KEMPALAN: Rizki merupakan segala sesuatu yang Allah karuniakan kepada manusia dalam bentuk material maupun immaterial. Dan rizki itu kemudian membawa manfaat atau nilai guna bagi manusia.
Rizki yang material seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan segala yang bisa dicerap oleh pancaindera. Sedangkan rizki yang imaterial itu adalah karunia Allah yang bisa ditangkap melalui penalaran akal atau intuisi kita seperti rasa kecukupan, keberkahan, hikmah, kecerdasan, sikap dan perilaku yang menyenangkan hati, kemudahan urusan, jauh dari bala’, dan sebagainya.
Rizki, baik yang material atau tangible dan imaterial atau intangible dibagi menjadi tiga jenis, yakni rizki yang Allah menjaminnya (al Rizqu al-makful), rizki yang Allah bagi-bagikan (Al Riqz al Maqsum), dan rizki yang dijanjikan oleh Allah (Al Rizq al-mau’ud).
Rizki yang Allah jamin adalah rizki yang diberikan kepada siapapun, baik yang bertakwa maupun yang kafir, yang pintar maupun yang bodoh, yang besar dan yang kecil; semut di dalam tanah, ikan di laut, dan burung-burung di udara.
Allah menginformasikan hal ini dalam Al Quran Surat Hud: 6 dan Surat al Ankabut: 60, bahwa rizki Allah ini meliputi semua makhluknya. Dalam konteks ini adalah semua rizki baik secara kuantitas maupun kualitas yang halal maupun haram semua adalah karunia Allah.
Rizki yang Allah bagikan kepda makhluknya yakni rizki yang pemerolehannya harus dengan usaha, kesungguhan hati, kerja keras. Rizki ini diperoleh dengan bersaing dan strategis. Barang siapa yang berusaha maka ia akan mendapatkan sesuai dengan usahanya.
Seperti diungkap dalam Al Quran Surat Al Baqarah 288, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” Juga pada Surat An Najm 39, “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
Dalam Al Quran surat Al Mulk: 16, Allah mengungkapan bahwa Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu. Maka, berjalanlah di segala penjuru dan makanlah sebagian rizkinNya. Dalam konteks ini barang siapa yang berusaha lebih besar akan mendapat rizki yang lebih besar dari yang lain. Seperti tertulis dalam Surat Al Nahl: 71,”Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rizki.”
Jenis ketiga, yakni Rizki yang dijanjikan Allah adalah rizki yang diberikan Allah dengan syarat adanya ketakwaan, meskipun tidak ada usaha atau kerja keras dari yang bersangkutan. Allah berfirman Al Quran surat a; Thalaq: 2-3,” barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan padanya jalan keluar dan memberinya rizki dari jalan yang tidak di sangka-sangka.”
Dalam konteks ini, semakin seseorang bertakwa kepada Allah, maka Allah semakin menambahkan rizki padanya. Setidaknya ada beberapa rizki berkaitan yang ketakwaan kepada Allah ini yakni rizki diperoleh karena bersyukur, diperoleh melalui Istighfar, rizki yang ditambahkan karena Anak, rizki karena menikah, dan rizki karena Sedekah.
Namun dalam konteks rizki tersebut, manusia yang membawa amanah sebagai Khalifah (QS Al Baqarah:30) mengharuskan manusia memakmurkan bumi, mengeksplorasi bumi, dan memanfaatkan segala yang ada di dalamnya dengan kerja dan usaha. Rasulullah SAW diriwayatkan oleh Bukhari, mengatakan, “Tidak ada makanan yang dimakan seseorang yang lebih baik dari makanan hasil kerjanya sendiri.” Islam mengajarkan bekerja keras memakmurkan bumi (‘imarah) untuk mewujudkan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi.
Rizki Allah jenis kedua dan ketiga bisa jadi tidak sampai kepada yang bersangkutan dikarenakan sebab-sebab tertentu. Untuk rizki Allah jenis kedua, rizki yang dibagikan, yakni yang dikompetisikan, maka yang menjadi penghalangnya adalah kemalasan, ketertergesa-gesaan, menginginkan serba instan, dan tanpa kalkulasi. Jika tidak berusaha dan pas maka rizki ini tidak akan bisa diraihnya. Rizki ini bisa dikalkulasikan secara rasional.
Demikian juga rizki jenis ketiga, yakni bagi orang yang bertakwa, maka mereka yang tidak mendapatkannya adalah mereka yang jauh dari Allah; mereka yang tidak berdzikir, tidak bersedekah, tidak bersyukur, dan seterusnya. Namun, yang perlu berhati-hati adalah rizki yang bersifat istidraj. Yakni rizki yang Allah karuniakan kepada seseoerang meskipun jauh dari Allah. Namun dalam rizki itu pada akhirnya akan membawa pada azab Allah, seperti tertulis dalam Al Quran Surat Al-An’am: 44.
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
Lantas, bagaimana dengan rizki yang tidak sampai kepada seseorang meskipun ia telah bekerja keras, bahkan hidup di bawah garis kemiskinan?
Dalam konteks tersebut, maka tidak ada yang salah secara usaha dan kebiasaannya. Perlu diperhatikan bagaimana sistem yang melingkupinya. Dalam konteks ini adalah struktur sosial dan struktur ekonomi, terutama strukrur keuasaan yang menaungi seseorang tersebut. Bisa jadi dari berbagai sistem tersebut menjadi penghalang bagi rizki seseorang.
Misalnya kenaikan harga-harga pokok bagi petani maupun peternak. Hal ini tentu membuat para petani mengalami kesulitan dalam penjualan hasil panennya. Diperlukan intervensi pemerintah untuk mengkaji dan mengambil tindakan atas pelaku yang membuat rizki para petani itu tidak tersalurkan. Bisa jadi ada penimbunan/ikhtikar yang dibiarkan sehingga terjaid kenaikan harga tak terkendali. Juga solusinya tidak perlu dengan impor namun dengan memperkuat supply/persediaan yang dihasilkan oleh petani. Pemerintah harus mengelola persediaan produk petani agar tetap terjadi dengan tidak mengorbankan rizki petani.
Karenanya mengelola rizki ini perlu pemahaman yang komprehensif dari aspek mikro hingga makro ekonomi. Namun sebagai orang beriman, tentu tidak bisa hanya mengandalkan dari rizki yang dibagikan Allah semata. Karenanya diperlukan aspek spiritualitas dalam ekonomi. Rizki itu bisa diraih dengan tidak mengabaikan ketakwaan. Bisa jadi rizki seseorang tidak diperoleh dari rizki yang dibagikan, namun dari ketakwaan.
Islam mengajarkan bagi kaum beriman untuk seimbang, tawazun, dalam meraih rizki. Semua aspek harus didayagunakan agar rizki Allah terus mengalir tanpa putus kepada hambaNya. Berusaha dan berdoa adalah kunci lancarnya riziki yang lumintu, yang mengalir terus menerus.
Manajemen rizki dalam hal ini adalah proses ikhtiar dalam mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, mengendalikan, dan berusaha menghindari, meminimalkan, atau bahkan menghilangkan hal-hal yang kemudian membuat tidak dapat diterimanya rizki seseorang danm dibarengi dengan ikhtiar ketakwaan. Sehingga seorang mukmin akan bias meraih baik itu rizki yang dijamin, rizki yang dibagikan, dan rizki yang dijanjikan
(Dr. Kumara Adji Kusuma adalah dosen Ekonomi Islam pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi