Oleh: Dr. Khairunnisa Musari*
“Sekarang di desa banyak orang yang sakit dan meninggal juga, Bu. Gejala awalnya seperti demam biasa… Kejadian di desa saya seperti itu, Bu. Kalau masker, memang dari awal Covid sampai sekarang, tidak ada yang pakai masker walaupun keluar rumah, Bu. Kalau diminta menggunakan masker, katanya malah tambah sesak nafas…”
Demikian Abdul Mu’is, mahasiswa bimbingan akademik saya menuturkan. Mu’is tinggal di Dusun Karang Lumbung, Desa Tegaljati, Kecamatan Sumber Wringin, Kabupaten Bondowoso.
Arif Al Ghifari, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) yang menjadi anggota kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 35 yang saya dampingi, juga menyampaikan hal senada.
“Di desa ya masker biasanya hanya dipasang pada leher saja, Bu… Di desa saya, belakangan juga semakin banyak yang meninggal. Tapi belum tahu karena apa. Dalam sehari bisa sampai 3 orang yang meninggal…” cerita Arif yang berdomisili di Dusun Krajan, Desa Ajung, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember.
Penuturan Mu’is dan Arif semakin menguatkan cerita suami saya yang seorang tenaga kesehatan dengan pasien yang berada di desa-desa sekitar Kecamatan Sumber Baru, Kecamatan Jombang, dan Kecamatan Tanggul di Kabupaten Jember, termasuk beberapa desa di Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang.
“Bila tidak melakukan swab, ya tidak bisa dibuktikan. Tetapi bila melihat gejalanya, sudah mengarah ke sana. Mereka yang sakit, bahkan yang meninggal, kebanyakan adalah satu keluarga… Saya khawatirkan Abah. Pekerjanya beberapa sudah menunjukkan gejala Covid. Tapi tidak ada yang menggunakan masker. Abah juga, sudah berulang kali diingatkan, tapi masker hanya dibawa saja, tidak dipakai…” urai suami saya yang juga baru saja terpapar Covid-19. Dugaan besarnya, terpapar dari pasien.
Di Lumajang, bulan lalu, Kepala Puskemas di Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, dr. Ima Rifiyanti, menyampaikan bahwa sepanjang 2021, stafnya sebanyak 12 orang sudah terpapar Covid-19.
Meskipun beberapa sampel dari desa-desa pada tiga kabupaten ini belum kuat untuk menyatakan Covid-19 masuk desa secara regional apalagi nasional, namun tentu saja hal ini seyogyanya menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk tetap siaga, tidak boleh lengah, utamanya pemerintah desa.
Jika disimak, ada dua isu besar di depan mata yang dihadapi desa hari ini terkait pandemi. Pertama, Covid-19 pada Gelombang II benar-benar merambah desa. Kedua, masyarakat desa sulit menerapkan protokol kesehatan.
Salah satu kontribusi yang dapat diberikan perguruan tinggi untuk menjaga ketahanan desa adalah penyelenggaraan KKN. Memasuki bulan Agustus-September, perguruan tinggi umumnya mengawali Semester Ganjil dengan KKN. KKN menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk berbuat nyata dalam mengedukasi masyarakat di perdesaan.
Optimalisasi KKN
Sekitar 40 hari ke depan, saya menjadi pendamping kelompok KKN 35. Sebanyak 17 mahasiswa yang saya dampingi berasal dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) dan satu mahasiswa dari Fakultas Dakwah.
Kami intens berkomunikasi daring setiap harinya. Selain pesan-pesan terkait moderasi beragama yang menjadi tema KKN, saya juga meminta mahasiswa untuk memberi edukasi kepada masyarakat terkait Covid-19. Setidaknya dalam hal cuci tangan, menjaga jarak, dan terutama penggunaan masker.
Jelas, penggunaan masker adalah hal yang paling dapat terlihat secara fisik. Saya meminta mereka tidak boleh lepas dari masker ketika berinteraksi dengan masyarakat desa. Sebab, mereka akan menjadi role model dalam hal penggunaan masker dan tentu saja juga untuk menjaga diri mereka sendiri dari paparan Covid-19.
Sejatinya kegiatan KKN merupakan hal strategis bagi pemerintah melalui kementerian yang menaungi perguruan tinggi untuk menjadi corong sosialisasi dan edukasi terkait pandemi Covid-19. Sebab, para mahasiswa akan berinteraksi langsung dengan masyarakat desa setidaknya selama 40 hari, baik secara daring maupun luring.
Merujuk Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2020, lembaga pendidikan tinggi di Indonesia sebanyak 4.593 lembaga dengan rincian 122 perguruan tinggi negeri (PTN) dan 3.044 perguruan tinggi swasta (PTS) pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 187 perguruan tinggi kementerian/lembaga lain (PTK/L), dan 1.240 perguruan tinggi agama (PTA). Berdasarkan bentuk pendidikan, terdapat 29.413 program studi dari seluruh lembaga.
Dengan demikian, dapat diperkirakan seberapa besar potensi KKN untuk diberdayakan dalam mengedukasi masyarakat di perdesaan.
Bahkan, sekalipun KKN dilakukan daring atau dilakukan di daerah asal guna mengurangi mobilitas seperti halnya pada kampus Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Shiddiq (UIN KHAS), kegiatan edukasi tetap dapat dilakukan secara efektif. Pasalnya, para mahasiswa tetap dapat memberikan edukasi luring kepada lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga atau tetangga sekitar.
Lalu, apa hubungan Covid-19, KKN, dan Ekonomi Syariah?
Jelas, erat hubungannya!
Dalam Ekonomi Syariah, maqasid al-syari’ah meletakkan keselamatan agama, jiwa/nyawa, akal, keturunan/keluarga, dan harta sebagai tujuan syariat. Dengan demikian, menyelamatkan diri dari Covid-19 sejalan dengan maqasid al-syari’ah karena dalam rangka menyelamatkan jiwa/nyawa.
Bahkan dari sudut maslahat dan fikih keutamaan, menyelamatkan jiwa/nyawa menjadi syarat penting dalam menjaga keselamatan agama.
Terlebih dalam kondisi pandemi Covid-19 yang secara statistik masih menunjukkan tren peningkatan, baik dalam jumlah kasus positif maupun kematian secara global maupun nasional. Indonesia bahkan belakangan menjadi negara dengan angka penambahan kematian harian tertinggi di dunia.
Jadi, bagi seluruh peserta KKN di mana saja berada, mari manfaatkan program ini untuk membantu memberikan edukasi protokol kesehatan kepada masyarakat perdesaan, minimal pada lingkungan terdekat. Hal ini pun bernilai ibadah dan sangat urgensi. Sebab, pada pandemi Gelombang II ini, kasus positif dan kematian tidak lagi sekedar berita pada layar televisi, tetapi menjadi nyata di sekitar kita, di desa kita sendiri. Wallahua’lam bish showab.
*Dosen Tetap Prodi Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Shiddiq, Wakil Koordinator Indonesia Bagian Tengah DPP IAEI; Lead Independent Associate Ambassador of Ventureethica.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi