KEMPALAN: Ali Mochtar Ngabalin memang “penjaga gawang” handal bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) khususnya, dan kebijakan rezim ini pada umumnya. Jika diibaratkan kiper, bola yang sudah nyata-nyata offside pun masih mau ditangkapnya.
Semua yang mengkritik Presiden Jokowi dan kebijakan yang diambilnya disikapi dengan bukan saja memberi penjelasan munculnya kebijakan yang diambil rezim, tapi justru menyikapi para pengkritik kebijakan itu dengan keras, bahkan dengan menghantam personal yang bersangkutan.
Tidak tahu persis apakah memang itu tugasnya sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP), untuk menghantam habis para pengkritik rezim, khususnya pengkritik Presiden Jokowi. Rasanya tidak begitu tugas utamanya di KSP itu.
Gak jelas memang fungsi kerja Ngabalin itu apa, tapi jika muncul di televisi ia seolah sebagai jubir presiden, berdebat dengan siapa saja para pengkritik kebijakan rezim. Berdebat dengan modal pokoknya presiden atau kebijakan yang dibuat presiden tidak boleh salah atau disalahkan.

Maka yang terjadi dalam perdebatan itu sikap ngototnya dan terkadang dengan mata melotot-lotot. Tentu pemandangan yang tidak baik bagi perkembangan anak-anak, jika harus menonton perdebatan itu.
Memilih pindah channel jika Ngabalin muncul di televisi, itu langkah bijak. Apalagj kalau kita sedang duduk bersama keluarga, dan di situ ada anak-anak yang baru tumbuh dewasa. Takut nantinya terkontaminasi menganggap debat dengan ngotot dan mata melotot itu baik. Anak-anak harus diselamatkan dari debat model Ngabalin.
Semua tokoh berintegritas di negeri ini, yang kebetulan mengkritik kebijakan rezim yang dianggapnya tidak tepat, tidak satu pun yang luput dari semprotan Ngabalin. Apalagi tokoh itu memilih dan dikenal berada dalam barisan oposisi, maka menjadi langganan tuk disemprot. Tidak terkecuali Pak Amien Rais, Buya Anwar Abbas, Habib Rizieq Shihab dan lainnya.
Kali ini Pak Busyro Muqqodas, tokoh dan pegiat anti korupsi yang juga sebagai Ketua PP Muhammadiyah bidang Hukum dan HAM, pun disasarnya. Dan tidak tanggung-tanggung dengan narasi kasar dibuatnya. Ngabalin menyebut Pak Busyro dengan “otak nyungsang”.
Menikmati Perannya
Ada pernyataan Pak Busyro Muqqodas yang telak membuka skenario pelemahan KPK, dan pelemahan itu diawali oleh Surat Presiden ke DPR RI untuk merevisi Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK).
Katanya, “Sejak UU KPK direvisi dengan UU 19/2019, di tangan Presiden Jokowi lah KPK itu tamat riwayatnya.”
Pernyataan Busyro ini sebenarnya tidak ada yang istimewa, cuma menjadi istimewa disampaikan tanpa tedeng aling-aling. Pak Busyro, yang mantan komisioner KPK, menyampaikan itu langsung menunjuk hidung Presiden Jokowi, sebagai penyebab KPK jadi lemah.
Itu disampaikan Busyro, saat menanggapi 75 anggota KPK yang punya integritas dinonaktifkan. Tidak ada yang salah dari pernyataan Busyro itu, jika diihat dari kapasitas yang dipunya.

Maka, Ngabalin lewat Instagram pribadinya menghantamnya, “Otak sungsang yang gini merugikan persyarikatan,” tulisnya, Kamis (13/5).
Pas hari lebaran kok ya sempat-sempatnya Ngabalin mesti membuat dosa baru dengan menghantam personal seseorang dengan “otak nyungsang”. Bagi Ngabalin tampaknya tidak dikenal cuti untuk bersikap arif pada siapa saja yang coba mengkritisi Presiden Jokowi.
Ngabalin menyebut, bahwa Busyro itu merugikan nama baik Muhammadiyah. Katanya, Busyro lebih cocok berada di Partai Politik atau LSM, bukan menjadi pimpinan Muhammadiyah.
“Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah dan pendidikan ummat yang kuat berwibawa tercemar oleh manusia prejudice seperti ini.”
Sikap Ngabalin ini offside. Apa urusan ia sampai turut campur mempermasalahkan pantas tidak pantasnya seseorang ada di kepengurusan Persyarikatan Muhammadiyah segala. Konsep dakwah Muhammadiyah itu amar ma’ruf nahi munkar. Pada posisi itu Busyro bicara, dan terutama sebagai personal, ia bicara sesuai bidang kepakarannya. Apa yang salah?
Di alam demokrasi semua boleh bicara, boleh mengkritisi kebijakan rezim. Tentu apa yang dikritisinya itu memang seharusnya dikritisi, sesuatu yang kasat mata layak dikritisi. Lalu keberatan seorang Ngabalin itu berpijak pada apa?

Pastilah Pak Busyro gak akan ngeladeni Ngabalin. Disamping beda kelas, juga buang-buang waktu percuma. Biarlah kita semua jadi saksi atas ini semua, jejak digital pun akan menyimpannya dengan baik. Pada waktunya bisa diputar ulang untuk melihat sikap seorang Ali Mochtar Ngabalin, dan siapa saja yang disasar dengan narasi kasarnya.
Tampaknya Ngabalin tidak pernah belajar dari jejak digital, bagaimana saat 2014 lalu ia ada di kubu Prabowo, dan menyerang Jokowi dengan narasi menghina fisiknya, yang itu hal tidak sepantasnya.
Kali ini ia membela Presiden Jokowi, karena ada dalam kekuasaan, maka perannya jadi berubah dengan menyerang siapa saja yang coba-coba menyerang sang Bos. Ngabalin memang tengah menikmati perannya. Biarkan saja…! (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi