Oleh: Ferry Is Mirza
Wartawan Utama, Pengurus PWI Jawa Timur
KEMPALAN, : Gambaran hati yang hidup tampak pada lisan dan akhlaknya. Bahkan, turut memancar dari aura wajahnya, cerah dan ada gurat cahaya. Ia bersedia untuk mendengar, melihat, dan menerima kebenaran.
Hati yang hidup mempunyai nur, tenaga, dan kekuatan. Ia senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah dengan penuh khusyuk, serius dengan ketakwaannya serta sangat cinta dan simpati kepada sesama makhlukNya.
Ada hadiah besar yang Allah siapkan untuk mereka yang berupaya menghidupkan hatinya. Di antaranya ada akses cahaya dan mudah menebarkannya. Lisan mampu menggetarkan ruang kesadaran. Tidak ada hijab antara dirinya dan Sang Khalik. Doa-doa mustajab. Segala kebutuhan terpenuhi. Bahkan, dunia siap melayani. Subhanallah. Lalu, bagaimana untuk menjaga hati supaya hidup dan tidak lagi dalam keadaan mati.
Pertama, berlama-lama dalam qiyamul lail dan tadabbur Quran.
Semua peristiwa malam apalagi di penghujung malam, sangat disaksikan oleh Allah dan Malaikat-Nya (QS al- Isra : 78)
“Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat malam) di malam hari atau di sedikit waktu malammu atau lebih dari itu. Dan, bacalah Alquran dengan tartil (penuh penghayatan). Sungguh Aku akan beri perkataan yang berat. Dan bangun malam itu lebih kuat (untuk menghidupkan hati) dan bacaannya lebih berkesan.” (QS al-Muzammil : 1-6).
Kedua, mengingat Allah Ta’ala dengan memperbanyak zikrullah.
Orang yang berzikir dengan zikir yang di maknai akan menjadikan hatinya hidup, tidak pernah mati. Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam bersabda :
“Perumpamaan orang yang berzikir (mengingat Allah) dengan yang tidak seperti orang yang hidup dan yang mati.” (HR Bukhari)
Ketiga, mengingat mati (zikrul maut).
Manfaat yang bisa diambil dari mengingat mati adalah munculnya motivasi yang luar biasa dalam diri kita untuk terus meningkatkan amal ibadah dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari maksiat dan dosa.
Sa’id bin Jabir berkata : “Jika mengingat mati hilang dari dalam hatiku, maka aku takut hatiku ini menjadi rusak.”
Keempat, berkumpul dalam majelis ilmu.
“Tidaklah satu kaum duduk membaca ayat-ayat Allah lalu mengkajinya kecuali akan menyita perhatian para malaikat, diliputi rahmat- Nya, dihujani ketenangan di hati mereka dan dibanggakan nama-namanya di sisi Allah.” (HR Bukhari Muslim)
Kelima, berkunjung kepada orang-orang shaleh.
Wajah orang shaleh adalah wajah yang tidak bisa dibohongi. Ada pancaran ilmu dan keimanan. Keistiqamahan dalam ibadah menjadi kekuatan tersendiri yang pada akhirnya mengantarkan ada fibrasi yang menghidupkan hati.
Ja’far bin Sulaiman, seorang ulama dari golongan tabiin berkata : “Ketika hati ku dilanda kegalauan, aku segera mendatangi Muhammad bin Wasi’ dan menatap wajahnya. Bagiku, beliau bagaikan obat penawar bagi kondisi hatiku” (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi