JAKARTA-KEMPALAN: Euforia keberhasilan Indonesia membawa pulang dua medali emas, tiga perak, dan empat perunggu dari ajang Paralimpiade 2020 Tokyo masih terasa. Padahal event itu sudah berakhir 5 September lalu.
Sebagai satu-satunya paralimpian Indonesia yang terlibat di balik dua medali emas dalam ajang di Tokyo ini, atlet para badminton Leani Ratri Oktila pun membagi kiat kesuksesannya. Itu terkait bagaimana Ratri (begitu dia disapa) bisa mencapai final dalam tiga nomor berbeda.
Yaitu pada nomor tunggal putri SL4, ganda putri SL/SU berpasangan dengan Khalimatus Sadiyah, dan ganda campuran SL/SU berpasagan dengan Hary Susanto. Medali emas dia dapat di nomor ganda putri SL/SU dan ganda campuran SL/SU.
Sedangkan, di nomor tunggal putri SL4 Ratri harus puas hanya membawa pulang medali perak. Setidaknya, bermain dalam laga beratmosfer final selama kurun waktu 24 jam sudah jadi capaian terbaiknya.
’’Rahasianya? Saya hanya berusaha membagi fokus saya. Event (pertandingan) terdekat jadi fokus saya yang pertama. Saya menjalaninya satu per satu,’’ ungkap Ratri dalam obrolan di Live Instagram akun platform pendidikan dan karir @dididikcom, Selasa (7/9).

Kebetulan, ketika laga-laga puncak Paralimpiade kemarin dia terlebih dahulu berhadapan dengan tekanan final ganda putri SL/SU maka dia pun fokus penuh ke nomor tersebut. ’’Saya tak mau fokus saya terpecah-pecah,’’ lanjutnya.
Sebenarnya, sebelum dia kehilangan peluang memenangi emas di tunggal putri, fokusnya sudah 100 persen untuk mengalahkan atlet para badminton dari China Cheng Hefang. Sayangnya energinya sudah lebih dulu dihabiskan untuk tes doping setelah memenangi emas ganda putri.
Menurut atlet para badminton berusia 30 tahun itu, kalau membagi fokus dalam sebuah turnamen memang tidak sulit. ’’Yang paling susah itu ya ketika harus membagi waktu latihan,’’ tutur atlet kelahiran Bangkinang, Riau itu.
Diakui Ratri, sebelum berangkat ke Tokyo dirinya memang langsung dibebani bermain di tiga nomor sekaligus. Sebelumnya, atlet yang mengawinkan medali emas ganda putri dan ganda putra Asian Para Games 2018 lalu itu lebih banyak bermain di nomor tunggal. Meski, terakhir dia mempersembahkan emas di multievent saat ASEAN Para Games 2015 di Singapura. (Yunita Mega Pratiwi)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi