KOLOM

Buruk Muka Statuta Dibelah

  • Whatsapp
Buruk muka kaca dibelah; Rektor UI Prof. Ari Kuncoro

KEMPALAN: Buruk muka kaca dibelah. Tak pandai menari lantai dibilang berjungkit. Buruk muka rektor,  statuta UI dibelah. Rektor ingin rangkap jabatan, lantai pun dibongkar.

Dua ungkapan itu adalah pribahasa untuk menggambarkan seseorang yang menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dia lakukan sendiri. Ketika bercermin dan mendapati mukanya buruk, kaca yang disalahkan, lalu dipecah. Ketika ia tidak bisa menari, ia menyalahkan lantai yang berjungkit tidak rata.

Itu budaya khas bangsa Indonesia yang menunjukkan jeleknya tabiat kita. Tidak mau mengakui kesalahan, dan malah melempar kesalahan kepada orang lain. Itulah  salah satu tabiat buruk yang banyak dilakukan manusia Indonesia.

Ungkapan itu barangkali tepat diarahkan kepada Rektor UI (Universitas Indonesia) Prof. Ari Kuncoro, PhD,  yang sekarang tengah banyak disorot. Ia dianggap melanggar statuta, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga kampus . Dalam statuta UI, seorang rektor dilarang untuk merangkap jabatan di Badan Usaha Milik Negara dari pusat sampai daerah.

Universitas Indonesia, kampus perjuangan

Sorotan ramai diarahkan kepada Ari Kuncoro, karena dia rangkap jabatan menjadi komisaris di sejumlah bank pemerintah. Dia pun dituntut supaya memilih satu di antara dua, tetap menjadi rektor tapi melepas jabatan komisaris, atau tetap menjadi komisaris tapi mundur dari jabatan rektor.

Ari Kuncoro memilih dua-duanya. Tetap menjadi rektor dan tetap menjadi komisaris di bank negara. Bukan Ari Kuncoro yang harus mundur, tapi statuta yang diubah. Statuta lama melarang rektor rangkap jabatan, revisi baru statuta membolehkan rektor rangkap jabatan. Buruk muka kaca dibelah. Bukan muka buruk yang direparasi, malah kaca yang diremukkan. Bukan berlatih menari yang bagus, lantai malah dibongkar.

Kampus adalah sumber suara moral kebenaran. Kampus adalah penjaga kebenaran. Kaum intelektual kampus adalah agen perubahan. Kaum intelektual kampus adalah sumber suara kritis terhadap kekuasaan.

Sejak kasus gelar ‘’King of Lip Service’’ yang diberikan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UI kepada Presiden Jokowi, Ari Kuncoro dianggap telah pasang badan untuk membela Jokowi. Ia memanggil dan mengadili para mahasiswa itu. Opini publik pun terbelah. Banyak yang membully mahasiswa, tapi banyak pula yang membelejeti Ari Kuncoro.

Di tengah kontroversi itulah terungkap bahwa ternyata Ari Kuncoro rangkap jabatan menjadi komisaris di bank pemerintah. Gugatan terhadap Ari Kuncoro supaya mundur dari jabatan rektor sangat keras. Ia dianggap berpolitik dan mencampuradukkan kampus dengan kekuasaan.

Kampus dan kekuasaan adalah dua entitas yang berbeda. Seorang intelektual kampus tidak seharusnya menjadi bagian dari kekuasaan. Sebaliknya, kekuasaan harus membiarkan kampus bebas menjalankan perannya sebagai suara kebenaran.

Intelektual kampus yang tidak menjalankan fungsi pencerahan—apalagi menyeberang menjadi bagian dari kekuasaan—dianggap telah melakukan pengkhianatan. Intelektual kampus yang kerjanya hanya nongkrong di menara gading, asyik dengan dirinya sendiri, tanpa peduli terhadap kondisi rakyat, adalah intelektual tradisional yang terpisah dari rakyat.

Seorang intelektual harus organik, menyatu dan turun ke bawah membela kepentingan rakyat yang tertindas oleh kekuasaan. Itulah intelektual ideal, yang oleh Antonio Gramsci disebut sebagai intelektual organik.

Intelektual adalah makhluk yang tercerahkan. Rausyan Fikri, kata intelektual Syiah dari Iran Dr. Ali Shariati. Intelektual yang tercerahkan adalah mereka yang mendapatkan pencerahan dari ilmunya, dan kemudian memanfaatkan ilmu pencerahannya untuk terjun membela rakyat. Intetektual yang ongkang-ongkang di kampus, dan asyik menjadi pembela kekuasaan, adalah intelektual yang tersesat dalam gelap.

Ilmuwan Prancis, Julien Benda dengan tegas menyebut para intelektual menara gading itu sebagai pengkhianat.  Benda dalam ‘’La Trahison des Clercs’’ (1997) membagi masyarakat ke dalam dua kategori. Pertama,  cendekiawan atau intelektual yang mendedikasikan hidupnya untuk mencari kebenaran. Kedua, kaum awam yang seluruh hidupnya terikat kepada fungsi mengejar kepentingan materi dan duniawi.

Seorang intelektual–yang harusnya akrab dengan kebenaran–kemudian terjun ke ranah politik praktis yang akrab dengan kekuasaan, berarti telah terseret untuk memperebutkan kekuasaan, dan terlempar menjadi masyarakat awam yang mendedikasikan hidupnya untuk mengejar materi duniawi.

Ali Shariati di Iran memberi contoh bagaimana seorang intelektual kampus bisa memberi pencerahan kepada rakyat untuk melawan rezim diktatorial yang berkuasa di Iran. Revolusi rakyat Iran pada 1979 berhasil menumbangkan rezim Shah Reza Pahlevi yang didukung penuh oleh Amerika Serikat. Tetapi, Shariati tidak sempat menikmati kebebasan bersama rakyat Iran, karena ia keburu tewas pada 1975 di Inggris. Banyak yang menduga Shariati tewas karena dibunuh oleh agen rahasia Iran, Savak.

Di Indonesia, para mahasiswa turun ke jalan untuk memprotes rezim Orde Baru yang diktatorial pada 1998. Gerakan reformasi yang dipelopori mahasiswa itu mampu menumbangkan rezim kuat yang sudah berkuasa selama 32 tahun. Para mahasiswa itu adalah bagian dari intelektual organik, dalam terminologi Gramsci, dan intelektual tercerahkan dalam versi Shariati.

Kampus UI dikenal sebagai kampus perjuangan. Dari situ lahir seorang demonstran yang bangga menyebut dirinya sebagai demonstran. Dialah Soe Hok Gie. Ia seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya. Dia bercita-cita besar, tak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang banyak, terutama kaum yang termarjinalkan.

Ia rajin mencatat apa yang dialaminya, apa yang dipikirkannya. Dengan perantaraan catatan-catatan hariannya, kita dapat memperoleh pengetahuan mengenai kehidupan dan tindakan para mahasiswa dengan berbagai permasalahan yang mereka hadapi. Catatan-catatan itu dikumpukan dan diterbitkan menjadi buku ‘’Catatan Harian Seorang Demonstran’’ (1983).

Di zaman Gie, kampus menjadi ajang pertarungan kaum intelektual yang menentang vs yang mendukung pemerintahan Bung Karno. Sepanjang 1966-1969, Gie berperan aktif dalam berbagai demonstrasi. Ia tidak bergabung dengan organisasi mahasiswa tertentu, misalnya KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang ketika itu menjadi motor gerakan. Gie lebih suka menjadi lone wolf yang berjuang sendiri melalui tulisan-tulisannya.

Lewat tulisannya ia mengritik Orde Lama dan Presiden Soekarno secara terbuka di media massa. Ia menggelar diskusi terbuka dan tidak pernah takut berdebat dengan para pendukung kekuasaan. Demontrasi besar terjadi di sepanjang 1966. ABRI, yang tahu kekuatan gerakan mahasiswa yang hebat untuk menjungkalkan kekuasaan Sukarno, berpihak kepada mahasiswa.

Mahasiswa UI melakukan demo 1998

Puncak gerakan terjadi ketika demonstran UI Arif Rahman Hakim terbunuh oleh peluru pasukan keamanan. Sama dengan sejumlah mahasiswa Universitas Trisakti yang menjadi martir Reformasi, Arif Rahman Hakim juga menjadi martir dan simbol gerakan mahasiswa yang semakin menggelombang. Sukarno pun jatuh, sebagaimana Soeharto juga jatuh 32 tahun kemudian dengan cara yang kurang lebih sama.

Setelah pemerintahan Sukarno jatuh oleh gerakan mahasiswa Angkatan 66, Gie tidak larut menjadi pendukung rezim baru seperti rekan-rekannya. Gie memilih menyepi ke puncak-puncak gunung yang menjadi hobinya.

Dalam catatan hariannya, Gie menulis bahwa mahasiswa itu seperti koboi dalam cerita western. Ketika terjadi kerusuhan di kota, koboi akan turun dan berani berduel melawan para penjahat. Setelah penjahat mati dan kota menjadi aman, koboi menyerahkan kekuasaan kembali kepada sherrif. Sang koboi lalu kembali ke tempat penggembalaan yang sunyi bersama sapi-sapi.

Gie mendirikan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UI karena dia mencintai gunung dan alam bebas. Puisi-puisinya banyak berkisah tentang kecintaannya terhadap alam bebas itu. Di puncak gunung itu juga Gie meninggal pada 16 Desember 1969. Di tengah kabut tebal puncak Gunung Semeru, sehari sebelum ulangtahun ke-27, Gie meninggal  karena menghirup gas beracun.

Bagi Gie, lebih baik mati menghirup gas beracun, daripada kebebasannya mati karena menghirup racun kekuasaan. (*)

Berita Terkait