
KEMPALAN: Hera menulis surat kepada mbak kostnya, Pertiwi dan mas Bagas, mengabarkan kalau dia sudah bekerja bahkan sudah di dua kantor. Hera juga bercerita hal-hal yang lucu-lucu bagaimana Hera menyesuaikan diri di lingkungan kantor, dan Hera merasa paling ndeso, baik penampilannya maupun keluguannya. Sambil menulis Hera tidak bisa menahan tawa. Iseng Hera bertanya tentang Martono kepada Pertiwi, siapa tahu sepeninggalan Hera, Martono suka mampir saat pulang kuliah.
Tidak terlalu lama menunggu surat balasan dari Pertiwi, mungkin sangat senang menerima surat dari Hera, dan langsung membalasnya. Sudah lama keduanya tidak saling berkabar berita, bertukar cerita. Tentang Martono, Pertiwi cerita kadang ia pulang kuliah lewat depan rumah dan mampir ngobrol dan suka membawakan Lumpia. Lalu Pertiwi menanyakan kapan undangan pernikahan Hera dan Danang, sebab sang fotografer Martono siap hadir, untuk menepati janjinya.
Hera senang membaca surat mbak kostnya, terutama mendengar kedekatannya dengan Martono si sipit yang baik hati itu. Semoga keduanya akan berjodoh.
Lain hal tentang Danang, sehari kemudian, suratnya datang, mengabarkan bahwa sudah pasti pindah ke Jakarta bulan depan. Dan minta persetujuan Hera atas keputusannya menikahi Hera tiga bulan kemudian, setelah lepas masa percobaan. Hera konsisten dengan komitmennya dan meng-iyakan. Hera sudah pasrah ibarat air, Hera ingin mengalir mengikuti alurnya. Hera menyampaikan hal ini kepada keluarga besarnya. Karena pernikahan direncanakan di desa dan simbahnya sebagai pemangku hajat, maka Hera harus mudik lebih dulu menyampaikan segala sesuatu berkaitan dengan pernikahannya. Hera juga harus ke Semarang menyampaikan undangan secara langsung, setidaknya informasi bulannya kepada teman-teman kostnya, mas Bagas dan teman-teman kampusnya yang sebagian besar belum lulus.
Danang tiba di Jakarta bersama beberapa temannya yang juga memilih mutasi di Jakarta. Selama setahun Danang dan teman-temannya diberikan fasilitas tempat tinggal berupa satu rumah untuk ditempati rame-rame. Danang merasa tidak nyaman, karena rumah kontrakannya jauh sehingga dia usulkan pada Hera untuk segera menikah dan mencari kontrakan sendiri yang tidak jauh dari rumah ibu dan dekat kantornya. Hera mengiyakan. Memang sesuai rencana akan ngontrak sendiri, jika sudah menikah.
Hera bersiap-siap mudik, Hera harus matur kepada simbahnya. Tentang keseriusan acara pernikahan yang akan diselenggarakan di rumah simbah. Sebuah kebanggaan yang tiada tara bagi simbah bisa mantu cucu, dan sebagai pemrakarsa hajatan pernikahan Hera dengan Danang yang bagi simbah merupakan momen penting yang sangat ditunggu-tunggu. Tiba di desa Hera disambut gembira oleh simbah. Hera kulitnya telah berubah menjadi terang dan bersih, membuat simbah simbok dan kerabat dekat di desa pangling.
Hera menceritakan maksudnya dan meminta mbah kakung menentukan hari H pernikahannya. Mbah Kakungnya biasa didatangi warga sekitar yang akan punya hajat mantu atau sunat, minta dicarikan hari baik. Padahal semua hari baik untuk hajatan paling baik ya hari Sabtu atau Minggu. Simbah Kakungnya Hera mencari lidi korek api dijejer-jejer, dihitung untuk mencari tanggal dan hari pasaran yang baik, menurut perhitungan Jawa. Hera manut tidak mudeng bagaimana rumus mbah kakungnya dalam mencari tanggal dan bulan baik. Simbah putrinya memanggil lik Suradi agar menebang dahan cabang pohon nangka dan beberapa pokok pohon mangga sebagai kayu bakar untuk memasak adang nasi, merebus ribuan telor dan merebus ayam-ayam kampung untuk sop manten, hidangan khas hajatan nikahan untuk daerah Klaten. Kayu yang ditebang lalu di wadung dengan pethel besar. Kayu yang sudah jadi potongan kasar lalu dijemur, setelah kering ditata rapi, di teras samping rumah.
Hera melihat keriangan Simbahnya hatinya seperti berbunga-bunga akan ada pesta dan keramaian di rumahnya tamu-tamu kerabat akan berdatangan. Simbah akan merasa bangga memiliki cucu Hera dan berbesanan dengan pak Camat. Kebalikan dengan Hera, hatinya masih ragu, tepatkah pilihannya ini, apakah bukan hanya karena emosi saja ataukah murni karena cinta?. Hera dan Danang memang menang melawan arogansi orang tuanya. Ini adalah tonggak sejarah konsiliasi alamiah di akar rumput antara korban dan pemenang sejarah.
Hal lain yang penting bagi Hera dan generasi berikutnya, bahwa cinta harus bebas dari pengaruh apapun yang bukan urusan cinta. Bebas dari politik, kepercayaan, keyakinan, suku. Karena justru yang berbeda akan menjadi klop. Analogi botol atau toples dan tutupnya, bentuk beda tapi jika ditangkupkan akan menjadi pas matching. Jujur Hera lega dan puas dengan kemenangannya. Tapi menikah berumah tangga adalah sebuah gerbang menuju dunia baru yang lebih complicated, banyak persoalan di dalamnya.
” Nduk akhirnya kelakon juga ya kamu menikah dengan mas Danang” , kata simbah dengan hati gembira. Membuyarkan lamunan Hera.
” Iya mbah berkat doa simbah dan ridhoNya Gusti Allah semua bisa terwujud”, jawab Hera tersenyum.
” Yowis atine dimantapkan ” ,mbah Kakung menyaut, urun nasehat.
“Iya mbah semoga semua berjalan lancar, tidak ada halangan suatu apa”, jawab Hera lagi. Seakan mbah kakungnya tahu hati Hera sedang penuh keraguan. Hera punya catatan target- target yang harus dicapai dalam hidupnya. Dan dia membayangkan akan tertatih-tatih dalam meraihnya, sendiri.
” Nek wis dadi pilihane seneng susah kudu disonggo bareng” tambah mbah kakung lagi.
Dalam hati Hera, nah ini apakah nanti bisa berjalan seperti nasehat itu? seneng susah disonggo bareng ditopang bersama, dirasakan bersama. Kalo senang bersama itu wajar tapi kalo susah apakah mau bersama-sama. Hera sudah biasa susah yakin tidak kaget, kerja keras, hidup penuh masalah sudah biasa menjadi makanan sehari-hari. Sebenarnya itu yang membuat bosan dan ingin hidup senang saja. Tapi itu tidak mungkin dan bukan tipe dan karakter Hera. Kenikmatan hidupnya selama ini harus diperoleh setelah kerja keras dan lolos dari segala masalah. Walaupun masalah akan selalu timbul lagi timbul lagi akibat dari pilihannya, pilihan pekerjaan pilihan keputusan dari berbagai case dalam hidupnya. Demikian kehidupan manusia di dunia, selama masih hidup akan bertemu dengan si mas alah. Dan Hera ingin memberi keynote bahwa masalah itu bukan beban tetapi keniscayaan hidup dan tugas hidup yang harus diselesaikan. Karena masalah timbul akibat atau konsekuensi dari pilihannya.
Setelah nyekar leluhur dan kerabat yang sudah meninggal terutama mbah Semarang alias mbah tuwo. Simbah memanggil pakde-pakde dan bude- bude sepupu dan orang-orang lingkungan yang inti -inti seperti pak RT dan pak RW. Mereka mengadakan rapat kecil. Untuk nantinya diadakan rapat Kumbokarnan, yaitu rapat besar dengan berbagai pihak, untuk pembagian peran, tugas dan segala hal berkaitan dengan acara pesta. Siapa yang berperan sebagai gladak yang mengkordinir kosumsi dan memantau kesiapannya dari dalam hingga terhidang dengan baik. Yang berperan sebagai pranotocoro, upacara adat, siapa pager ayu pager bagus, dan lain-lain. Tidak ada Wedding Organizer. Semua dipersiapkan secara gotong royong.
Di dalam Kumbokarnan ada pihak keluarga calon mempelai laki-laki. Rapat diadakan untuk mematangkan pembagian tugas. Yang aneh Jimo yang dulu menjadi momok penghalang kini tampil bak pahlawan. Dia banyak usul.
” Untuk urusan kelua-keluar serahkan saya. Pasti beres.” jimo ngomong dengan percaya diri dan nampak pingin menonjol di mata pak camat. Jimo juga ingin mencuci dosa di depan mbah Mangun.
Hera sebel tapi juga ingin tertawa lihat tingkah Jimo Belong. Memang dimana-mana ada manusia jenis begitu.
Dari desa Hera menyempatkan mampir ke Semarang mengabarkan ke teman- teman kampusnya. Hera bertemu dengan mbak Pertiwi dan Hera berpesan agar Martono diberitahu soal rencana pernikahan ini. Hera kembali ke Jakarta melaporkan kesiapan simbahnya.
Hari H sudah dekat Hera matur kepada pakdenya yang guru tari klasik, beliau akan memetik murid-murid terbaiknya untuk menari gambyong, gambir anom, dan karonsih. Iringan musik tarinya, live gamelan persembahan ibu-ibu dari desa Hera.
Acara pernikahan dipastikan akan meriah. Tapi hati Hera tidak meriah karena akan melepas sebagian dari kemerdekaan hidupnya.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi