KEMPALAN: 12 klub top eropa baru saja mengumumkan pembentukan kompetisi baru yang mereka beri nama European Super League pada Senin (19/4).
12 klub yang telah dikonfirmasi menjadi pendiri ESL adalah Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester United, Manchester City, Tottenham Hotspur, Atletico Madrid, Barcelona, Real Madrid, AC Milan, Inter Milan, dan Juventus.
European Super League ini dibentuk sebagai kompetisi tertinggi untuk klub Eropa dan menjadi tandingan Champion League milik FIFA dan UEFA.
Nantinya European Super League akan diisi 20 tim, dengan delapan tim peserta tambahannya masih ditunggu keikutsertaannya sampai batas waktu tidak ditentukan.
Banyak perdebatan yang terjadi karena pembentukan ESL ini, banyak komentar yang menyatakan bahwa pembentukan kompetisi ini hanya untuk makin memperkaya para pemilik klub-klub elit di Eropa.
European Super League didanai oleh JPMorgan, perbankan asal Amerika Serikat dengan kucuran dana segar.
Para pesertanya akan mendapat sejumlah uang yang menggiurkan dengan hanya tampil di kompetisi itu.
Sekitar 300 juta paun atau hampir Rp 6 T akan didapatkan dan jumlah tersebut bisa bertambah sesuai jumlah penampilan tiap klub.
Ajang ini disinyalir hanya akan membuat klub yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi makin miskin.
UEFA dan FIFA pun mengancam klub-klub ikut dalam European Super League. Pemain yang ikutan, bakal dilarang tampil di liga domestik, Liga Champions, sampai Piala Dunia.
Namun, di sisi lain ESL juga dinilai sebagai sebuah solusi keuangan bagi klub-klub besar di tengah pandemi.
Pembentukan ESL ini juga disinyalir sebagai bentuk perlawanan dari tim-tim elit Eropa yang sudah muak dengan kinerja FIFA dan UEFA.
FIFA dinilai selalu mengambil keuntungan berlebihan dari para klub elit ini, sementara bonus atau hadiah yang diterima tiap klub dinilai tidak seberapa.
Belum lagi ditambah kasus korupsi yang dilakukan oleh para petinggi FIFA dan UEFA.
Selain itu, FIFA juga suka mengeksploitasi para pemain dengan membentuk kompetisi baru, seperti UNL dan ECL.
Pembentukan kompetisi-kompetisi ini dinilai hanya untuk melayani kepentingan FIFA dan UEFA, yaitu menghadirkan pertandingan sebanyak mungkin untuk meraup keuntungan sebanyak mungkin juga.
Pendapat ini didukung oleh Toni Kroos yang mengatakan bahwa “Kami hanyalah boneka FIFA dan UEFA. Jika ada persatuan pemain, kami tidak akan memainkan Nations League atau Supercopa de Espana di Arab Saudi. FIFA dan UEFA mencoba menyerap segala sesuatu secara finansial, dan juga memeras segala sesuatu dari fisik para pemain.”
Pembentukan ESL banyak dinilai sebagai bentuk perlawanan klub-klub elit Eropa yang merasa tidak mau hanya dijadikan lumbung duit oleh UEFA dan FIFA.
Bagi mereka lebih baik untuk membentuk kompetisi mereka sendiri yang mereka kelola sendiri keuangannya dan dibagikan secara merata kepada setiap anggota. (CNN/BBC/ESPN, Edwin Fatahuddin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi