Jumat, 12 Juni 2026, pukul : 14:35 WIB
Surabaya
--°C

Messi dan Neo-Kapitalisme Global

KEMPALAN: Seorang anak kecil dari sebuah desa miskin di Spanyol bernama Santiago, mengembara menyeberangi padang pasir dan lautan mencari seorang ahli kimia yang bisa mengubah sebongkah batu menjadi emas.

Santiago berjalan jauh meninggalkan masa lalunya yang pahit. Ia bertemu dengan berbagai macam orang, menghadapi berbagai macam kekerasan dan penderitaan. Tapi, Santiago juga menemukan cinta dan kasih sayang dari seorang kekasih. Ujung pengembaraan membawa Santiago pada piramida besar, dan disitulah dia menemukan emas kehidupan.

Sebuah perjalanan panjang untuk menemukan ‘’Sang Alkemis’’ membawa Santiago kepada inti kehidupan. Bahwa ketika engkau mencita-citakan sesuatu, dan engkau menginginkannya dengan amat sangat, lalu engkau bekerja keras untuk mencapainya, maka seluruh semesta alam akan bekerja untuk mendukungmu, mewujudkan mimpimu menjadi kenyataan.

Bendera Katalan dalam derby El Clasico

Novelis Brazil Paulo Cuelho menuliskan kisah pengembaraan Santiago itu dalam novel klasik ‘’The Alchemist’’, sang ahli kimia, yang sekarang sudah menjadi klasik. Kisah mengenai kuatnya cinta dan cita-cita yang bisa menyatukan alam, telah menginspirasi puluhan juta manusia di seluruh penjuru dunia. Apa pun bisa dicapai oleh mereka yang berkeinginan kuat untuk mengubah hidupnya. Alam semesta akan bekerja untuk mereka yang hidup demi cinta dan cita-cita.

Lionel Messi adalah Si Santiago. Si anak miskin sakit-sakitan yang fisiknya tumbuh lebih lambat dibanding anak-anak kampung seusianya. Karena badannya yang kecil dan kurus, ia menjadi sasaran rundungan teman-teman mainnya. Bahkan, kakak kandungnya sendiri membully dengan menjulukinya ‘’La Pulga’’ alias Si Kutu.

Lionel, Si Kutu, menyimpan cita-cita dan kekuatan dahsyat seperti Santiago. Ia ingin meninggalkan kampungnya yang miskin. Ia ingin meninggalkan masa lalunya yang kotor dan sakit. Ia ingin mencari formula untuk mengubah bongkah batu menjadi emas.

Ia menjadi kembara menyeberangi hamparan padang pasir dan lautan, membawanya ke La Massia yang mendidik dan mengasah bakat sepak bolanya. Para pelatih di Akademi Barcelona itu melihat potensi dahsyat yang tersimpan di balik tubuh kurus dan kaki rapuh Messi.

Badannya terlalu kurus dan tumbuh lambat karena kekurangan hormon pertumbuhan, yang dibutuhkan seorang anak supaya bisa tumbuh normal. Tim dokter di La Massia dengan sabar menyuntikkan hormon tiap hari ke tubuh Messi untuk membuatnya tumbuh kuat seperti teman-teman seangkatannya di akademi.

Messi berhasil mengatasi penyakitnya dan tumbuh normal. Bakat emasnya sudah tampak jelas dan membuatnya bersinar cemerlang melebihi teman-temannya. Messi kemudian dipromosikan ke tim senior Barcelona FC. Disitulah kemudian Messi bertemu ‘’The Alchemist’’ Si Tukang Sulap ahli Kimia, Josep ‘’Pep’’ Guardiola. Selanjutnya yang terjadi adalah sejarah.

Tangan ajaib Pep menyentuh Messi menjadi bongkahan emas. Tepat di awal milennium baru tahun 2000, Messi dan Barcelona mengawali milennium baru yang menjadi tonggak sejarah sepak bola, yang belum pernah dialami Barcelona sepanjang satu abad eksistensinya.

Pep adalah Sang Alkemis yang menghasilan formula emas dengan teknik tiki-taka yang mengguncangkan dunia. Bersama Messi ada Xavi Hernandes dan Andreas Iniesta yang menjelma menjadi trio paling ditakuti di dunia. Siapa pun, pemain belakang terhebat macam apapun di dunia, pasti akan gemetar menghadapi trio maut ini.

BACA JUGA  Dominasi dan Ironi Sidoarjo: Tim Putra Polresta Tekuk Raksasa Surabaya, Tim Putri Tumbang

Messi mempersembahkan bongkahan emas untuk Barcelona berupa kemenangan La Liga, Piala Super, Empat kali juara Liga Champions, dan juara dunia antar-klub. Messi Si Kutu yang sakit-sakitan, berubah menjadi manusia ajaib di lapangan sepak bola yang mengguncangkan Eropa dan dunia.

Dia menjadi pemain sepak bola terbaik di dunia dengan memenangkan enam kali penghargaan Balon d’Or. Dan, tahun ini dia berpeluang besar memenangkannya untuk kali ketujuh, sekaligus mengunci persaingannya dengan Ronaldo yang menjadi rival abadinya. Keberhasilan Messi membawa Argentina menjadi kampiun Amerika, membuat langkahnya makin terbuka untuk memenangkan Ballon d’Or tahun ini.

Kehebatan skillnya membuat orang tidak percaya bahwa Messi adalah manusia biasa. Jangan-jangan dia manusia planet yang menyamar menjadi manusia biasa. Jangan-jangan anak ini adalah Clark Kent, Si Superman, yang lahir di Planet Krypton, lalu dikirim untuk menyelamatkan dunia. Jangan-jangan Messi ini adalah Superman yang menyamar menjadi Clark Kent, wartawan yang terlihat kikuk dan grogi.

Messi adalah keajaiban dan mukjizat di dunia sepak bola. Hanya Ronaldo yang bisa menyaingi kehebatannya. Dua pemain itu menjadi yang terhebat di dunia melalui mazhab yang berbeda. Messi adalah mukjizat yang turun dari langit. Ronaldo adalah mesin mekanik yang kuat karena program latihan.

Messi dikaruniai bakat dan kemampuan planet. Sementara Ronaldo adalah robot cyborg yang tubuhnya penuh dengan mesin, yang menjadikannya manusia super melewati ambang batas kemampuan manusia normal. Messi hebat karena bakat, Ronaldo dahsyat karena diasah oleh latihan berat.

Kini di usia yang sama-sama mulai senja, Ronaldo masih terus berlari. Messi juga masih akan terus berlari. Ronaldo 37 tahun dan sudah harus bersiap untuk memasuki masa purnawira. Messi 34 tahun dan masih punya cukup waktu untuk mengejar bongkahan-bongkagan emas lainnya.

Messi masih akan berkesempatan untuk memenangkan lebih banyak piala. Kalau dia pergi ke Prancis bersama Paris Saint Germain, dia akan dengan mudah memenangkan League 1. Dia akan membentuk partnership impian bersama sahabat karibnya Neymar Junior. Masih ada Killian Mbappe dan Sergio Ramos yang akan menjadikan PSG sebagai the dream team. Mereka punya potensi besar merajai Eropa dan memenangkan Liga Champions.

Messi masih punya harapan untuk berreuni dengan Pep Guardiola di Manchester City. Itulah impiannya sebelum pensiun menutup karirnya. Ia ingin kembali bergabung dengan Sang Alkemis. Tapi sayang, kesempatan itu menipis. Pep salah strategi karena tidak mengantisipasi perkembangan Messi di Barcelona.

Pep telanjur membeli Jack Grealish dengan menggelontorkan 100 juta pound. Angka yang terasa berlebihan untuk Grealish. Jumlah itu rasanya cukup besar untuk menarik Messi dari Barcelona. Pep masih punya seratus juta pound lagi untuk membali Harry Kane yang sudah kadung sepakat pribadi untuk pindah ke Manchester City. Kesempatan untuk berreuni dengan Messi makin sempit meskipun belum tertutup.

Masih ada Chelsea yang juga ingin menarik Messi. Roman Abramovich tidak akan kesulitan merogoh koceknya, berapapun besarnya, untuk bisa menarik Messi. Kesempatan masih tetap terbuka, tapi Messi tampaknya akan lebih suka bermain di liga Prancis daripada di Inggris, yang keras dan cuacanya yang tidak bersahabat.

BACA JUGA  Sisi 'Gila' Hot Moms Ponorogo Jinakkan Aksara Cemas Lewat Seni Tarung Premium

Messi akan tetap dikenang di Barceloa selama-lamanya. Perjalanan hidupnya yang begitu panjang dan dalam di Barcelona, seharusnya, mengikatnya di klub itu sampai akhir hayatnya. Bagi Barcelona, Messi Sang Mesias, bukan hanya ikon sepak bola. Ia adalah ikon nasionalisme bangsa Katalan yang terus berusaha memperjuangkan kemerdekaan dari rezim Spanyol yang berpusat di Madrid.

Karena itu, derby El Clasico Barcelona melawan Real Madrid, bukan sekadar derby pertandingan sepak bola. El Clasico adalah persaingan politik antara dominasi pusat yang dianggap otoriter melawan kekuatan daerah yang ingin lepas dari hegemoni.

Selama dua dasawarsa, Messi adalah bagian dari perjuangan politik rakyat Katalan dan menjadi ikon perjuangan itu. Messi sudah bertekad untuk menjadi bagian dari Barcelona selama karisnya. Tetapi, pandemi global merusak segalanya. Barcelona tidak punya cukup uang untuk mengikat Messi. Barcelona harus menggadaikan seluruh asetnya selama 50 tahun untuk bisa membayar Messi sampai lima tahun kedepan.

Itulah profesionalisme dalam sepak bola modern. Sepak bola adalah bagian dari neo-kapitalisme global. Di situ uang bicara, money talks. Olahraga tidak lagi menciptakan jiwa yang sehat dan obat stres manusia dalam menjalani kehidupan. Olahraga sudah menjadi medan pertempuran yang melibatkan banyak kepentingan, mulai dari persoalan sosial, ekonomi, budaya, gender, rasisme, nasionalisme, dan yang terutama adalah perebutan kekuasaan dan dominasi modal. Bahkan lebih jauh, olahragapun menjadi sebuah permainan yang menjadi mesin penghasil uang raksasa.

Messi (kanan) bersahabat akrab dengan Neymar (kiri)

Walter Lafeber dalam “Michael Jordan and the New Global Capitalism” (2013) mengungkap persilangan dunia olahraga dengan kapitalisme global. Michael Jordan dan Chicago Bulls adalah dua institusi yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya berpadu dan berkolaborasi menjadi mesin uang raksasa.

Jordan adalah anak miskin berkulit hitam yang lahir di daerah kumuh di Brooklyn, New York. Satu-satunya harapan untuk lepas dari kemiskinan adalah olahraga basket. Bakatnya yang luar biasa membawanya bermain untuk Chicago Bulls yang legendaris.

Lafeber mengungkap wacana kapitalisme dan globalisme, yang bertumpu pada peran media massa dan industri periklanan dalam menciptakan sang maha bintang Michael Jordan. Kisah hidupnya kemudian digabungkan dengan cerita-cerita yang fantastid mengenai pertentangan ras, kehidupan pribadi seorang bintang, serta suasana dramatis dalam pertandingan.

Basket menjadi olahraga yang memiliki popularitas yang sangat cepat dan mudah dijual. Basket menjadi industri triliunan dolar, yang bisa menyulap anak-anak kulit hitam yang miskin menjadi manusia super yang dipuja-puja. Pada akhirnya uang dan modal yang berbicara.

Leonel Messi adalah Michael Jordan di dunia sepak bola. Olahraga itu membawa Messi menuju puncak dunia, dan pada akhirnya dia harus berpisah dengan Barcelona karena uang tidak lagi tersedia.

Pandemi global telah menghancurkan bisnis sepak bola global. Bahkan klub sebesar Barcelona pun nyaris bangkrut dibuatnya. Barcelona tidak mampu membayar Messi, dan tidak ada pilihan lain, kecuali harus mengikhlaskannya pergi. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.