Konsultasi Dokter

Tak Konsumsi Junk Food tapi Tetap Gemuk? Begini Penjelasannya

  • Whatsapp
Dokter spesialis penyakit dalam Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Hermina Novida, dr., Sp.PD, KEMD

SURABAYA – KEMPALAN : Junkfood acapkali dianggap sebagai faktor penyebab obesitas pada tubuh manusia. Hal ini menyebabkan banyak orang menganggap pengurangan konsumsi junkfood saja cukup untuk dapat mengatasi obesitas.

Tapi ternyata banyak yang tidak berhasil mengurangi berat badan hanya dengan mengurangi junkfood. Menurut dokter spesialis penyakit dalam Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Hermina Novida, dr., Sp.PD, KEMD, ada beberapa hal yang dapat memengaruhi berat badan seseorang. Pertama, kalori yang masuk jauh lebih banyak dari yang keluar. “Kedua, obesitas dapat disebabkan oleh kondisi lain yang tidak melulu berkaitan dengan asupan makanan,” jelasnya mengawali perbincangan Kamis (10/6).

Ilustrasi junkfood

Dia lantas menjelaskan obesitas akibat konsumsi kalori yang berlebihan. Dr. Hermina menjelaskan ada perbedaan antara junkfood dengan fastfood. Fast food atau makanan cepat saji merupakan makanan yang disiapkan agar bisa segera dikonsumsi, sehingga tidak semua fast food adalah junk food. Sedangkan junk food sendiri merupakan makanan yang kaya akan gula, garam, kalori, lemak jenuh dan memiliki kandungan gizi yang minim. Bila berlebihan mengkonsumsi makanan jenis ini, maka akan menyebabkan penumpukkan gula, garam dan lemak yang memicu kenaikan berat badan atau obesitas. ”Sehingga junk food memang bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya kegemukan atau obesitas,” sebut Dr.Hermina.

Dosen Fakultas Kedokteran UNAIR tersebut juga menjelaskan obesitas yang disebabkan bukan karena asupan makanan. “Keadaan hipotiroid, gangguan hormon adrenal atau kondisi-kondisi tertentu juga bisa menyebabkan kegemukan,” jelasnya.

Menurutnya, mengurangi asupan kalori dan meningkatkan aktifitas fisik merupakan kunci dari menurunkan berat badan. “Bila obesitas, sebaiknya asupan kalori diturunkan sebanyak 500-1000 kalori dari asupan normal,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, kandungan gizi dalam makanan juga harus diperhatikan. Karbohidrat simpel yang banyak mengandung gula sebaiknya diganti sayur dan karbohidrat kompleks yang mengandung banyak serat. Selain itu, mengonsumsi air putih, menghindari minuman bergula, dan meningkatkan aktifitas fisik, juga merupakan perilaku yang mendorong penurunan berat badan

“Kalau yang disarankan, untuk obesitas sebaiknya melakukan olahraga selama 30-45 menit perhari, sebanyak lima hari perminggu dengan intensitas sedang. Namun jika pasien obesitas ingin turunnya lebih banyak, maka dapat ditingkatkan menjadi 45-60 menit perhari, selama 5-6 hari perminggu,” jelasnya.

Sebelum melakukan program penurunan berat badan, pasien sebaiknya melakukan konsultasi terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi lain yang mendasari obesitas dan adanya pantangan tertentu dalam aktivitas fisik dan diet. (Nani Mashita)

Berita Terkait