SURABAYA – KEMPALAN : Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya bekerjasama dengan n0lkecil Creative Space menyelenggarakan pameran berjudul “Maskbook”. Di Indonesia, seniman Joko Avianto diajak untuk memamerkan karya seninya.
Digagas oleh Art of Change di tahun 2015, sejak 2020 proyek ini mendapat dukungan Kementrian Luar Negeri Prancis, untuk dikenalkan kepada masyarakat umum, dalam rangka 5 tahun peringatan COP 21/Paris Agreement. Joko diundang oleh Art of Change 21 untuk turut serta dalam pameran MASKBOOK 21 di Prancis.
Kini pameran tersebut bisa dinikmati di tiga kota besar yaitu Jakarta, Bandung dan Surabaya. Khusus di Kota Pahlawan, pameran berlangsung hingga 3 Juli 2021.

Dikenal sebagai seniman instalasi bambu dengan pendekatan seni patung. Karya Joko sebagian besar menyerukan permasalahan lingkungan, budaya dan manusia, dengan visual bentuk dan treatment yang ekstrim menampilkan bentuk masif seperti karya monumental yang gigantik.
Dalam instalasi seninya, Joko menggunakan bahan sintetis High Density Polyethylene (HDPE) yang digunakannya selama dua tahun terakhirnya. “Di karya ini saya menggunakan bahan jenis HDPE yang memiliki kekuatan 14 tahun dan benda yang sama bisa didaur ulang sampai 7 kali. Nama populernya ‘eco vaux’, meniru pola atau motif bahan alam,” jelasnya, Sabtu (26/6).
Bahan ini juga bisa diisi juga di awal pembuatannya oleh, misalnya, serbuk kayu, sekam, dan bahan-bahan yang berasal dari alam. “Produsen pabrik Viro (asal Tangerang, Indonesia), membantu memproduksi bahannya, kemudian saya memodifikasi untuk dijadikan bahan anyaman di karya-karya saya,” ujar pria yang menggelar pameran tunggal di Esplanade Singapore 2018 itu.
Joko menampilkan dua masker. Yang pertama adalah Hudoq sebuah masker tolak bala dan pengusir hama yang biasa digunakan masyarakat Kalimantan. Bentuknya mewakili simbol maskulin, pelengkap sisi lainnya yaitu feminine, dalam hal ini alam – bumi.
Masker kedua ialah “Seseg” atau sasag, sejenis anyaman bambu menyilang vertikal, horizontal, dan berumpak. Dalam masyarakat Sunda, seseg dikenal memiliki filosofi Tuhan, alam, dan manusia, serta sangat kaya makna mikrokosmos dan makrokosmos. Seseg diciptakan untuk merespon alamnya.
Kedua masker ini diperagakan artis yang juga aktivis lingkungan Nadine Chandrawinata dalam mendium foto.
Pameran ini menarik penikmat karya seni, salah satunya adalah Imam. Meski harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat, pria asal Lidah Kulon ini menikmati pameran tersebut. Apalagi isu yang diangkat berkaitan dengan kesehatan, lingkungan dan pandemi.

“Sangat menarik karena sekarang pandemi dan ada pameran masker yang sangat artistik,” katanya.
Imam mengungkap ternyata Indonesia sudah mengenal berbagai masker dengan fungsinya masing-masing. Bila dikaitkan dengan kondisi saat ini, masker artistik ini diharapkan bisa mengubah imej negatif masker ke arah ya g positif. “Semoga bisa menggugah masyarakat agar tidak malas bermasker selama pandemi Covid-19 ini demi kesehatan dan lingkungan sekitar,” harapnya.
Sebagai penutup pameran “Maskbook”, IFI Surabaya mengadakan workshop kreatif Découpage secara daring, didukung oleh n0lkecil. Peserta akan dipandu membuat karya seni dengan menfaatkan bahan bekas, berupa botol kaca atau toples bekas. (Nani Mashita)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi