Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 00:34 WIB
Surabaya
--°C

l’tibar dari Si Burung Merak

KEMPALAN: Sombong itu perangai tidak terpuji, perangai buruk. Perangai yang coba mensejajarkan diri dengan Allah Azza wa Jalla. Sombong itu milik Allah, yang mustahil disamai.

Sombong bermakna jika diri merasa lebih ketimbang lainnya. Lebih tampan, lebih kaya, lebih pintar, lebih terhormat, lebih kuasa… dan seterusnya. Merasa lebih itulah sombong. Lebih itu milik Allah.

Pembahasan sombong banyak ditulis, baik dalam kitab suci-Nya, al-Qur’an, atau sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wassallam, tapi sayang itu cuma dibaca tanpa perenungan, dan sombong seakan jalan terus.

Bukan hanya kalangan awam yang jatuh dalam perangai sombong. Bahkan banyak pula kalangan “alim” yang terjerembab jatuh dalam kesombongan, tanpa disadarinya atau bahkan itu hal yang disadarinya.

Umar bin Khaththab Radhyallahu Anhum, mengatakan, “Jika seseorang menyebut diri alim, maka sebenarnya ia tanpa ilmu…”

Kisah-kisah sufi pun banyak mengisahkan perangai baik dan buruk, termasuk sikap sombong didalamnya. Biasanya dikisahkan dengan obyek fabel.

Maka yang hadir sebuah kisah ringan, enak dibaca, tidak terkesan menggurui, tapi pesan yang disampaikan sarat filosofis, sebagaimana ajaran-Nya.

(Ngabuburit di Ramadhan hari ke-14, ingin mengangkat kisah “sombong” dengan obyek “Burung Merak”. Kisah ini termuat dalam Thinkers of the East, karya Idries Shah. Tentu mengisahkannya tidak persis sama dengan aslinya, tapi substansinya, in Syaa Allah, tidak sedikitpun melenceng).

***

Adalah Burung Merak, yang berdialog dengan dirinya tentang nilai sebuah kesempurnaan.

Bermula ia menganggap dirinya memang beda dengan burung-burung lainnya.

Aku memang beda dari burung lainnya, pengakuannya dalam hati. Dan karenanya, aku tak pantas dianggap sebagai burung kebanyakan.

Suaraku memang tak terlalu merdu, tapi ketampanan maupun kecantikanku tidaklah ada yang mampu menandingi.

Akulah sejatinya yang mampu membuat tidak cuma jenis burung yang terpesona, tapi makhluk lainnya pun menatapku dengan penuh ketakjuban.

Jika mereka memperhatikanku, maka aku tak segan memamerkan tubuhku dengan bulu berwarna-warni, indah mempesona.

Aku bentangkan kedua sayapku, agar bulu-bulu di tubuhku yang indah menawan menampakkan kebesaranku.

Semua yang menatapku takjub dan tidak mustahil iri melihat keberadaanku. Aku memang beda, aku boleh sombong.

Tapi satu hal, yang aku tak mampu menutupi kekuranganku. Dan ini menyedihkanku.

Saat kukepakkan dua sayapku yang indah itu, dan saat kepalaku melongok ke bawah, kulihat kedua kakiku yang kecil ramping, tampak tidak proporsional.

Kaki kecilku, yang kurus itu, sungguh tidak menawan, dan itu menampakkan kekuranganku.

Jika melihat kedua kakiku itu, tampak kusadari, air mataku menetes. Tidak mungkin lagi aku bisa berbangga diri, seolah makhluk paling indah nan sempurna.

Aku ternyata tidak ubahnya jenis burung, sebagaimana burung lainnya, yang juga memiliki kekurangan.

Kakiku telah mengajarkanku, bahwa tak ada yang sempurna kecuali Kesempurnaan Sang Pencipta.

***

Lalu bagaimana dengan kita, makhluk paling sempurna yang diciptakan-Nya, semestinya bisa mengambil i’tibar dari kisah Si Burung Merak.

Hal mustahil jika sebagai makhluk paling sempurna tidak mampu berdialog dengan diri sendiri, bahwa di atas langit ada langit. Maka semestinyalah tidak memilih sombong sebagai jalan hidup.

Kesombongan cuma akan melahirkan penyesalan. (Ady Amar).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.