Judul buku: Immunodemocracy
Penulis: Donatella Di Cesare
Peresensi: Rosdiansyah*
Penerbit: Semiotexte, MIT Press, US
Tebal: 85 halaman
Cetakan: Pertama, 2021
KEMPALAN: Pandemi tiba-tiba membuat segalanya muram, kelam, masa depan tampak kusam. Musim panas Roma tahun 2020 yang biasanya indah semarak mendadak sepi. Meja-meja kedai tak lagi menghiasi jalanan kota. Sepi merayap di berbagai sudut kota. Senyap, tak ada lagi canda gelak tawa. Kesunyian menyusul pernyataan resmi pemerintah untuk mengunci warga ke dalam kediaman masing-masing.
Donatella Di Cesare, sang filsuf politik avant-garde Italia, termasuk warga yang harus melihat suasana serba spontan ini. Jauh sebelum pandemi tiba, nama Di Cesare kondang melampaui negerinya. Ia biasa hadir dalam aneka forum membahas isu-isu politik mutakhir. Uraiannya sangat ditunggu publik. Ketajaman analisa Di Cesare menjadi semacam panduan publik melihat situasi tak hanya terpaku pada peristiwa demi peristiwa.
Jika tragedi gedung kembar 9/11 telah membuat ‘shock’ banyak orang, lalu mereka jadi was-was, maka kehadiran virus Corona menjadikan manusia lebih was-was lagi, karena manusia sebagai korban bisa dimana-mana. Tak dibatasi kawasan.
Virus mampu menembus batas geografis. Korban pun berjatuhan. Tertular lalu sembuh, tapi banyak juga yang terinfeksi, selanjutnya meninggal. Angka-angka saling berkejaran dengan waktu. Para penyintas dipercaya sudah punya kekebalan (imunitas) terhadap virus. Mereka ini kemudian menjelma jadi para ‘elit’ kebal virus. Darah mereka pun dibutuhkan untuk penyembuhan bagi yang sakit.
Itulah teror virus asfiksia, tulis Di Cesare. Meski Di Cesare bukan pakar medis namun pelabelan virus COVID-19 sebagai virus asfiksia ada benarnya. Alasannya, virus ini menghambat suplai oksigen kebutuhan tubuh, mengakibatkan fatalitas. Bernafas tak lagi bebas. Ada ancaman virus. Sekali virus masuk ke tubuh inang, maka ia mulai melakukan segalanya guna bertahan.
Pelan namun pasti proliferasi virus dalam tubuh segera mengganggu inang. Menciptakan bukan sekadar krisis, melainkan ‘a slowmotion catastrophe’ (katastrofi yang bergerak lamban). Kapitalisme lanjut sudah merampas kebebasan personal, kini ditambah lagi virus yang mengancam kebebasan manusia bernafas. Ini bukan lagi metafor. Ini nyata, kehadiran virus mengubah segalanya.
Di Cesare lantas mengaitkan kehadiran itu pada proses involusi pembangunan yang tak lagi bisa kembali ke masa silam. Proses yang berasal dari sistem ekonomi dunia yang tidak adil, menciptakan kelaparan, ketidakadilan sosial bahkan horor, serta menghabiskan sumberdaya alam. Lalu, tiba-tiba virus mengguncang juga segalanya.
Inilah situasi pertama kali dalam abad 21 ketika krisis berasal dari luar sistem ekonomi. Selama ini selalu dipahami bahwa krisis kapitalisme berasal dari dalam dirinya sendiri. Virus tampaknya jadi korektor. Lantas, Di Cesare pun mempertanyakan anggapan selama ini bahwa pandemi menciptakan peluang. Baginya, itu sekadar pelipur lara. Kenyataan menunjukkan virus mampu mengoyak tubuh sedemikian rupa sehingga manusia pun terpuruk dari roda perekonomian.
Buku ini berisi 16 esai Donatella Di Cesare, filsuf perempuan yang mengajar di Universitas Sapienza Italia. Ditulis prolifik, mengalir sekaligus menawarkan tafsir filosofis situasi saat ini. Sentuhan hermeutis menyibak makna dibalik peristiwa sangat terasa sejak halaman pertama buku ini. Ia blak-blakan memblejeti situasi. Ibarat tubuh, kapitalisme tersedak virus, menghambat asupan oksigen ke seluruh bagian tubuh. Sehingga fungsi-fungsi kapitalisme jadi melempem, kurang gairah, tanpa tenaga, oksigen tiada.
Apalagi demokrasi. Bagi Di Cesare, demokrasi mempertautkan pada komunitas dan imunitas. Sebagai murid langsung pakar hermeneutika kritis Hans-Georg Gadamer, Di Cesare gampang membongkarnya. Contoh kongkret, demokrasi tak berkutik menghadapi virus rasisme. Virus ini sudah laten berabad-abad dalam kehidupan politik umat manusia. Walau sistem politik sudah bergeser dari monarki ke demokrasi, virus rasisme tetap abadi malah sukses membangun diskriminasi.
Immunitarianisme menjadi kata kunci Di Cesare mengkritisi demokrasi. Adalah filsuf Italia Roberto Esposito yang melihat lawan dari komunitas adalah imunitas. Dengan brilyan, Esposito merujuk pemaknaan awal kata imunitas dari bahasa Latin ‘immunis’. Bermakna ‘dikecualikan dari layanan publik’. Mereka yang tergolong imun merupakan kelas elit dalam demokrasi. Komunitas tak lagi berdasar pada kesamaan budaya, agama, suku atau karakter unik. Melainkan komunitas di dalamnya mengandung pengecualian-pengecualian memberi kebebasan.
Mereka yang masuk kategori telah imun bebas bergerak. Tak boleh dibatasi. Kebutuhan demokrasi kini bukanlah partisipasi, melainkan proteksi. Memproteksi diri dari komunitas, menjauhkan diri dari kebiasaan berkerumun. Jika warga Yunani dalam alam demokrasinya selalu ingin berbagi di ruang publik, maka warga dalam demokrasi imunitarian lebih memprioritaskan keamanan (security) dan keselamatan (safety) pribadi. Selamat datang di era demokrasi ‘Noli Me Tangere’ (Jangan Sentuh Diriku).
(Peresensi adalah Social Media Enthusiast di Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi