Oleh: Ferry Is Mirza
Wartawan Utama, Pengurus PWI Jawa Timur
KEMPALAN: Di masa Nabi Shalallahu ‘Alayhi Wasallam ada seseorang yang tengah memaki hamba sahayanya. Padahal dia sedang berpuasa. Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alayhi Wasallam menghampirinya dan menyuruh yang bersangkutan makan.
Orang itu protes, “aku tengah berpuasa, ya Rasulullah”. Lalu Nabi bersabda, yang artinya, “banyak orang berpuasa, tiada hasil puasanya kecuali lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Majah).
Mungkin saat ini ada yang tengah saling maki karena satu dan lain hal, kala sedang berpuasa. Pun bertengkar keras di media sosial, terpicu isu-isu panas hingga saling menumpah amarah. Tumbuh rasa saling tidak suka, bahkan membenci antar sesama.
Di bulan Ramadhan saatnya berbenah diri. Agar segala amarah tidak mudah tumpah, hidupkan hati. Hati atau qalbu, ialah bagian terdalam dari jiwa manusia, yang menjadi radar paling utama menyaring mana yang baik dan buruk.
Hati itu mutiara berharga bagi hidup manusia. Bagai matahari memancarkan sinar, yang menyibak gelap.
Hati itu berwatak hanif, penyaring segala gundah di jiwa. Bagai navigasi, kompas, dan peta bagi pelaut di samudra lepas. Di kala siempunya tubuh bimbang tentang sesuatu, hatilah muaranya.
Nabi mengingatkan: “istafti qalbaka”: “tanyakan pada hatimu” (HR. Ahmad).
Hati adalah peredam marah dan benci, dua virus yang sering menggerogoti jiwa setiap insan. Ketika marah dan benci menyatu, sikap adil dan baik pun sering luruh.
Padahal Allah mengajarkan, ciri orang bertaqwa ialah menahan marah (QS Ali Imran: 134). Bersama itu setiap muslim diperintahkan untuk bersikap adil dan ihsan (QS An-Nahl: 90).
Perilaku Ihsan
Ihsan itu berlabuh di hati, yang memancarkan kebaikan melintas. Adil harus disertai ihsan. Sering orang karena bersemangat tinggi menegakkan keadilan, lantas bertindak tidak adil kepada orang, karena ihsannya hilang. Orang lain yang dilihat salah semuanya, seakan tanpa sisi kebenaran.
Manusia hidup itu tiada yang sempurna.
Maka, jadikan Ramadhan saat paling bening untuk menghidupkan hati. Semisal menghidupkan rasa kemanusiaan, lembut, cinta kasih, toleran, damai, dan baik hati terhadap sesama tanpa sekat apapun. Selain nilai kebenaran dan kejujuran.
Bukalah rongga hati dengan iman agar disinari petunjuk Ilahi (QS Ath-Thagabun: 11). Boleh jadi karena terlalu rasionalnya kita setiap hari, hati dan rasa kurang hidup di jiwa. Sehingga diri kita menjelma jadi robot bernyawa, yang kering hati dan rasa.
Beragama pun karena terlalu verbal dan instrumental, sering kehilangan sisi irfani (ranah batin) dari buah ihsan. Beragama ala robotik, serbakeras dan egois. Puasanya sekadar mengubah jadwal makan, minum, dan pemenuhan nafsu biologis dari siang ke malam. Minus puasa hati.
Saatnya Ramadhan menjadi wahana “mikraj ruhani” menghidupkan hati, sebagai buah dan aktualisasi bertaqwa. Apalagi ketika kita tengah menghadapi musibah Corona yang membuana. Begitu banyak korban jiwa dan derita di seluruh dunia.
Saatnya puasa Ramadhan menghidupkan hati untuk menyelamatkan jiwa bersama. Hati yang menyuburkan ruang empati, welas asih, peduli, berbagi sesama. Itulah jantung hati beragama yang menyebarluaskan rahmat bagi semesta alam.
In syaa Allah memasuki hari ke 19 puasa ini hati kita bersih dari rasa iri dengki. Semua dosa kita luruh diampuni Allah Ta’ala. Dan, kita bisa menjadi hambaNya yang berprilaku ihsan. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi