SURABAYA-KEMPALAN: Pengamat sekaligus pecinta olahraga sepak bola, Dr. Dhimam Abror Djuraid mengaku heran. Dia bertanya-tanya atas tarif sewa Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya yang diusulkan Pemkot akan naik 1000 persen menjadi Rp 22 juta per jam atau Rp 444,6 juta per hari.
“Saya ingin tanya, itu stadion Old Trafford atau GBT kok tarif sewanya setinggi itu? Atau itu Camp Nou? Tidak apa-apa harga segitu kalau mainnya seperti di San Siro,” ulas Abror yang pernah menjabat Ketua PSSI Jawa Timur ini, Rabu (21/4).
Sebagai arek Suroboyo, apa yang dilihat Abror selama ini bersama jajaran komunitas bola di Kota Pahlawan, GBT merupakan stadion kebanggaan warga Surabaya. Maka sudah sepantasnya dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih baik. Namun mirisnya, justru digunakan untuk kepentingan mencari uang, mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD).
“Maaf kata, Eri Cahyadi dan Tri Rismaharini itu kan tidak tahu apa tujuan dasarnya membangun stadion GBT. Waktu itu idenya Bambang DH. Diberi nama Bung Tomo karena filosofinya pahlawan Kota Surabaya untuk dinikmati oleh arek Surabaya. Sedangkan tujuan stadion GBT itu sendiri dibangun ya sebagai home base-nya Persebaya,” beber eks Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim dua periode ini dan doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjajaran Bandung.
Lebih jauh wartawan senior ini bertutur, andaikata Stadion GBT tak bisa dimanfaatkan oleh Persebaya, maka ini akan jadi sesuatu yang memalukan. Sebab, Persebaya akan mencari alternatif stadion terdekat misalnya di Sidoarjo atau di Gresik.
“Lalu apa gunanya dibangun dua fasilitas stadion kebanggaan arek Surabaya kalau akhirnya Persebaya tidak mampu bermain di sana? Apalagi kalau sampai home base di kota lain tentu warga pecinta sepak bola akan malu,” ujarnya.
Untuk itu, Dhimam Abror Djuraid sebagai Presiden Klub PS Hizbul Wathan Liga 2 Indonesia meminta kepada Eri Cahyadi untuk turun langsung menyelesaikan persoalan ini dengan matang. Dipikirkan dengan duduk bareng dan jangan salah menilai Persebaya.

“Ini harus Eri Cahyadi sebagai orang nomor satu yang meng-handle dan turun langsung mencari solusi. Jangan diserahkan ke Afghani Wardhana Kadispora. Maaf kata, dia tidak memiliki pertimbangan politisnya,” tandasnya.
Selebihnya, selama raperda belum digedok, Abror juga berharap kepada jajaran DPRD Surabaya untuk mengawal persoalan ini dengan serius. Jangan melihat warna partai, tetapi memegang kekonstituen dirinya yang harus mengutamakan warga.
“Inilah saatnya Anda membela suara rakyat, semua anggota DPRD harus kompak. Mas Awi, sampeyan ketua DPRD jadi minta tolong ini kepentingan publik, keinginan supporter sepak bola di Surabaya ini dinomorsatukan daripada cuma cari duit yang ujung-ujungnya nanti belum tentu ada yang mau sewa GBT dengan harga segitu,” pungkas Abror yang pernah jadi Pimpinan Redaksi di tiga media cetak besar Kota Surabaya, Jawa Pos, Surya dan Surabaya Post, serta kini memanajemeni portal berita Kempalan.com. (memo/mg3/ist)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi