bingung, apa daya badanku terkurung.’’

‘’Oh kawan, dengar lagu ini, hidup di bui menyiksa diri, jangan sampai kau mengalami, badan hidup terasa mati. Apalagi penjara Tangerang, masuk gemuk pulang tinggal tulang, karena kerja secara paksa, tua muda turun ke sawah’’.

Itu adalah versi asli lagu yang diciptakan oleh almarhum Bartje van Houten. Rezim Orde Baru marah oleh lirik lagu itu dan melarang peredarannya. Pencekalan dicabut setelah D’Lloyd merevisi bagian akhir bait lagu itu. ‘’Penjara Tangerang’’ diganti dengan ‘’Penjara zaman Jepang’’. Tapi versi asli lagu itu masih sering beredar diam-diam dalam bentuk kaset.

Kondisi buruk di penjara sudah menjadi rahasia umum. Kebakaran LP Tangerang menjadi kulminasi buruknya kondisi itu. Sebuah penjara yang mestinya hanya berkapasitas 600 orang narapidana, harus disesaki oleh lebih dari 2000 narapidana. Dengan kelebihan kapasitas sampai 400 persen, tentu bisa dibayangkan bagaimana buruknya kondisi LP itu.

Penjara Tangerang masuk kategori kelas satu, tidak termasuk dalam kategori penjara yang berskala besar. Luasnya tidak sampai ribuan hektar. Letaknya di tengah kota, dekat dengan fasilitas pemadaman kebakaran. Kalau manajemen tanggap terhadap bencana, seharunya tragedi ini tidak terjadi. Kedatangan pasukan pemadam kebakaran bisa lebih cepat, persiapan hidran air bisa lebih baik, dan para sipir jaga bisa lebih sigap mengatasi keadaan darurat.

Kebakaran yang terjadi dinihari (8/9). Petugas terlihat tidak siap menghadapi situasi emergency. Api sudah telanjur membesar di Blok C, yang ditinggali pada narapidana narkoba. Ratusan orang terkunci di dalam, dan petugas panik dan tidak bisa lagi membuka pintu sel. Tinggallah para narapidana itu meregang nyawa terpanggang hidup-hidup.

Menteri hukum dan HAM, Yasonna Laoly, dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kelalaian yang memilukan dan memalukan ini. Suara publik sangat keras menuntut agar Yasonna mundur dari jabatannya. Beberapa politisi juga menyuarakan tuntutan serupa, Yasonna harus mundur untuk mempertanggungjawabkan tragedi fatal ini.

Kalau peristiwa ini terjadi di negara lain, sudah pasti menterinya sudah mundur. Kalau tragedi ini terjadi di Jepang, bisa-bisa menterinya melakukan hara-kiri, bunuh diri karena malu. Kejadian seperti ini bisa membuat sebuah pemerintahan jatuh, karena mendapat mosi tidak percaya dari partai-partai pendukung.

Tapi, di Indonesia yang terjadi malah pada sibuk menerapkan prokes, dengan cuci tangan dan melempar kesalahan kesana-kemari. Yang dilakukan adalah mencari kambing hitam untuk mengalihkan perhatian dan tanggung jawab. Tidak ada tanggung jawab yang kongkret dari orang-orang yang ada di puncak hirarki.

Tragedi ini sungguh tidak tertanggungkan oleh sanak keluarga korban. Seorang ibu menangis sampai pingsan karena anaknya menjadi korban meninggal, padahal sebulan lagi sang anak harusnya menghirup udara kebebasan. Yang terjadi kemudian sang anak mati gosong menghirup asap api kebakaran.

Sebuah penjara, yang kapasitasnya melebihi kemampuan sampai empat kali lipat, tentu tidak bisa menjamin keamanan dan kenyamanan. Kondisi buruk ini sudah menjadi rahasia umum. Bait lagu D’Lloyd yang jadul itu menjadi gambaran yang sampai sekarang masih relevan.

Seniman Arswendo Atmowiloto menceritakan kondisi penjara dalam memoirnya ‘’Menghitung Hari: Hikmah Kebijaksanaan dalam Rumah Tahanan/Lembaga Permasyarakatan’’. Wendo pada 1990 dihukum lima tahun karena kasus penistaan agama.

Buku ini berkisah mengenai pengalaman hidup di dalam penjara, baik yang dialami langsung oleh Wendo, maupun yang dilihatnya pada teman-temannya sesama penghuni penjara. Wendo juga mengutip cerita-cerita yang didengarnya dari pada sipir dan keluarga tahanan yang melakukan bezuk.

Wendo, seorang seniman, penulis, dan wartawan yang kreatif, bisa mengubah kondisi buruk menjadi cerita yang terdengar mengasyikkan. Ada kepahitan, kegetiran, kesedihan. Tetapi semua dibungkus dengan humor yang renyah khas Wendo. Menertawakan diri sendiri, menertawakan semua absusrditas yang dialaminya sehari-hari, semuanya menjadi kekuatan yang membuat Wendo bisa bertaha selama lima tahun dan tetap waras akalnya ketika bebas.

Wendo menjalani sekolah di penjara yang pengap dan sesak dengan semua keterbatasan. Tapi dia tidak mau kehilangan rasa humornya. Humor itulah yang menjadi senjatanya untuk bertahan hidup. Humor menjadi seni tersendiri, the art of survival, untuk bertahan hidup di penjara.

Kisah-kisah yang diceritakan Wendo dalam kehidupan di penjara penuh dengan anekdot, tapi juga sarat dengan perenungan yang mendalam. Pada saat diadili di pengadilan, Wendo menggambarkan perasaannya dengan jenaka, ‘’Menjadi terdakwa di pengadilan tak ubahnya seperti menjadi pengantin, diam disangka angkuh, banyak senyum dituduh tidak serius, bersikap serius disangka tegang. Bersikap santai disangka meremehkan. Persamaan lain, di situlah nasib kita ditentukan, buntung atau beruntung’’.

Bagi Wendo, orang yang hidup di penjara mempunyai kelebihan dibanding orang yang bebas diluar. ‘’Kelebihan orang-orang di dalam penjara dibandingkan mereka yang bebas di luar adalah bahwa yang di dalam lebih mudah membayangkan apa yang terjadi di luar, sedangkan yang di luar tidak punya banyak bahan untuk membayangkan hidup di dalam’’.

Mengenai menu makanan yang ‘’seadanya’’, Wendo menulis, ‘’Bumbu terlezat dalam setiap masakan adalah nafsu makan dan rasa lapar’’. Apapun makanan yang disajikan akan dilahap karena kelaparan.

Soal hubungan seks di dalam penjara, Wendo menggambarkannya dengan jenaka. ‘’Bagi waria hidup di penjara menjadi dilema, omset banyak tapi penghasilan tidak ada. Meskipun sangat dibutuhkan di dalam, tapi waria tetap lebih baik hidup di luar’’.

Orang-orang yang masuk penjara disebut dengan nada meledek sebagai ‘’masuk sekolah’’. Bagi Wendo, penjara memang betul-betul sekolah yang membuatnya makin pintar dan bijaksana. Ia bisa melihat realitas sosial yang sesak dan sedih di dalam penjara, dan dia belajar banyak dari berbagai macam penderitaan yang dirasakan para narapidana.

Yang namanya sekolah di mana-mana selalu mahal. Pemerintah yang katanya mau memperbaiki kondisi ‘’sekolah penjara’’ pasti selalu terbentur alasan anggaran. Menyekolahkan seseorang ke penjara jauh lebih mahal daripada menyekolahkan seseorang ke univeritas.

Itu adalah ironi yang bisa membuat tangis atau tawa. Daripada mengirim anak muda ke penjara lima tahu karena narkoba, biayanya lebih dari cukup untuk membayar beasiswa sebagai mahasiswa sampai lulus.

Studi itu dilakukan di Amerika, dan sudah terbukti bahwa biaya tiap orang dalam penjara jauh lebih mahal dibanding biaya untuk memberi beasiswa kepada seorang mahasiswa. Karena itu di Amerika ada ungkapan ‘’It’s cheaper to send a kid to Yale than send a kid to jail’’ (Lebih murah biaya mengirim seorang anak ke Universitas Yale daripada biaya anak di penjara). Yale adalah salah satu universitas paling top di Amerika.

Message-nya adalah, daripada menghabiskan uang untuk membangun penjara, lebih baik membangun sistem pendidikan yang bagus dan murah yang bisa dijangkau oleh semua warga negara. Kalau anak-anak lebih terdidik, angka kriminalitas akan turun.

Bagi pemerintah, terutama Menteri Yasonna Laloy, dengarkan nasihat Wendo, ‘’Jangan pernah menasihati napi supaya sabar, tetap tabah, kuatkan hati, dan kata-kata hiburan sejenis itu. Mereka telah memiliki lebih banyak dari yang seharunya’’.

Satu lagi nasihat Wendo yang mak jleb. ‘’Tidak semua yang ada dalam penjara adalah napi, dan tidak semua napi ada di dalam penjara’’. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.