Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 09:09 WIB
Surabaya
--°C

Herry IP: Tekanan Ada di Endo/Watanabe

JAKARTA KEMPALAN: PBSI baru saja menggelar simulasi Olimpiade Tokyo 2020 di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, pada Kamis (17/6) pekan lalu. Dari hasil simulasi itu, PBSI tetap menargetkan pasangan nomor satu dunia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo untuk merebut emas di sektor ganda putra.

Meski The Minions berhasil mengalahkan juniornya, Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan, namun mereka mengaku penampilannya belum maksimal menjelang turun di even olahraga empat tahunan tersebut.

Marcus/Kevin mengatakan bahwa mereka ingin terus mematangkan pola permainan yang belum mencapai level maksimal.
“Kalau puas 100% sih belum. Masih banyak yang harus diperbaiki dan dievaluasi, pola permainan juga belum nemu banget. Ya lebih ke teknis,” ujar Kevin.

Ditargetkan meraih medali emas Olimpiade menjadi beban tersendiri bagi Marcus/Kevin, tapi mereka memiliki cara sendiri untuk meredamnya.
“Faktor paling penting adalah menjaga mental dan tekanan. Harus bisa kontrol emosinya. Kami ditarget emas tapi tidak ada yang jamin bisa dapat kan? Jadi sebisa mungkin dijaga hatinya agar tidak menggebu-gebu pengen, nanti takutnya malah kepikiran dan kalah,” pungkas Marcus.

Pandangan berbeda diungkap Kepala Pelatih Ganda Putra PBSI Herry Iman Pierngadi. Pelatih berjuluk Naga Api ini mengatakan, beban emas Olimpiade Tokyo 2020 justru ada di ganda putra Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe. Selain menilai dari catatan prestasi terakhir, Endo/Watanabe merupakan tuan rumah yang tentunya dituntut untuk tampil maksimal di hadapan publik sendiri.

Herry IP

Endo/Watanabe kini duduk di peringkat empat dunia. Mereka adalah salah satu musuh terberat dua ganda putra Indonesia yang menempati rangking pertama dan kedua dunia, Marcus/Kevin dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Melihat catatan pertemuan terakhir, Marcus/Kevin takluk enam kali berturut-turut dari Endo/Watanabe, dan hanya memenangkan dua pertemuan pertama. Sebaliknya, Hendra/Ahsan unggul jauh 6-2 atas Endo/Watanabe, namun di pertemuan terakhir mereka di All England 2020, Hendra/Ahsan takluk dalam dua game langsung, 19-21, 18-21.
“Sampai saat ini persiapan Kevin/Marcus dan Hendra/Ahsan normal-normal saja.

Mereka adalah pasangan-pasangan unggulan. Marcus/Kevin sudah lama tidak bertanding, dan mereka kalah di pertemuan terakhir dengan Endo/Watanabe, jadi sebenarnya tekanan ada di Endo/Watanabe,” ujar Herry dikutip dari Bolalob.

“Endo/Watanabe adalah tuan rumah dan di beberapa pertemuan dengan Marcus/Kevin pun mereka menang terus, pasti ada pressure di Endo/Watanabe.

Sama Hendra/Ahsan juga di pertemuan terakhir kan mereka menang. Apalagi Jepang digadang-gadang bisa sapu bersih medali emas di badminton, tapi kita lihat nanti di lapangan seperti apa,” ujar Herry.

Duel terakhir Endo/Watanabe dan Marcus/Kevin terjadi di final All England 2020. Pertandingan dimenangkan Endo/Watanabe dengan permainan rubber game, 21-18, 12-12, 21-19.

Endo/Watanabe tak terkalahkan di dua turnamen terakhir yang mereka ikuti. Setelah menang di All England 2020, Endo/Watanabe mempertahankan gelar juara mereka di All England 2021. (PBSI, muhammad tanreha)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.