Catatan Ady Amar

Ngibul dan Ndeso, Dua Kosa Kata dengan Konotasi Buruk

  • Whatsapp

KEMPALAN: Ngibul atau dusta, boleh juga disebut bohong. Itu adalah perilaku tidak terpuji. Apalagi kebiasaan ngibul pada setiap janji yang sulit ditepati. Ngibul lalu identik disematkan pada nama seseorang.

Ngibul tentu perbuatan tidak terpuji, yang lalu menimbulkan ketidakpercayaan melekat pada seseorang. Asal berjanji ia sulit menepati, dan jika pada suatu waktu ia menepati janjinya maka menjadi satu keheranan tersendiri. Tumben nepati janji.

Ngibul tidak punya batasan usia, status sosial dan bahkan jabatan yang melekat pada seseorang. Ngibul bisa dilakukan siapa saja, tentu dengan konsekuensi terkikisnya kepercayaan pada pelakunya. Maka, kata “sulit dipercaya” menjadi pantas disematkan.

Ngibul mestinya perbuatan terlarang, yang mesti dihindari siapa pun. Mendekati ngibul, itu sama saja dengan menjauhkan diri, atau setidaknya merenggangkan pergaulan antarsesama. Kerap ngibul, maka respek pun sulit bisa diterima sewajarnya.

Ngibul menjadi kosa kata yang tidak disuka, tapi mau tidak mau kerap dipakai sebagai penanda pada janji yang tidak ditepati, dan itu lebih pada unsur kesengajaan. Ngibul menjadi kebiasaan laku sehari-hari. Tiada hari tanpa ngibul.

Tentu ada ngibul yang tidak dimaksudkan untuk merugikan pihak lain, tapi sekadar menghibur kawan lainnya. Menghibur dengan ngibul, menjadikan kawan terhibur, bahkan terbahak.

Ada kelucuan disana dihadirkan. Semua memahami bahwa cerita yang disampaikan itu ngibul, bahkan semua rela untuk dikibuli. Ngibulnya lalu ditunggu-tunggu karena mampu menghibur.

Ilustrasi ngibul (Leonardo Julio via Issuu)

Bagaimana dengan pemimpin yang ngibul yang seolah sudah jadi passion dalam sikap kesehariannya. Semua lakunya penuh ngibul, tiada hari tanpa ngibul. Janjinya cuma surga telinga, yang mengenakan sesaat karena janji manis yang diberikan. Setelah itu sumpah serapah karena janji yang tidak ditepati.

Pemimpin model begini tidak seharusnya dihadirkan. Apalagi sampai menduduki jabatan tinggi, seperti hal mustahil tapi nyata adanya. Pastilah ia jadi pemimpin yang merugikan. Menjadi terpilih karena ia melakukan semacam “hipnotis” ngibul dengan panjat sosial (pansos), atau pencitraan.

Masyarakat yang kurang terdidik dan tidak mendapat masukan sewajarnya, mayoritas terkecoh dengan pemimpin miskin prestasi, tapi bermodal pansos jadi andalan. Media yang pemiliknya juga politisi, jadi corong setiap langkah yang dilakukannya. Diberitakan meski yang dilakukan adalah hal absurd tidak sewajarnya

Culun atau Ndeso

Tentu ngibul tidak identik dengan culun. Pengertiannya pun jauh berbeda. Karenanya wajah culun itu tidak mesti ngibul, banyak pula wajah culun tapi berprilaku baik bahkan terpuji.

Wajah culun itu wajah yang tampak naif, tapi di balik wajahnya itu ada potensi besar untuk disematkan pada namanya, baik itu positif maupun negatif.

Sekali lagi, culun tidak identik dengan keburukan rupa apalagi perilaku buruk. Julukan culun kerap disematkan pada kata ndeso, itu pun tidak juga bisa dikatakan, setiap yang dari desa atau pelosok itu pastilah culun. Tapi wajah ndeso memang lalu dikesankan wajah naif yang punya konotasi sederhana.

Julukan ndeso tidak sepantasnya ada dan dihadirkan. Tapi julukan ndeso itu sudah jadi kebiasaan menempatkan kata culun menempel padanya, seolah identik. Tentu kata culun maupun ndeso bisa dipakai pada perangai baik maupun buruk.

Julukan baik pada kata ndeso bisa menjadi pujian meski kurang mengenakkan. Kita temui pada, meski wajah ndeso tapi rezeki kota. Atau, meski wajah ndeso tapi otaknya brilian.

Memang tidak dipungkiri kata ndeso lebih diasosiasikan keterbelakangan, dan itu negatif. Dipakai lebih pada untuk mengejek, dan itu bisa dikenakan pada siapa pun. Tidak terkecuali pemimpin, yang kebetulan berwajah ndeso, tapi perilakunya justru tidak mencerminkan ia pemimpin sederhana dan merakyat.

Tampang ndeso, bukan berarti ia pasti berprilaku selayaknya orang desa yang identik dengan hal-hal kesederhanaan dan kebaikan. Belum tentu demikian. Bahkan banyak pemimpin dengan wajah ndeso tapi doyan ngibul dan justru kebijakan yang dibuat tidak memihak wong cilik.

Maka memilih pemimpin apalagi pemimpin tertinggi di negeri ini, pilihlah yang punya track record dengan prestasi yang dibuat. Soal wajah ndeso atau kuto tentu tidak jadi ukuran, apakah ia pemimpin yang bisa bekerja membawa rakyat ke kehidupan yang lebih baik, atau cuma pemimpin kaleng-kaleng.

Sebagai manusia ya janganlah kita mau disebut lebih buruk dari keledai, yang terantuk masuk gorong-gorong yang sama untuk kedua kalinya. (*)

Berita Terkait