
KEMPALAN: “Jangan takut menjadi jomblo, sebab Indonesia merdeka itu juga karena bersatu, bukan berdua,” begitulah semangat menghibur diri jomblowers yang terus ditekankan oleh para raja gombal untuk menunjukkan eksistensinya bahwa kesendirian dan menutup diri adalah juga sebuah keberanian pilihan.
Jauh dari kemeriahan globalisasi di era keterbukaan tentu bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani. Di saat keseluruhan aktivitas yang ada dapat dijalani bersama dengan yang lain ternyata lebih memilih untuk membuat batasan-batasan.
Sesuai konsep dan ide dasarnya yaitu membuat batasan dengan disemangati kemandirian ekonomi, sedikit demi sedikit berusaha melepaskan diri dari ketergantungan pihak lain atau negara lain. Inilah yang coba untuk dikreasi, dalam bertransaksi beberapa negara maju sedang bermanuver mengurangi penggunaan dollar Amerika (USD) dan menggantinya dengan mata uang lokal (local currency).
Minimal mengganti USD dengan mata uang digital yang saat sekarang mulai marak penggunaannya untuk beberapa transaksi besar, utamanya transaksi cross border. Diawali Rusia, disusul China, terus India, kemudian juga negara-negara Uni Eropa yang telah membangun instex, instrumen yang memungkinkan perusahaan-perusahaan di Uni Eropa untuk bertransaksi tanpa memikirkan keragaman sanksi dari Amerika karena telah melakukan dedolarisasi. Dedolarisasi beberapa negara dilakukan pada neraca perdagangan, utang luar negeri, juga dalam aset-aset perbankan termasuk juga kontrak dan transaki perusahaan-perusahaan energinya.
Indonesia sendiri dalam kelompok negara berkembang termasuk negara yang sangat besar menggunakan USD dalam bertransaksi. Catatan Bank Indonesia sebelum pandemi Covid-19, 95% ekspor dan 76% impor, transaksinya menggunakan USD. Mencermati pergerakan ekonomi negara-negara yang telah dedolarisasi, satu semester sebelum hiruk pikuk virus corona, Indonesia bersama Thailand, Philipina, dan Malaysia sejatinya telah bersepakat bahwa transaksi perdagangan bilateralnya akan dilakukan dengan menggunakan mata uang lokal.
Potensi ekonomi bagi Indonesia tentu akan lebih baik jika dalam setiap transaksi perdagangan internasionalnya mengurangi penggunaan USD-nya. Minimal mampu menciptakan sentimen positif terhadap nilai tukar rupiah yang juga merupakan indikator makro ekonomi dalam penyusunan anggaran negara. Tentu saja situasi yang demikian akan menciptakan degradasi ekonomi Amerika, kontraksi ekonomi Amerika, negatif ekonomi Amerika. Dan tentu saja pula para pengambil kebijakan ekonomi Amerika Serikat tidak akan tinggal diam dan tidak akan membiarkan hal ini terjadi berlarut-larut.
Pasti akan ada beberapa langkah strategis yang dilakukan terhadap negara-negara yang telah melakukan dedolarisasi. Langkah termudah dan paling gampang dilakukan adalah dengan men-stop impor atau minimal mengalihkan negara asal impor atas barang-barang yang selama ini masuk dalam list daftar impornya.
Dan jika ini dilakukan, maka yang terjadi tidak sakitnya tuu disana (Amerika), tapi sakitnya tuu disini (Indonesia). Memantul, dalam jangka menengah dapat berakibat runtuhnya sendi-sendi ekonomi sendiri. Dedolarisasi yang pada awalnya dikira mampu berimplikasi positif namun pada giliran berikut justru bisa saja menciptakan konstribusi negatif. Jika ini yang terjadi, ingat, sakitnya tuu disini. Mungkin memang sudah bukan saatnya mengikuti semangat menghibur diri para raja gombal untuk men-jomblo di era keterbukaan ini.
Pertanyaannya sekarang, kapankah seharusnya dedolarisasi dimulai? (Bambang Budiarto, Redaktur Tamu Kempalan.com, dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi