KEMPALAN: Tidak terasa kita memasuki sepertiga akhir dari Ramadhan. Dua puluh hari
Ramadhan membersamai kita. Dan sisanya lebih kurang sepuluh hari kedepan terkandung kebaikan yang melimpah dan pahala yang besar.
Di antara yang paling agung dalam malam-malam itu (malam kesepuluh terakhir) adalah Lailatul-Qadr (malam kemuliaan), yang lebih baik dari seribu bulan.
Itulah malam terbaik, dan untuk mendapatkannya umat dituntut melakukan qiyamul-lail, dzikir, doa dihari-harinya, dan amaliah-amaliah terpuji lainnya, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.
Semoga kita di Ramadhan kali ini mendapatkan lailatul-qadr. Jadikan ini kesempatan terakhir, karena belum tentu Ramadhan tahun akan datang kita masih bisa menjumpainya.
***
Kebiasaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menyambut sepuluh hari terakhir dengan penuh semangat dalam beribadah pada malam-malam terakhir di bulan Ramadhan. Dan itu dilakukan lebih dibanding dengan malam-malam duapertiga yang sudah dilalui. Aisyah Radhyallahu Anha menuturkan:
“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam biasa bersemangat (giat) dalam sepuluh hari terakhir, melebihi hari-hari lainnya.” Sebagaimana diriwayatkan Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah.
Dan itu bisa dilihat dari kesungguhan (min ijtihadihi) Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam di malam-malam harinya. Beliau menghidupkan malam-malam ( yuhyi al-lail) pada sepuluh hari terakhir. Sebagaimana penuturan Aisyah Radhyallahu Anha:
“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau bangun malam, dan membangunkan keluarga serta menyingsingkan pakaian untuk ibadah dengan meninggalkan hubungan suami-istri.” Sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Menghidupkan malam-malam harinya disepuluh hari terakhir, itu tidak lain adalah tidak tidur pada malam harinya, seraya mengisi malam-malamnya dengan kegiatan yang menuju ketaatan kepada Allah.

Tidak tidur malam itu identik dengan menghidupkan malam, dan itu dengan shalat. Itulah amalan terbaik, sebagaimana hadits riwayat Abdullah bin Mas’ud Radhyallahu Anhu:
“Keutamaan shalat malam daripada shalat pada siang hari adalah seperti keutamaan sedekah sembunyi-sembunyi daripada sedekah terang-terangan.” (HR Thabrani, berstatus hasan).
Kesungguhan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam lainnya dalam sepuluh malam terakhir adalah melakukan i’tikaf. Dan i’tikaf itu dilakukan di masjid, dengan satu tujuan semata beribadah. Biasanya i’tikaf itu diisi dengan membaca al-Qur’an, melakukan kajian ilmu, berdzikir, dan hal positif lainnya.
Allah tidak menyebutkan secara tegas, pada malam ke berapa lailatul-qadr itu hadir, dan itu bisa jadi agar kita bersungguh-sungguh beribadah di seluruh malam bulan Ramadhan, khususnya di sepuluh malam terakhirnya… Wallahu a’lam. (Ady Amar).


Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi