Minggu, 5 Juli 2026, pukul : 18:16 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Hera semalaman tidak bisa tidur, dia  menyandarkan tubuhnya di sofa, dengan posisi seperti itu, nafasnya sedikit lega dan tidak batuk-batuk. Hera menelpon ke rumah ibunya, telpon diterima oleh adiknya. Hera memberitahukan kepada adiknya bahwa besok dia akan masuk rumah sakit, karena paru-parunya bermasalah. Hera ingin ibunya menunggui. Entah mengapa di saat-saat krusial dalam hidupnya, hanya ibunya yang selalu diingatnya. Adiknya sangat kaget mendengar cerita kakaknya. Adiknya menjawab bahwa ibunya mendadak ikut kakak pertama, mudik liburan satu Suro. Karena di desanya sedang ada tradisi wayangan yang digelar setahun sekali, tiap tanggal satu Suro. Simbahnya Hera sebagai pemarkasa awalmula tradisi wayang di desa itu, sehingga ibunya seakan ada keharusan untuk pulang kampung. Mendengar berita ibunya sedang tidak ada, hati Hera  sangat sedih. Ingin rasanya bilang kepada dokter untuk menunda lagi tindakannya sampai ibunya kembali ke Jakarta.Tetapi Hera sudah menundanya, dokter tentu akan marah jika sarannya diabaikan. Saat penundaan yang pertama dokter sudah tidak setuju, Hera nekat pulang dulu. Hera menjadi seperti anak kecil, ingin sekali ibunya ada di dekatnya, cermin dari kecemasan hatinya mendalam.  Dia merasa lebih tenang jika ibunya yang menunggui. Batin Hera, jika terjadi sesuatu, tidak ada umur lagi, harapannya Ibunya lah yang dilihat terakhir.  Ibu Hera adalah sumber kekuatan, inspirator, sumber segala harapan dan doa yang tidak pernah putus. Tin adiknya berjanji akan langsung ke rumah sakit pagi-pagi. Hera sebenarnya tidak ingin merepotkan siapapun. Tetapi adiknya wajib tahu kondisi kakaknya dan tindakan apa yang akan dilakukan oleh dokter. Adiknya harus membuat laporan pada keluarga. Hera sendiri tidak tahu tindakan apa ya yang akan dilakukan dokter. Bayangannya,  minimal seperti ceritanyq seorang bapak saat ketemu di ruang tunggu pasien. Cukup membuat ciut dan deg-degan. Hera menyiapkan perlengkapan sekedarnya untuk dibawa nginap ke rumah sakit keesokannya.

Cuaca pagi sangat cerah, saat Hera berangkat dibonceng motor oleh Danang menuju rumah sakit. Hera minta ditinggal saja karena ada Tin adiknya yang akan menungguinya. Lebih baik Danang mengurus anak-anak di rumah. Hati Danang mungkin lega mendengar instruksi itu. Karena Hera tahu Danang sangat takut dengan rumah sakit. Dalam sejarah hidupnya kalau sakit hanya minum obat warung, tidak berani ke rumah sakit, takut ditusuk jarum untuk pemeriksaan darah, apalagi disuntik. Hera juga merasa tidak tenang jika Danang yang menungguinya, akan lebih baik dan manfaat mengurus rumah. Hera langsung menuju loket rawat inap, menyampaikan copy formulir, petugas berkoordinasi menyiapkan kamar dan kelengkapan medis. Hera menandatangani sendiri semua dokumen yang harus di tanda tangai. Si petugas bertanya ” ibu tidak diantar keluarga?”

” Nanti ada tapi belum datang ” jawab Hera pendek.

” Ooh. Baik ditunggu ya bu, sebentar lagi ada suster yang akan mengantar ibu ke ruang perawatan”  Suster front office menjelaskan. Rumah sakit swasta memang beda dalam hal pelayanan, lebih ramah dan lebih cekatan.

” Baik Sus” Jawab Hera rasanya ingin segera menuju ruang perawatan. Hera mengambil kelas satu. Tak lama kemudian adiknya datang, bersama suster mereka menuju ruang perawatan yang sudah dipersiapkan. Hera lalu menyerahkan obat yang tersisa atas saran dokter. Sesuai SOP,  lengan Hera lalu diinfus. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya Hera merasakan diinfus, lengannya dicoblos dimasukkan jarum dialiri cairan melalui selang infus. Fungsi infus mungkin untuk menambah kekuatan, karena cairan yang dialirkan mengandung obat dan vitamin. Badan Hera terasa lebih segar setalah dua botol infus masuk ke dalam tubuhnya. Seharian tidak ada tindakan apa-apa, selain hanya minum obat, makan dan diinfus. Dokter spesialis paru baru berpraktik di hari ke dua itupun jadwalnya malam hari. Suster memberitahukan bahwa tindakan terhadap Hera akan dilakukan setelah dokter selesai praktik. Kasihan adik Hera menunggui dua hari dari pagi sampai malam. Inilah yang membuat Hera, saat kondisi sakitpun merasa tidak enak, merepotkan. Menurutnya toh ada suster di rumah sakit. Tetapi ternyata tidak bisa begitu juga, suster hanya membantu hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan medis sesuai instruksi dokter, plus menghidangkan makanan sesuai anjuran dokter. Untuk urusan pribadi harus ada keluarga yang menunggu dan melayani.

Sekitar jam 9.00 malam dokter Paru mengunjungi Hera dan siap mengambil tindakan berupa penyedotan efusi pleura, pengendapan air akibat peradangan. Hera pasrah saja dan mempercayakan pada dokter ahli untuk kesembuhan penyakitnya. Tindakan seperti yang sudah Hera bayangkan terjadi. Disela tulang Iga Hera disuntik anestesi lalu dimasukan selang yang terhubung dengan kantong seperti kantong donor darah tapi lebih besar.

Selang yang sudah masuk ke rongga dada mengalirkan cairan lalu ditampung di kantong yang sudah disiapkan, sekitar 20 menit selesai. Cukup mengejutkan, dokter memperlihatkan kantong berisi air keruh kuning seperti air seni, sebanyak hampir 1 liter.

” Ini lho air  kotor di paru-paru ibu, yang ibu bawa kemana-mana ” kata dokter memperlihatkan kantong berisi air kuning cair,  tidak kenthal dan tidak merah seperti darah. Sehingga Hera sedkit lega.

“Hhmm kok bisa ya dok air sebanyak itu tiba-tiba merendam paru-paru saya, itu sejak kapan ya dok ” tanya Hera penasaran.

” Ya tidak tiba-tiba bu, sejak ibu merasa sakit dan pernafasan tidak normal” kata dokter

” Ini akibat apa ya dok, saya sesak nafas baru sekitar satu bulan terakhir ini. Dan jika saya tidak rongsen, maka saya tidak akan tahu” tanya Hera, ini pertanyaan ulangan karena Hera penasaran. Batin Hera, bagaimana jika dokter puskesmas tidak menyuruh rongsen? bisa-bisa Hera mati mendadak saat tidur karena tersedak air yg naik dari rongga dada ke leher dan ke saluran pernafasan,  bisa tiba- tiba menghentikan pernafasannya.

“Nanti diperiksa lebih lanjut bu, yang jelas ada peradangan diparu-paru, penyebabnya apa nanti diperiksa” kata dokter yang sudah sangat paham dengan penyakit khusus paru-paru.

“Air di dalam paru-paru ibu ini, nanti akan dibawa ke lab dan diteliti mengandung apa saja”  kembali dokter menjelaskan.

Hera diberi obat yang cukup banyak jenisnya. Hera menginap di Rumah Sakit selama seminggu. Banyak kerabat, saudara , teman kantor dan relasi menjenguk. Rata-rata dari mereka menasehati agar Hera sabar, tidak banyak pikiran dan hidup lebih santai jangan “ngoyo”. Kata yang terakhir itu yang membuat Hera bingung. Ngoyo artinya mengejar sesuatu diluar ukuran atau diluar kemampuan, begitu kira-kira. Hera sadar akan hal itu, tapi kalau Hera tidak ekstra kerja keras siapa yang mau mencukupi kebutuhan hidup kekuarganya apakah saudara dan kerabatnya, yang memberi nasehat itu. Tidak mungkin, mereka hanya bisa memberi nasehat saja, toh mereka juga punya kebutuhan hidup dan urusan masing-masing. Ada salah satu kerabat yang nasehatnya menohok dan memicu Hera untuk bangkit. Dia bilang, jika sakitmu itu adalah akumulasi dari pikiran, kekesalan kepada sesuatu,  apakah setelah sakit,  sesuatu itu akan berubah? Jika tidak. Cukuplah sekali ini saja sakitmu. Untuk apa buang uang untuk berobat, waktu produktifmu hilang, toh yang diharap tidak berubah.  Jangan melemahkan diri,  anak-anak sangat membutuhkan motivasimu. Hera terhenyak dengan nasehat itu, dia sadar, beban hidupnya  ya di pundaknya sendiri. Mana mungkin Hera mebebankan ke pundak orang lain. Selagi diberikan akal budi sifat genep, kata simbahnya, pasti setiap orang bisa berjuang mencukupi kehidupannya, netepi darmaning ngaurip. Hera meyakini itu,  dia kerja keras tidak masalah, karena banyak cita-cita yang ingin dicapainya. Seperti bintang bertaburan dilangit yang biru, amat banyak menghias angkasa. Hera bercita-cita, ingin punya rumah sendiri, tidak ingin lagi ngontrak di rumah petak. Hera ingin menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi, sampai S2 atau S3. Hera ingin menaikan Haji ibunya, Hera ingin jalan-jalan ke Eropa terutama ingin menuhi janjinya, membawa pulang seorang ibu eksil yang tinggal di Belanda dan sudah sangat sepuh  dan putra-putranya, minta tolong Hera bisa mencarikan cara untuk bisa pulang ke tanah air. Hera sudah pasti punya cita-cita beli mobil, agar tidak kehujanan, dan tidak kepanasan.

Semua cita-cita itu butuh perjuangan, butuh kerja keras, dan upaya yang kuat untuk mewujudkannya. Apakah orang lain yang akan mewujudkan? jelas tidak. Cita-cita milik Hera, orang lain belum tentu punya cita-cita yang bertebaran. Bisa saja hanya sedikit cita-citanya  Bahkan suaminya pun belum tentu punya cita-cita yang sama. Hera menbuat skala prioritas untuk cita-citanya, yang  utama Hera ingin punya rumah sendiri yang layak. Target yang berat tapi Hera selalu optimis. Hera yakin akan sehat dan menjadi manusia baru karena penyakitnya sudah diangkat atas pertolongan Allah dengan perantara dokter. Kata dokter hasil dari lab menunjukkan infeksi pada paru-paru Hera, akibat adanya bakteri Tubercholosis. Dengan kata lain Hera menderita sakit TBC. Hera sedikit malu, ini jelas penyakitnya orang miskin, batinnya tersenyum.  Hera lega karena penyakitnya sudah ketahuan, pengobatannya murah, hanya harus minum obat TBC secara rutin disiplin tidak boleh putus selama minimal 6 bulan. Dokter juga menyarankan agar menggunakan peralatan makan minum secara terpisah. Karena penyakit TBC termasuk penyakit menular.

Hera merasa sudah sehat, sehingga diperbolehkan pulang. Badan Hera segar tidak mengurus seperti, penderita TBC pada umumnya. Mungkin jenisnya berbeda-beda. Hera melaporkan keadaan kesehatannya ke kantornya, bahwa dia sudah merasa sehat. Tetapi kebijakan kantornya lain, pimpinannya meminta Hera tidak masuk kantor sampai benar-benar tuntas dengan menunjukan hasil lab TBC nya dinyatakan negatif. Dengan kata lain Hera harus di Karantika. Hera menarima keputusan kantornya, walau sedikit tersinggung dengan kebijakan itu. Ternyata ada hikmah besar dibalik kebijakan itu. Hera bisa beistirahat sejenak dengan nyaman, bisa intens berkumpul dengan anak-anaknya, menjadi ibu rumahan walau sementara. Dan hal lain yang paling menguntungkan, yaitu Hera lebih leluasa mengambil pekerjaan sampingannya, dan masih tetap bergaji di kantor yang lama.

Saat beristirahat selama kurang lebih satu setengah bulan di rumah itulah Hera bercerita kepada anak perempuannya, juga kepada anak laki-lakinya. Betapa berat perjuangan hidupnya betapa berlikunya kisah cinta antara ibu dan bapaknya. Adalah sebuah Pertaruhan besar dan berar  bagi Hera, ibunya, mengapa harus memilih Danang, ayah mereka, sebagai suaminya. Hera menyampaikan kepada anak- anaknya, bahwa dia harus  konsekuen atas pilihannya, tidak boleh ada penyesalan, dendamnya akan diolah dirubah menjadi semangat untuk membuktikan bahwa sebagai anaknya wong mambu dia bisa survive. Hera, ibu mereka, ingin membuktikan bahwa sebagai anaknya wong mambu dia bisa sukses, tidak seburuk yang disangka masyarakat. Tempaan hidup yang sedemikian berat akan menjadikan pribadi yang kuat dan tangguh.

Sekar, putri Hera tidak kuasa menahan air matanya, mendengar kisah ibunya yang demikian dasyat. Hatinya pilu seperti tersayat-sayat, pertaruhan yang luar biasa, jika dia menjadi diri ibunya, mungkin dia lebih suka hidup sendiri. Sekar berjanji kelak ingin membahagiakan ibunya, memenuhi harapan ibunya tekun belajar, menjadi anak yang tidak menyusahkan. Terlebih anak laki-laki nya hatinya sangat geram, dia menahan emosi yang luar biasa, entah kepada siapa.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

chat 1 Chat

  1. Ratna

    Cerita yang bagus belum ada lanjutannya kah, Prof? Ditunggu sudah hampir 2 tahun…

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.