SIDARJO-KEMPALAN : Berbagai organisasi profesi (OP) kesehatan di Sidoarjo melakukan hearing di ruang rapat paripurna DPRD Sidoarjo, Jumat (6/8), untuk menyampaikan berbagai persoalan dan keluh kesah masyarakat yang terdampak baik secara kesehatan, ekonomi, dan sosial akibat pandemi Covid-19.
Organiasi profesi tersebut diwakili oleh pimpinan daerah Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) dan Rumah Sehat Sidoarjo (RSS)
Ketua IBI Sidoarjo Sri Mei Winardiati mengungkapkan bahwa telah banyak anggota yang kehilangan nyawa karena ditolak rumah sakit. Bahkan menurutnya ada bidan yang tengah mengandung anak kembar yang gugur.
“Kami sudah berusaha memberikan yang terbaik tanpa mendapatkan tambahan penghasilan. Apa iya kami juga harus menyerahkan nyawa. Tolong, kami hanya butuh akses itu. Kalau bisa berikan juga akses yang sama untuk para ibu hamil yang akan melahirkan,” harapnya.
Lebih lanjut bidan yang masih aktif bertugas di Puskesmas Medaeng Waru Sidoarjo ini menambahkan dari 1500 Bidan 204 di antaranya terpapar Covid-19 serta 13 Bidan meninggal dunia.
Tidak jauh beda dengan IBI, Nasib menyedihkan juga di alami pemilik Rumas Sehat drg. Dwi Wahyu Indrawati Mkes. Relawan yang punya rumah sehat untuk Isoman ini justru mendapatkan perlakuan yang lebih menyesakkan. Rumah sehat yang didirikan untuk membantu warga masyarakat yang isoman dengan fasilitas semua gratis bagi warga yang isoman ditolak oleh warga setempat dengan beragam alasan.
Menurut Dokter gigi Dwi Wahyu Indrawati selama Rumah sehat ini di dirikan sejak merebaknya Covid-19 lalu sudah 50 lebih warga masyarakat yang menjalani isoman di rumah sehat miliknya. “Hingga saat ini rumah sehatnya masih merawat sekitar 4 pasien yang isoman,” ujarnya.
Sedangkan Ketua IDI, dr. Edy memberikan solusi untuk penanganan covid ini dari hulu hingga ke hilirnya. Diantaranya menggelar lomba disiplin prokes tingkat desa yang nantinya diharapkan bisa merangsang warga desa untuk saling berkompetisi.
Ia juga menyarankan untuk lebih memasifkan tracing dan testing. “Alatnya murah koq, cuma Rp 40 ribu. Kalau belinya banyak, pasti harganya bisa turun lagi. Kalau PCR memang agaj mahal, tapi Rapid Antigen saja sudah cukup,” katanya.
Selain itu, ia mendorong Pemkab Sidoarjo untuk membangun rumah sakit khusus infeksi agar bisa menampung semua pasien yang masuk. “Atau setidaknya covid centrelah seperti yang diusulkan sahabat saya dr Wiyono (anggota fraksi PDI Perjuangan DPRD Sidoarjo-red,” pungkasnya.
Mendengar keluhan dari para Organisasi Profesi (OP) Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo, Dhamroni Chudlori merasa terharu. Ia pung menyampaikan dirinya siap untuk memperjuangkan mereka. “Kalau perlu Ngluruk ke bupati sidoarjo sebagai orang nomer satu di bumi jenggolo ini,” ujarnya.
Bahkan Komisi D DPRD menyatakan siap berada di garis terdepan jika anggota dewan dan juga para pimpinan Organisasi Profesi (OP) Kesehatan merasa perlu untuk menyampaikan aspirasinya secara langsung pada bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali.
“Saya sendiri yang akan pimpin ke pendopo kalau persoalan penanggulangan Covid ini tidak segera ditindaklanjuti oleh Pemkab atau Gugus Tugas,” ucapnya tegas di forum rapat koordinasi (rakor) antara Komisi D dengan OP Kesehatan di ruang rapat paripurna DPRD Sidoarjo, Jumat (06/08) siang.
Kalimat itu disampaikan untuk merespon pernyataan dari salah satu anggota Komisi D, Aditya Nindyatman. “Saya minta forum ini memberikan ultimatum pada penguasa Sidoarjo agar merespon hasil pertemuan ini maksimal tiga hari ke depan,” tandas legislator PKS itu.
“Seharusnya Pemkab yang menyelenggarakan acara seperti ini. Dan forum seperti inilah yang kami tunggu-tunggu,” tandas Wakil Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga PPNI Sidoarjo, Muhaimin yang dibenarkan peserta rakor lainnya.
Ditambahkannya, sampai saat ini belum ada langkah kongkrit dari Pemkab Sidoarjo terkait penanganan Covid-19. “Banyak warga Isoman yang meninggal dunia karena tidak dapat akses ke rumah sakit. Di pintu IGD saja sudah ada tulisan besar-besar ‘Tidak Terima Pasien’. Dan itu juga menimpa anggota kami yang katanya berada di garda terdepan,” katanya dengan nada tinggi. (Ambari Taufiq)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi