OPINI (3-HABIS)

Medan Pertempuran Mina

  • Whatsapp
Melempar jumrah di Mina (foto sebelum pandemi)

Oleh: Dr. Nawiroh Vera (Dosen Fikom Universitas Budi Luhur, Jakarta)

KEMPALAN: Setelah wukuf di Arafah dan melewatkan malam di Masy’ar-ul haram untuk mempersiapkan diri dengan mengumpulkan senjata, maka rombongan pejuang-pejuang kemerdekaan yang hanya taat pada Allah dan Rasulnya ini tiba di medan pertempuran Mina. Seluruh jamaah haji diwajibkan untuk berdiam atau istilahnya mabit di Mina, selama 2 hari atau 3 hari.

Maksud daripada berdiam di Mina adalah untuk mempersiapkan diri dengan matang dalam melakukan pelemparan Jumrah, pejuang-pejuang ini akan bertempur melawan musuh utama manusia yaitu setan, baik setan yang berada pada diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Layaknya seorang pejuang yang akan melakukan pertempuran maka perlu membekali diri, sesuai dengan perintah Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 198 yang artinya sebagai berikut:

“Dan sediakanlah bekal bagi diri kalian, tetapi sungguh sebaik-baik bekal adalah kesadaran akan Allah: maka, sadarlah kepadaKu senantiasa, wahai orang-orang yang dianugerahi pengetahuan yang mendalam”

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa; Arafat berarti “pengetahuan”, Masy’ar berarti “kesadaran”, Mina berarti “cinta” dan “keyakinan”, mengapa mina yang berarti cinta justru terdapat pertempuran di dalam ritual ini? karena dari pengetahuan lalu muncul kesadaran dalam memperoleh karunia apapun dari “sang pemelihara” menunjukkan kesadaran akan Allah (takwa). Pertempuran dimaksud adalah melawan ego yang ada dalam setiap individu, angkuh, sombong, serakah, menindas, dll. Pertempuran melawan nafsu jahat dalam diri manusia, yang disimbolkan dengan melempar setan di dalam ritual lempar jumrah.

Setelah mengalahkan setan dan meninggalkan tempat pengurbanan, para pejuang kemerdekaan (jamaah haji) diperintahkan untuk naik berbondong-bondong Bersama orang lain yang juga naik.  (Al-Qur’an 2:199), maksudnya adalah para jamaah haji diseru agar menenggelamkan individualitasnya, pada momen puncak haji, dengan suatu kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu umat yang semuanya setara di hadapan Allah, tanpa rintangan ras, kelas, atau status sosial yang memisahkan seseorang dari orang lain.

Mina adalah negeri cinta, perjuangan, dan syahid. Inilah tempat manusia mengikrarkan janji kepada Allah. Sebagai kaum yang bersatu (yang berasal dari seluruh penjuru dunia) mereka berjanji untuk berpartisipasi di dalam amal-amal kebajikan dan memerangi kejahatan di dalam kehidupan ini.

Mina adalah negeri keyakinan dan cinta. Inilah negeri segala harapan dan kebutuhanmu. Inilah medan tempur di mana engkau memperoleh kemenangan-kemenangan yang gemilang dan terpuji. Di sinilah engkau mencapai hajimu, puncak kesempurnaanmu, dan ideal hidupmu, Mina adalah Langkah pertama tauhid dan penyergapan setan, musuh manusia yang paling besar. (Ali Shariati: 144).

Kesimpulan dari rangkaian haji ini adalah diharapkan setiap orang menjadi haji Mabrur, yang dimaksud adalah supaya setiap pejuang (haji) selalu memposisikan diri terus berada di Mina atau Mina selalu berada di dalam diri setiap orang yang telah menyelesaikan haji, karena manusia selalu berada dalam bahaya berhala-berhala (kesesatan) itu setiap saat siap untuk memberontak. Apabila kita masih berada di mina setelah Idul Adha maka setiap hari tembaklah olehmu berhala-berhala tersebut. (Selesai)

Referensi:
Tulisan ini disarikan dari kitab suci Al-Qur’an dan buku “Haji” karya Dr. Ali Shariati

Berita Terkait