KEMPALAN: Kasus Akidi Tio ini tidak sekadar prank pada negara, yang tidak jelas apa maksudnya. Mestinya punya konsekuensi hukum, jika kasus itu serius akan ditangani. Tapi tampaknya kasus itu akan menguap begitu saja. Jika demikian, maka itu lebih pada tidak ingin mempermalukan institusi Polri, atau bisa juga adanya intervensi tidak jelas dari tangan-tangan tersembunyi, agar kasus ini tidak diteruskan.
Kasus memalukan itu jadi pelajaran kesekian, yang anehnya tidak jera-jera diulang dan diulang. Kali ini institusi negara, yang diwakili Kapolda Sumsel “dikerjai” dengan khayalan konyol bantuan hibah Rp2 T. Ternyata itu pepesan kosong.
Saat berita hibah dengan nilai fantastis itu menyeruak, tentu semua anak bangsa senang mendengarnya. Meski ada juga yang tidak mempercayainya, dan itu semata pada nilai Rp2 T yang tidak masuk akal. Tapi ada yang lalu nelan mentah-mentah berita itu, dan lalu mengomentari dengan ketakjuban luar biasa.
Sah-sah saja komentar apapun itu, baik yang percaya maupun yang tidak percaya. Memang berita hibah dengan nilai fantastis dari keluarga Akidi Tio, yang diwakili anak bungsu perempuannya, Heriyanti, itu menguras jagat pemberitaan negeri ini.
Bahkan pada pemberitaan yang menggelegar itu, ada pihak-pihak yang menggorengnya dengan “menyambit” etnis bahkan agama tertentu. Memuja-muja sosok Akidi Tio dan latar belakang etnisnya, itu sih tidak masalah. Itu hal biasa. Tapi lalu mencoba membenturkan dengan etnis dan agama tertentu, itu perilaku jahat.

Adalah trio buzzer, Ade Armando, Denny Siregar dan Abu Janda, itu yang coba membenturkan dengan etnis dan agama tertentu (Islam). Tulisan ini tidak ingin membahas apa yang disampaikan mereka itu, karena baik video maupun pernyataannya ditulis di banyak media online. (Lihat, Catatan Ady Amar, Uang Semua Gak Pakai Pasir, 03/08).
Tapi jelas kekagumannya itu tidak berhenti pada Akidi Tio, tapi kekaguman yang bersayap dengan membenturkan etnis dan agama tertentu (Islam). Itu berbahaya, jika satu pihak yang coba dibenturkan tidak memahami permainan busuk mereka. Alhasil, bersyukurlah niat busuk mereka itu dibuka Tuhan dengan cara-Nya.
Cara Tuhan membuka itu, dengan mempermalukan banyak pihak, terutama buzzer yang coba membenturkan dengan etnis dan agama tertentu.
Pada Senin, 2 Agustus, itu semuanya jadi terbuka, bahwa Rp2 T itu cuma pepesan kosong alias prank yang membelalakkan mata semua pihak. Bahkan menertawakan trio buzzer, yang sudah terlanjur memuji-muji Akidi Tio dan keluarganya, bahkan etnisnya.
Para buzzer ini memang konyol bak badut, bicara tanpa mikir. Menyalak jadi andalannya, dan kasus Akidi Tio yang ingin diseretnya pada permusuhan antaretnis dan agama, itu tidak ditanggapi publik, khususnya umat Islam, yang sadar atas permainan amatiran ini.
Mereka pastinya akan terus menyalak, meski dengan suara parau sekalipun. Dan jika umat bersikap dengan suara menggelegar, maka itu yang diharapkan. Dengan membiarkan, dan jika menanggapi cukup dengan tanggapan sekadarnya, itu sudah cukup buat mereka.
Jangan biarkan waktu kita terbuang percuma, fokus dan konsen saja pada agenda besar penguatan umat, itu yang semestinya jadi prioritas untuk dikerjakan. Perjalananan masih panjang dan melelahkan, energi pun harus diatur dengan baik. Jangan pernah lengah…. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi