Rabu, 29 April 2026, pukul : 13:56 WIB
Surabaya
--°C

Mana Mungkin “Yahudi Pesek” Ngerti Jasa Palestina pada Negeri Ini

KEMPALAN: Pastinya jumlahnya tidak banyak, tapi mampu mengkloning diri, lalu menjadi seperti banyak. Tapi suaranya menjadi riuh di media sosial. Ia lah yang saat ini dapat julukan “yahudi pesek”. Julukan yang pastinya buruk.

Mereka tampil seolah mayoritas, itu pun tampil dengan nama anonim. Tidak mungkin tampil gunakan nama yang emak-bapaknya kasi. Ia sadar bahwa yang dilakukan itu salah dan menjijikkan, masa zionis penjajah dibelanya.

Mereka itu ya buzzer yang dibayar. Entah siapa yang membayarnya. Para yahudi pesek itu pun tidak akan tahu siapa yang membayarnya. Ia pun tidak perlu susah-susah cari tahu siapa yang membayarnya.

Buatnya gak penting siapa yang membayarnya. Buatnya yang penting ia dibayar, dan itu lumayan buat ngisi perut dan bisa ngebul rokok kretek nemeni saat di jamban sambil cari inspirasi.

Menjijikkan kerja kok sampai cari inspirasi di tempat buang hajat begitu. Terus mau apa lagi, inspirasi buruk dari pekerjaan buruk, ya pastinya didapat di tempat tidak semestinya. Wacana mereka itu kan simpel, cuma makan dan lalu buang hajat.

Kalau ada yang heran, kok ada yang ngaku-ngaku hidup di negeri Pancasila tapi kelakuannya membela penjajahan di muka bumi, dan itu zionis Israel. Lalu memaki-maki para pejuang yang tanahnya dirampas penjajah, dan itu Palestina.

Maka tidaklah perlu heran. Ini cuma fenomena perut. Ini masalah mencari pekerjaan yang sulit, maka pekerjaan membela penjajah zionis bengis ia terima. Pekerjaan nista ia sambar. Meski dengan berat hati, rasa malu dan akan menyisakan kepedihan panjang.

Kemiskinan di negeri ini sampai puncaknya di mana mata, hati dan pikiran dihargai dengan amat murah. Bahkan bekerja pada “juragan” tak berbentuk pun, bahkan siapa pun itu sebenarnya tidak diperdulikannya.

Mereka ini sebenarnya buzzer lokal yang biasa dapat orderan semacam “ganyang” Anies Baswedan, lalu untuk sementara segmentasi orderan agak dibuat menginternasional dengan membela zionis Israel, dan mencaci maki pejuang Palestina.

Memang tidak persis tahu, apakah itu pemain lama, atau hanya sebagian dari mereka yang dipakai, sedang sisanya rekrutan baru. Sekali lagi, tidak ada yang tahu. Ini kerja layaknya kerja intelejen, yang serba rahasia.

Juga idak persis tahu, apakah yang mendanai para buzzer yahudi pesek, ini juga Bos yang sama dengan yang mendanai para buzzer yang garap pembusukan tokoh-tokoh yang memilih jalan kritis pada kebijakan pemerintah. Sekali lagi, ini kerja penuh rahasia khas inteljen.

Keuntungan Apa dengan Bela Zionis Yahudi Itu

Memang otak waras gak akan nyambung dengan apa untungnya mereka bela zionis Israel itu, dan lalu mencaci maki para pejuang Palestina. Mereka yang tahu baca sekali-kalinya Pembukaan UUD 1945, gak akan bisa melakukan pekerjaan itu.

Tapi bagi otak licik penggadai negeri, maka keuntungannya pastilah ada. Karenanya, ia berupaya mewujudkannya meski jalannya pelan seperti keong, tapi jelas menuju ikhtiarnya.

Kembali pada fenomena yahudi pesek, bahwa itu ada. Jika lalu ditanyakan keuntungannya itu apa buatnya. Pastinya ia butuh pekerjaan, maka pekerjaan nista pun dilakoni. Sebenarnya para yahudi pesek ini cuma orang upahan. Nothing.

Terpenting itu sebenarnya siapa makelarnya, dan lebih penting lagi siapa aktor utama yang mendisain dan membiayai. Ini yang layak dibedah. Dilihat apakah ada tangan-tangan asing, atau kaki tangannya, yang bermain untuk mencipta wacana, bahwa bukan Israel yang patut dipersalahkan. Bahwa yang memulai buat gaduh itu Palestina. Bla bla bla.

Apakah ini skenario yang memang dipersiapkan dan dibangun cukup panjang, dan lalu menjadi terganggu dengan adanya pertempuran tiba-tiba Israel-Palestina dalam pekan ini. Maka wacana mengharumkan Israel perlu dibuat, sambil otomatis menjelekkan Palestina.

Apakah ini bagian dari upaya menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, sebagaimana Tempo.Co, 23 Desember 2020, mengungkap akan ada bantuan dari pemerintah AS untuk Indonesia US$ 2 miliar, atau setara Rp 28,5 triliun, jika mau berdamai dengan Israel. Itu sebagaimana disampaikan CEO US International Development Finance Corp., Adam Bochler. Nilai lumayan yang bisa nutup bunga hutang.

Makna berdamai dengan Israel adalah membuka hubungan diplomatik dengannya. Mengakuinya sebagai negara yang sah. Bukan lagi sebagai penjajajah di bumi Palestina. Maka, itu sama saja kita sedang berupaya “merobek-merobek” Pembukaan UUD 45 yang sakral.

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Masih hafal? Tentu itu tidak cuma untuk dihafalkan. Palestina sedang dijajah zionis Israel, dan kita wajib sebagai bangsa yang sudah merdeka berupaya memperjuangkan kemerdekaannya. Itu amanat yang tersurat, tidak multi tafsir.

Satu hal, secara kebetulan, Palestina adalah negara pertama.yang mengakui kemerdekan Indonesia. Jas merah kata Bung Karno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”.

Yahudi pesek sebagai orang upahan, pastilah tidak mengerti soal sejarah bangsa, dimana bangsa ini berhutang budi pada Palestina. Wong ngertinya cuma makan, ngebul dan buang hajat. Payah! (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.