Oleh: Dr. Nawiroh Vera (Dosen Fikom Universitas Budi Luhur, Jakarta)
KEMPALAN: Haji merupakan rukun Islam yang ke-5, wajib bagi muslim dan muslimat yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah (bulan terakhir dalam kalender qamariyah). Sesuai dengan perintah Allah SWT di dalam Al-Qur’an (22:27) yang artinya:
Dan umumkanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, mereka akan datang kepadamu dengan telanjang kaki atau dengan menunggang Unta yang sudah lemah dan mereka akan datang dari segenap penjuru, dari tempat yang jauh.
Ajakan Allah untuk mengunjungi rumahNya adalah sebagai bentuk eksistensi manusia. Manusia tidak ada artinya kecuali jika tujuan hidupnya adalah untuk mendekati ruh Allah. Bebaskanlah diri kalain dari segala kebutuhan dunia dan keserakahan yang membuat kalain lupa pada Allah, oleh karena itu lakukanlah perjalanan haji seperti yang sudah dilakukan oleh umat manusia sejak zaman dahulu.
Ibadah haji mencerminkan kepulangan manusia kepada Allah yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tak diserupai oleh sesuatupun jua. Pulang kepada Allah adalah Gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta-fakta. Perjalanan ini manusia tidak akan sampai kepada Allah, Dia hanya memberikan petunjuk yang benar tetapi Dia bukan merupakan tujuan yang hendak dicapai (Ali Shariati: 9).
Ajakan kepada manusia untuk meninggalkan rumah masing-masing dan mengunjungi “rumah Allah” menyiratkan eksistensi keberadaan manusia, siapapun adanya kalian adalah seorang manusia, putera Adam, dan khalifah Allah di muka bumi.
Perjalanan kepada Allah itu pada prinsipnya terbagi menjadi tiga tahap yaitu Arafat, Mas’ar, dan Mina) yang kesemuanya harus dilalui dalam pelaksanaan haji. Apa arti dari ketiga tahap tersebut? Sesungguhnya Allah telah memberikan nama-nama yang mulia:
Arafat berarti “pengetahuan” dan “sains”
Mas’ar berarti “kesadaran” dan “pengertian”
Mina berarti “cinta” dan “keyakinan”
Sesungguhnya Arafat itu melambangkan awal penciptaan manusia (sebagaimana kisah penciptaan manusia yaitu Adam dan Hawa). Dalam prosesi haji sebagai puncak ibadah haji adalah berduyun-duyun manusia yang meninggalkan ka’bah pergi menuju “Arafat”, hal ini melambangkan awal kejadian manusia, manusia dan pengetahuan tercipta dalam waktu yang bersamaan. Percikan cinta antara Adam dan Hawa pada pertemuan pertama menyebabkan mereka saling memahami. Itulah pertanda awal dari pengetahuan. Adam mengetahui istrinya mempunyai jenis kelamin yang berbeda darinya dan mempunya asal serta sifat yang sama dengan dirinya (Ali Shariati: 64).
Maka dapat disimpulkan dari pandangan filosofis bahwa eksistensi manusia adalah seusia dengan eksistensi pengetahuan; dan dari sudut pandang ilmiah, bahwa sejarah manusia bermula dengan pengetahuan.
Dalam melakukan haji gerakan yang pertama bermula dari Arafat, berhenti (wukuf) di Arafat bermula pada siang hari tanggal 9 Dhulhijjah Ketika matahari sedang terik-teriknya. Ketetapan ini dimaksudkan agar manusia memperoleh kesadaran, wawasan, pengetahuan, dan cinta di siang hari. Begitu matahari terbenam maka wukuf di Arafat itu berakhir sudah. Tak ada sesuatupun dapat terlihat di dalam gelap, akibatnya di dalam gelap itu tidak ada perkenalan dan pengetahuan! Bersama-sama dengan matahari padang Arafat yang sedang terbenam orang-orangpun bergerak ke arah barat. Mereka terus berjalan hingga sampai ke Masy’ar atau negeri “kesadaran” disini lalu mereka berhenti. (Bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi