Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 53)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Hera dibonceng Danang menuju rumah orang tua Danang. Danang nampak begitu sumringah pagi itu. Hera masih belum percaya dia akan dilamar Danang. Semua serasa terjadi begitu cepat. Jalan menuju rumah Danang mengingatkan Hera pada berbagai kenangan semasa SMA. Di jalan yang Hera lewati itu, Hera pernah jatuh terjun ke sawah karena jalan menurun yang harus nya berbelok, sepeda Hera remnya blong, sehingga Hera tidak bisa mengendalikan. Hera jatuh terluka, Danang dengan sigap menolongnya. Semua berjalan begitu alami tanpa rekayasa.  Di Jalan itu juga Agung saat kelas 3 jelang lulus, sering mbarengi Hera selepas mengantar adiknya yang bersekolah di SMP dekat desa Hera. Agung menunggu di dekat desa Hera, dan akan meninggalkan Hera, dengan memacu laju motornya jelang memasuk desa Danang. Agung merasa nggak enak jika Danang sampai tahu adegan Agung ngobrol akrab dengan Hera sambil mengendarai motornya.

Ketika itu sedang gencar-gencarnya aksi Jimo Belong sebagai spionase pak Camat, melarang hubungan Hera dan Danang, yang berakhir putus. Jimo jadi momok penduduk desa. Ibarat agen rahasia yang siap menjadikan pesakitan setiap orang yang tidak sesuai maunya.  Agung menjadi dekat karena Agung tahu Hera yang membalaskan surat Agung kepada Esti. Kedekatan yang tidak disengaja.

Tidak terasa rumah Danang sudah dekat, motor memasuki jalan tengah desa Danang. Lalu berhenti di depan rumah besar dengan jendela kayu jati yang tinggi, rumah bangunan lama tetapi kokoh. Halaman samping dan halaman belakang masih luas. Ada rumpun bambu, dan beberapa pepohonan di sisi rumah. Ada juga pohon duwet yang jadi ciri khas rumah Pak camat. Hera sedikit minggrang-minggring memasuki rumah Pak Camat. Danang mengajak Hera duduk di ruang tamu depan. Lalu Danang memanggil orang tuanya

Tak lama kemudian ibu camat muncul. Hera bangkit.

“Assallamu’alaikum, sugeng siang ibu”, Hera memberi salam dengan penuh hormat. Bu camat pun menyalami Hera dengan hangat.

“Eh mbak Hera dipenake yang lenggah,  tak panggil bapak dulu ya”, kata Ibu Danang ramah sambil kembali masuk ke dalam. Danang muncul duduk disamping Hera menemani. Tak lama kemudian, pak Camat muncul dan memberi salam pada Hera penuh kehangatan.  Tidak ada kegarangan seperti yang dia bayangkan.

“Piye nduk kabare rak yo apik-apik wae to, kuliahnya lancar? Apa malah sudah lulus?”  kata pak Camat denga penuh keramahan. Hera kaget dipanggil nduk. Panggilan sayang dan panggilan simpati bagi orang Jawa Tengah wilayah Solo dan sekitarnya. Dari panggilannya kepada Hera yang demikian, rasanya tak perlu lagi Hera membalas sesuai skenario yang dibuat oleh Danang. Tetapi jika ada kesempatan mengapa tidak,  perlu juga mengemukakan pendapat atau sindiran halus.

“Sae bapak Alhamdulillah. Sampun lulus,  nunggu wisuda mungkin bisa ikut di bulan Februari”, Hera menjawab asal saja. Jika mungkin benar wisuda akan ikut di bulan Februari tetapi mungkin juga di bulan Juli. Lha wong skripsinya saja belum selasai. Batin Hera tertawa kecil dalam hati. Sekali ini dia ngibuli pak camat yang telah lama membuat sejarah hidupnya jadi pelik.

Lalu bapaknya Danang bertanya lagi tentang apa rencana Hera selanjutnya. Persis perkiraan Danang. Hera pun menjawab sesuai skenario. Yaitu akan melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta. Hera ingin dekat dengan keluarganya di Jakarta, setelah sekian lama terpisah. Ibu dan pak Camat mendengarkan. Hera menyebut sedertan perusahaan asing atau yang bernama asing. Bu Camat nampak gumun, mendengar kelincahan lidah Hera bicara kata- kata asing, Schlumbeger, Schneider, Halliburton, dan lain-lain. Semua perusahaan yang hebat-hebat Hera sebut.  Bu Camat dan Pak Camat tentu tidak mudeng, seperti dua kutub yang berbeda. Tidak nyambung. Tidak lupa pula Hera menyampaikan bahwa dia tidak berani  melamar kerja di pemerintahan menjadi PNS. Jika pun terpaksa belum ada yang nyangkut, Hera ingin menjadi guru di Sekolah Swasta. Hera bicara dengan lancar dan penuh percaya diri. Lalu bapak ibu Camat agak tersipu tidak enak. Karena dengan berkata begitu Hera menunjukan siapa Hera dan statusnya. Hera tidak ingin bersembunyi dan berpura-pura. Hera sudah nothing to lose. Bapak dan ibu camat menyadari anak perempuan di depannya ini, yang lama dilarang didekati Danang, punya  kelas tersendiri jika dibanding anak lelakinya. Kemampuan Hera berada agak jauh di atas.

Lalu Pak Camat berkata lagi dengan pelan tapi serius,

“Nduk, aku dan ibu sebagai orang tua Danang tidak akan tinggal diam melihat kalian berdua sudah lama berteman dan berhungan dekat, sepertinya tidak bisa dipisahkan,  istilah orang Jawa anak polah bapa kepradah. Bapak Ibu akan sowan simbah untuk melamarkan Danang”, kata pak Camat.

Hera tidak kaget dan juga tidak senang, biasa saja. Entah mengapa kata-kata mbah Kakungnya terngiang. “Apa wis mbok pikir tenanan untuk menerima lamaran Danang”.  Hera terkaget saat bu Camat ikut melanjutkan.

“Iyo nduk, sudah saatnya bapak ibu sowan matur simbah, meminangmu”

“Inggih pak, bu, mangkeh dalem matur simbah”, jawab Hera terbata. Hera melirik Danang yang tersenyum bahagia dan lega hatinya Cita- citanya hampir tercapai. Mungkin ujung cita-citanya Danang adalah mempersunting Hera. Sedangkan cita-cita Hera, masih sangat jauh tak berujung.

Hera membatin di lubuk hatinya terdalam,  dengan didampingi seorang  Danang akankah cita-citanya bisa terwujud? Tapi Hera sudah berketetapan seperti jawaban pada simbahnya, akan mewujudkan segala cita-citanya sendiri.

Lalu pak camat melanjutkan bicara,

“Besok rencana bapak akan sowan simbah nglamar,  istilahnya orang jalan, biar tenang tidak menggak- menggok lagi”, demikian Pak camat menjelaskan.  Hera tersenyum seakan tersindir. Danang hanya senyam-senyum nampak sekali wajahnya ceria. Lalu Bu Camat  melanjutkan usulan.

“Sebaiknya setelah melamar langsung saja ditentukan hari akad nikah sebelum Danang balik ke  Kalimantan, biar tenang”, kata Bu Camat mengagetkan Hera.

“Mohon maaf bu, saya harus matur bapak ibu Jakarta dahulu. Untuk melamar cukup kepada simbah. Tetapi keputusan setuju tidaknya Akad Nikah dalam waktu dekat itu orang tua saya ikut memutuskan”,  Hera menyampaikan pendapatnya secara hati-hati.

“Ooh ngono ya sudah coba nak Hera telpon matur kepada bapak-ibu dulu, apakah setuju jika Akad Nikah disegerakan”, kata bu Camat.

“Bapak setuju dengan usulan ibu, biar kalian ada ikatan,  karena saat ini jarak kalian cukup jauh”,  Pak Camat menimpali.

Hera bingung dalam hati berkata, waduuh kok  pak bu Camat kok  jadi malah ngebet, sementara pikiran Hera mau hidup santai dulu sejenak. Mau cari kerja yang baik, menikmati hasil kerjanya tanpa direpotkan ini itu. Tapi rupanya Tuhan tidak mengijinkan Hera bersantai. Dalam hati Hera berkata: rencana Tuhan pasti baik.

Tak lama kemudian Hera pamit kepada orang tua Danang dan berjanji akan menyampaikan rencananya kepada bapak-ibunya di Jakarta. Hera pulang diantar Danang dan meminta Danang mengantar lagi ke kantor telpon di Delanggu. Ini masalah penting menyangkut kehidupan Hera selanjutnya. Dan Hera juga sudah berjanji kepada ibunya ingin menghubungi lagi. Tiba di kantor telpon petugas segera menghubungkan nomer telepon rumah Hera. Mas Edi kakak Hera sudah memasang telepon di rumahnya, sehingga sudah tidak perlu numpang ke tetangga. Petugas mempersilahkan bicara.

Hera menyapa ibunya di seberang sana menanyakan kabar keluarga. Dan langsung ke inti persoalan. Ibunya kaget saat Hera menyampaikan rencana bapak ibu Danang. Ibunya tidak setuju dan sedikit marah, jika Hera akan di Akad Nikahkan segera. Kalau orang tua melamar tunangan, tukar cincin, bolehlah setuju, walaupun ibu juga agak berat mengingat ibu -bapak belum kenal benar dengan Danang. Masih lebih kenal Agung, walaupun cuma sekilas.  Memang Hera tidak memperkenalkan semua temannya secara intensif kepada keluarga karena Hera menganggap masih banyak kendala-kendalanya. Inti percakapan Hera dengan ibunya adalah tidak ada Akad Nikah dalam waktu dekat. Pikir ibunya, anak orang kok langsung aja diminta dan sepihak yang memutuskan. Tetapi Ibu Hera setuju untuk acara tunangan, dan memberikan mandat kepada simbah untuk menerima lamarannya.  Ada nada sedikit gela pada nada bicara ibunya, kenapa Danang tidak diajak ke Jakarta dulu, untuk diperkenalkan.

Masalahnya adalah waktu yang mepet. Danang harus kembali ke Kalimantan. Ibunya juga ada nada tidak setuju jika kelak Hera dibawa ke Kalimantan. Hera menjelaskan mungkin Danang justru akan pindah  kerja di Jakarta mengambil tawaran dari kantornya.  Hera menjelaskan walau sedikit spekulasi. Ibu Hera sedikit lega. Hera mengakhiri pembicaraan dengan ibunya dan pulang ke rumah simbah. Danang tidak bertanya apapun, dia tahu kalau pikiran Hera agak ruwet. Danang mengantar Hera ke rumah simbahnya, lalu langsung pamit. Danang tidak ingin ikut campur, dia memberikan kesempatan Hera berpikir, berembug dengan simbahnya, tanpa ada intervensi dari pihaknya.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait