
KEMPALAN: Serasa seperti awal awal pandemi terjadi, padahal sudah lebih satu tahun kita menghadapi. Sepertinya kita butuh keseriusan untuk menghadapi pandemi ini. Pembatasan kegiatan masyarakat secara mikro sejatinya adalah mencegah terjadinya mobilitas perilaku yang beresiko terjadi penyebaran, pembatasan mobilitas ibarat pertolongan pertama dalam sebuah peristiwa, sehingga setelah pembatasan kegiatan masyarakat, akan disertai langkah lanjutan untuk menghalaunya. Langkah pemerintah sejak awal ketika pertama kali akan menciptakan vaksin adalah langkah yang tepat, apalagi dengan melibatlan ahli pandemi, ahli virus dari beberapa perguruan tinggi dan akademisi serta para dokter yang memang bergerak dibidangnya. Sehingga ditengah masyarakat menghadapi serangan virus mematikan ini ada harapan virus ini bisa diatasi.
Perdebatan tentang vaksin apa yang tepat kita sediakan, nampaknya sudah clear dibutuhkan vaksin yang cocok bagi karakter situasi geografis Indonesia, sehingga waktu itu terdengar perguruan tinggi seperti Unair Surabaya , Unand Padang dan beberapa perguruan tinggi berjibaku melakukan upaya untuk menciptakan bahkan yang terakhir kita dengar mantan menteri kesehatan, Terawan yang TNI terpanggil jiwa patriotisme nya dengan menciptakan vaksin Nusantara. Tapi sayangnya upaya upaya anak anak bangsa yang patirotis dan nasionalis ini kandas ditangan mereka yang pragmatis dan cenderung menjadi bagian dari kepentingan korporasi asing. Lebih menyedihkan lagi, sampai hari ini kita tak mendengar upaya upaya yang sudah dilakukan para ahli dan dokter dari kampus kampus hebat dalam negeri untuk digunakan bahkan pemerintah cenderung menggunakan vaksin import.
Kita mengalami masa masa sulit seperti menghadapi pandemi, rumah sakit dikabarkan penuh, tenaga nakes kelelahan dan terpapar dan ada yang sampai meninggal dunia. Suasana mencekam, diberlakukan jam malam dan razia. Masyarakat menjadi korban atas nama pencegahan penyebaran wabah. Pemerintah sibuk dengan skema skema penanganan. Pada akhirnya masyarakat kecil lebih banyak berdampak dan menjadi korban.
Pemerintah seolah berjuang sendirian, masyarakat lelah dengan berbagai kebijakan yang tak pernah berpihak, masyarakat selalu menjadi tertuduh sebagai biang penyebaran. padahal kalau mau, pemerintah bisa melibatkan masyarakat sebagai kekuatan untuk menghalau wabah ini. Masyarakat bisa menjadi relawan sebagaimana negara menghadapi perang. Ada yang namanya program bela negara perlawanan rakyat semesta. Pemerintah bisa menggunakan undang undang itu.
Ironi memang…kita ini bangsa yang religius dan terkenal dengan kegotong royongan yang kuat, ternyata masih kedodoran menghadapi Wabah ini dengan kegotong royongan. Mengapa bisa terjadi ? Dan bahkan yang lebih menyedihkan adalah masyarakat bersikap terbelah padahal kita punya semboyan persatuan Indonesia dan NKRI harga mati. Apa yang salah sehingga terjadi situasi yang semakin tidak pasti ? Sekolah dilarang buka, sementara mall dan tempat hiburan dibiarkan melenggang acara. Rakyat dilarang berkerumun sementara para pejabatnya pongah dan abai terhadap protokol kesehatan.
Sebagian masyarakat dan ahli atas nama kesehatan bangga dengan penutupan sekolah, sehat dulu baru sekolah ? Kapan sehat dapat kita dapatkan dengan baik? Para ahli pun tak bisa memastikan kapan pandemi ini berakhir. Kita pun akhirnya lebih banyak berdebat kusir tanpa kejelasan bahkan terjangkiti virus baru, gemar menyebar berita palsu dan mengerikan. Masyarakat dihadapkan pada varian baru virus covid 19 dikombinasi dengan virus kecemasan dan ketakutan. Sebagian mereka yang pasrah dan lemah akan menyerah dan sebagian mereka melawan dengan mengabaikan himbauan pemerintah pembatasan mobilitas. ” Kalau saya nggak bekerja dan keluar rumah, saya dan keluarga akan makan apa ?
Pemerintah pun kini gamang dengan kebijakan yang dibuatnya, lebih lebih rakyat akan lebih gamang mematuhi peraturan pemerintah, karena disaat peraturan itu diterapkan pemerintah tak pernah hadir menutupi kebutuhan hidupnya, pemerintah cenderung menjadi pengawas dan penghukum atas pelanggaran terhadap kebijakan yang dibuatnya, padahal ketika rakyat sudah lelah, pemerintah bisa hadir dengan edukasinya atau sebagai teman dan orang tua yang bisa menjadi teman dialog memecahkan masalah. Percayalah masyarakat kita ini adalah masyarakat tertib dan patuh bila bisa didekati dan direbut hatinya. Disinilah perlunya pemerintah perlu merubah strategi pendekatan melibatkan masyarakat dalam menekan penyebaran virus ini.
Pada akhirnya, dalam penanganan pandemi agar cepat berakhir yang dibutuhkan adalah konsistensi sikap dan kebijakan, biarlah para ahli berjibaku mencipta anti virusnya, para dokter bekerja sesuai dengan kapasitasnya, pemerintah hadir mensupport dan memastikan ketersediaan kebutuhan logistik nya. Tenaga medis dan para ahli bekerja dengan rasa aman dan tanpa beban, rakyatpun akan menjadi pasukan pencegah penyebaran wabah Covid 19 minimal untuk diri dan keluarganya dengan protokol kesehatan yang terstandar. Pemerintah harus berani menyingkirkan para makelar obat anti virus yang selama ini cenderung mengombang ambingkan kebijakan. Biarlah virus ini diciptakan oleh para ahli Indonesia melalui kampus dan laboratorium yang ada, saatnya bangsa Indonesia menunjukkan bahwa kita bisa dengan gagah memenangkan pertempuran ini dan merdeka.
Diakhir kegaluan saya, sayapun membayangkan gelaran sepak bola digelar lagi seperti sediakala sebagaimana bangsa bangsa Eropa saat ini mampu menggelar Liga Piala Eropa meski ditengah pandemi, mereka sudah sibuk dengan capaian capaian progressif masa depan, kita masih berdebat perlunya belajar tatap muka digelar atau tidak, bangsa lain berpesta dengan macam macam prestasnya, kita masih sibuk berdebat tentang sesuatu yang tak penting dan menguras energi. Kita memang bangsa yang gemar diskusi, banyak bicara sedikit kerja.
Salam merdeka !
Surabaya, 27 Juni 2021
M. Isa Ansori
Dosen dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi