
KEMPALAN: Tidak terasa, Hera sudah memasuki bulan ketiga, berada dan membaur di desa KKN. Di minggu terakhir bulan kedua, ada sebuah peristiwa menimpa Hera, sebenarnya musibah kecil tetapi membuat heboh warga desa KKN. Suatu pagi Hera bersama temannya Warni membawa keranjang bambu berisi pakaian kotor yang akan dicuci di sumur. Ketika Hera akan menyelupkan pakaian kotornya di bak yang sudah di isi air. Tiba-tiba Hera tersentak dan berteriak “adduuuuh!!” Seekor binatang menyengat tangannya. Sakitnya luar biasa, sampai Hera mengeluarkan air mata. Binatang itu Kalajengking kecil, tidak besar tapi konon bisanya sangat berbahaya. Teriakan Hera membuat beberapa pemuda menuju sumur tempat Hera mencuci.
Salah satu pemuda meminta Hera memperlihatkan posisi bagian tangan yang tersengat. Hera menunjukkan di dekat pergelangan tangan kanan, sakitnya luar biasa. Tapi, tidak ada bekasnya. Si pemuda itu dengan serta merta menyedot di bagian tangan yang tesengat. Hera masih menangis karena panas dan nyeri. Ada seorang nenek tergopoh membawakan garam untuk dioleskan. Lalu ada ibu-ibu membawakan micin,
“Ini micin penyedap rasa bisa untuk penawar racun!”
Entah teori dari mana, Hera nurut saja. Warni mengajak Hera pulang dan melaporkan peristiwa itu kepada pak Petinggi. Hera mendadak demam, badannya panas dan planjeran di ketiak. Ada benjolan besar di ketiaknya. Sedemikian dasyatnya sengatan Kalajengking itu, pikir Hera. Tapi ada pemuda yang nyeletuk
“Dasar anak kota dientup kewan cilik wae semaput, bocah-bocah ndesa makanan sehari-hari!”
Hera mendengar perkataan itu dengan rasa kesal, karena memang benar-benar sakit, bukan pura-pura. Dalam hati Hera semoga yang ngomong itu suatu saat merasakan sakitnya disengat Kalajengking, biar tahu rasa. Pak petinggi dan kekuarganya merasa tidak enak, menyuruh pembantunya membersihkan kamar Hera dan Warni. Karena Kalajengking itu berasal dari kranjang pakaian kotor yang berada di kamar dua cewek itu. Sementara, Hera dipindah ke kamar depan. Suhu badan Hera sangat tinggi, di atas 39o C. Warni bersama Abdullah tergopoh mencari obat ke kota Kecamatan dan melapor ke Posco KKN. Dua cowok temannya Hera menunggui dengan mimik bingung. Hera merasakan sekujur badannya nyeri dan panas. Di ketiak ada benjolan sebesar lebih dari bola tenis, mungkin lebih besar. Ini menunjukkan adanya infeksi atau peradangan.
Ibu Petinggi menumbuk bawang putih dan menanyakan dimana posisi yang disengat, Hera menunjukan. Di situ diborehi tumbukan bawang utih itu. Ibu petinggi itu nampak heran tidak ada bekas sengatan tapi badan Hera kok panas sekali.
“tolong ya mas cari pupus daun pisang.”
Lalu bu petinggi menempelkannya di kening Hera, untuk mengurangi demam. Hal ini mengingatkan apa yang dilakukan simbahnya setiap ada cucunya yang balita demam. Tiba-tiba Hera ingat Agung. Saat badannya demam di kereta akibat ulat kedondong. Luar biasa juga dampaknya. Betapa kaya alam ini, betapa Tuhan maha segalanya, menciptakan makhluk kecil yang bulu-bulunya dan sengatannya bisa nembuat manusia kuat menjadi lemah sakit tak berdaya.
Warni dan Abdullah sudah kembali membawa obat Antibiotik dan antivirus, Hera langsung meminumnya. Dua malam berturut-turut rumah pak petinggi didatangi banyak tamu membezeok Hera. Ada yang baca-baca Yassin, ayat Kursi dan ayat-ayat lain untuk kesembuhan Hera. Hera berasa seperti mau meninggal. Untung obat itu bekerja tepat. Hari ketiga Hera sudah sembuh dari demam dan kembali beraktifitas normal. Semua merasa lega dengan kesembuhan Hera. Semua merasa punya andil akan kesembuhan Hera. Da yang bilang berkat sedotan pemuda tadi, ada yang bilang karena garam, atau mici. Ada yang merasa sudah ikut membaca ayat-ayat suci. Semua bergabung jadi satu. Mana yang paling berpengaruh tergantung keyakinannya masing-masing. Hera ercaya pada obat antiradang dan anti infeksi.
Kenangan tak terlupakan, disengat kalajengking. Membuat Hera sering tersenyum sendiri. Setiap berkunjung ke dukuh-dukuh Hera akan mendapat pertanyaan atau pernyataan dari ibu-ibu.
“Wa bu KKN sudah sembuh, Alhamdulillah!!”
Hera dalam sehari bisa puluhan kali menjawab
“Alhamdulillah bu sampun mantun hehe.”
Hera mendadak populer. Ada rasa haru yang tak ternilai di hati Hera, berita musibah sederhana itu menyebar dan banyak ibu-ibu mendoakan kesembuhannya.
*
Hera dan tim sudah mendekati akhir bulan ke tiga. Ada sesuatu yang akan selalu dikenang selain penyuluhan untuk ibu-ibu dan nyanyi-nyanyi bagi anak-anak, hal lain itu adalah upaya Hera dan tim dengan koordinator dari posko membangun jembatan dari glugu batang pohon kelapa untuk menghubungkan dua dukuh yang dipisahkan oleh sungai. Beberapa warga menyumbangkan pohon kelapanya yang sudah tidak produktif untuk ditebang dan dibuat jembatan. Lebar jembatan 2,5 meter panjang sekitar 10 meter dengan 15 batang pohon kelapa. Acara kunjungan rektor akan berpusat di sini.
Tim KKN sedang mempersiapkan acara kunjungan Rektor di lokasi KKN Jepara. Berhari-hari Hera sibuk ikut mempersiapkan acara ini. Dia menyaipakn konsumsi membuat kroket singkong, dan menata hasil kerajinan. Hera juga menemani salah satu teman tim leader dari desa lain bernama Martono. Dia adalah Instruktur Photografer handal yang mengajar di Ekskul Photograpy Fak Teknik. Hera kasihan melihatnya bekerja sendiri dengan ratusan foto kegiatan yang harus ditempel- tempel. Dia juga yang mencetak , dia juga yang membeli film dengan memakai kameranya. Tapi tidak ada satupun yang membantunya. Hera sangat tidak tega. Hera membantu menempel foto- foto sambil mengobrol dan bercerita ngalor ngidul. Martono keturunan Tionghoa. Satu cowok di tim desa Hera juga ada satu yang Tionghoa. Mereka pendiam sehingga terkesan eksklusif, padahal tidak.
Hera menemani Martono sampai larut malam sehingga Hera tidak bisa pulang ke desanya. Warni sedang menjadi panitia turnamen. Dia berada di posko 2, sama-sama tidak bisa pulang. Tapi saat tengah malam rombongan panitia turnamen tiba di Pendopo, suasana menjadi riuh. Ketua koordinator, Gedeon, mengecek progress kesiapan pekerjaan Martono dan menekankan harus selesai malam itu juga, tapi tidak ada membantu. Hal- hal seperti itu yang membuat Hera sedih, tidak fair. Meraka itu cuma ubyang-ubyung naik mobil haha hihi. Hera jadi makin semangat membantu Martono. Keesokan paginya Hera masih punya tugas memasukkan snack kue- kue ke dalam kardus. Ternyata kunjungan rektor Cuma berlangsung singkat. Apa yang dipersiapkan tidak semua dilihat. Tidak sesuai dengan keribetan yang dibuat. Tapi bisa dimaklumi, rektor harus keliling.
Martono merasa senang ada yang membantu dan menemaninya ngobrol. Martono juga salah satu arsitek perancang jembatan. Martono bertanya kepada Hera
“Apakah sudah punya pacar?Sudah serius atau belum?”
Hera sempat kaget awalnya. Ternyata Martono cuma ingin menawarkan kelak kalau menikah agar memberitahu, Martono akan hadir dan memotretnya gratis. Tiba-tiba Hera terdiam hatinya pilu, wajah Danang, Larso dan Agung melintas di benaknya.
Martono melihat Hera nampak sedih, lalu menanyakan ada apa. Hera entah mengapa malah menmpahkan unek-uneknya untuk sekedar mengusir kantuk. Dia cerita bahwa dirinya sedang menantikan surat dari seseorang yang tidak kunjung datang. Tapi Hera tidak bercerita tentang kisah yang melatarbelakangi. Martono ikut kasihan betapa sedihnya menanti sesuatu yang tak kunjung tiba. Martono simpati pada Hera karena dia sangat peduli.
Sementara teman-teman lain lebih suka bercanda gojek brisik.
Hera merasa heran kenapa tidak ada yang tersentuh dan tergerak untuk menawarkan bantuan. Padahal masih seabreg foto-foto yang perlu dibingkai dan dipajang. Hera bilang pada Martono, jika nanti KKN Martono tidak dapat A, Hera akan protes dan rela nilai A- nya ditukar, diberikan kepadanya. Sejak persiapan acara kunjungan rektor Hera menjadi dekat dengan Martono. Dia membawa motor bututnya ke desa KKN. Martono suka bertandang ke desa Hera. Suatu pagi Martono mengajak Hera ke pantai menikmati Sunrise dan ber foto-foto. Hera membeli ikan pada nelayan, Rp 5.000 dapat dua ikan besar dan kerang satu plastik untuk Hera diberikan kepada ibu Petinggi buat lauk bersama.
Selain acara kunjungan rektor ada juga acara perpisahan. Acara perpisahan antara warga dengan tim KKN di Posko lapangan Kecamatan dipersiapkam sangat meriah. Sebelumnya ada beberapa event olah raga yaitu Bola voly , tenis meja dan Sepak bola. Tim KKN Undip melawan tim Warga. Hampir semua cabang dimenangkan oleh Tim Warga. Terutama Cabang Sepak Bola, Tim Sepak Bola Undip kalah telak dengan Tim Persijap yunior Jepara. Tim Undip menang …alias menang.gung malu, skor 0-5 untuk Persijab Yunior. Acara puncak malam perpisahan akan dihadiri bapak Camat, mungkin bapak Bupati, seluruh kepala desa, seluruh mahasiswa KKN dan para peserta tournamen Olah Raga dan masyarat desa- desa se kecamatan. Karena akan ada Hiburan Musik Dandut dari group Orkes Melayu top dari kota Semarang. Riuh rendah para muda- mudi dan orang tua laki perempuan rela berjalan kaki, kiloan meter. Seperti juga warga desanya Hera, ketika mendengar info ada pagelaran wayang dengan Dalang ki Suroto atau ki Mantep Sudarsono. Maka warga desa Hera dan desa sekitarnya, yang berada di wilayah kabupaten Klaten itu akan berbondong- bondong nonton wayang Dalang Top hingga pagi. Penikmat wayang yang seudah mendarah daging itu, seperti dibawa ke alam lain, alam kerajaan para tokoh- tokoh wayang. Bahkan mbah Mangun menganggap bahwa : Kresna, Yudistira, Arjuna , Wrekudoro, Nakula, Sadewa, Semar, Gareng Petruk Bagong, Abimanyu, Antarejo dan Antaseno, itu benar-benar ada. Lain lubuk lain ikannya, lain daerah lain pula budaya dan adat istiadatnya.
Pak Petinggi mencarter mobil colt mengahadiri perayaan perpisahan di lapangan Kecamatan. Tim KKN desa dan keluarga pak Petinggi, Abdullah dan dua adik laki-lakinya seta pembantunya berdesakan dalam satu mobil itu. Mereka semua nampak gembira. Di Lapangan kecamatan mahasiswa KKN berbaur dengan tim KKN yang lain. Hera tidak menjadi panitia perpisahan, jadi bebas tidak sibuk. Tugas Hera sudah selesai, menjadi panitia seksi konsumsi pada acara kunjungan rektor.
Setelah sambutan-sambutan dan pemberian Piala dan hadiah . Maka puncak acarapun dimulai hiburan hingar-bingar musik dangdut. Sejatinya Hera tidak suka dengan keriuhan musik ber-genre dangdut tapi Hera terpaksa terbawa arus berjoget untuk melegakan masyarakat. Martono yang bermata sipit itu menarik tangan Hera mengajak berjoget dan meminta temannya untuk memotret. Sungguh suatu luapan kegembiraan massal yang asli dan tulus.
Minggu berikutnya Hera dan teman satu tim di desanya dijadwalkan untuk perpisahan di Aula SD. Entah siapa yang membocorkan, ada iringan hiburannya tidak Dangdut, tetapi iringan orgen milik bapak kepala sekolah SD Negeri. Acara perpisahan diadajan di Aula SD Negeri yang biasa untuk acara kegiatan Pramuka anak-anak SD. Pak Kepala sekolah mungkin mengerti selera musik team KKN desanya. Pada kesempatan itu, pak Petinggi menghadiahi Hera lagu Bengawan Solo, dengan suara sumbangnya. Mereka pun ikut bersenandung untuk mensupportnya. Salah satu teman Jatmiko menyanyikan lagu Broeri Pesolima berjudul buah semangka berdaun sirih, yang saat itu sedang hit. Tidak lupa pula lagu-lagu Koe Plus yang umum. Acara perpisahan KKN di desa berlangsung sederhana tetapi khidmat. Mereka mendapat souvernir masing-masing satu pigura kaca cermin dengan bingkai ukiran Jepara. Mereka pamitan dengan perasaan haru karena Hera yakin tidak akan pernah bertemu lagi. Abdullah mengikuti saran Hera, untuk berkuliah di Semarang. Kampus Collage nya Instutute Informatika tidak jauh kost Hera. Tetapi Hera tidak sempat memonitornya. Karena sangat sibuk dengan urusannya sendiri, ngebut perkulihannya dan membuat skripsi.
*
Sebulan telah berlalu sejak Hera kembali ke kost nya. Surat dari Danang bln kunjung datang. Satu lagi surat adiknya menanyakan hal yang sama sperti surat pertamanya. Hera segera membalas dengan jawaban yang sama seperti surat balasan yang pertama.
Suatu siang Hera, menerima tamu seorang perempuan gadis sebayanya. Dia mencari alamat Hera yang mudah sekali di dapat karena di Jalan Raya. Perempuan itu sungguh baik dia membawa satu amplop coklat besar berisi surat dan satu album foto-foto ukuran post card. Dan satu bundel ampol itu titipan dari Danang. Betapa riangnya hati Hera tidak terlukiskan. Seakan dunia ikut tersenyum gembira. Setidaknya Danang selamat tidak terjadi hal- hal yang buruk.
Percuma Hera ingin bertanya lebih lanjut tentang keadaan Danang sebab mbak yang baik itu hanya dimintai tolong oleh kakak iparnya mencari alamat Hera. Yang kebetulan si mbak itu mahasiswa Undip. Hera melihat amplop Danang sekilas tanpa alamat sehingga dia tidak bisa membalasnya melaui pos. Hera meminta alamat si mbak untuk mengantar balasan surat dan sesuatu untuk Danang. Tetapi mbak yang baik itu akan kembali lagi besok sepulang dari kampus, jika ingin menitip sesuatu.
Surat Danang mengabarkan tentang keadaannya yang sehat walafiat dan menikmati pekerjaanya. Dia merasa senang dan krasan karena berkumpul dengan orang-orang Jawa dan para sarjana Program MT. Kerjanya di bagian Logistik dan Administrasi Gudang. Pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian khusus. Betapapun Hera sangat lega dan gembira atas kabar yang diperolehnya. Tapi ia sudah terlanjur membalas surat kepada adik Danang. Selang beberapa hari Hera menulis lagi surat untuk adik Danang dan melampirkan satu lembar foto Danang sebagai bukti.
Tak mau ketinggalan surat Larso pun tiba, menanyakan kabar dan apakah sudah selesai KKN nya. Surat Larso kali ini terasa beda. Hati Hera mak sengkring seperti ada tusukan duri. Hera tentu akan membalas-nya dan menanyakan ada apa sebenarnya.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi