KEMPALAN: Hidup akan terus berjalan, suka atau tidak mesti dijalani. Tidak berlaku konsep tawar menawar untuk menjadikan hidup ini berhenti sesaat sesuai dengan yang diinginkan. Hidup tidak sebagaimana kendaraan yang kita tumpangi, yang kita gerakkan kapan saja kita mau menggerakkannya, dan juga bisa kita hentikan sesaat untuk hal-hal yang kita inginkan.
Hidup itu berpikir ke depan, tentu dituntut berpikir pada hal-hal kebaikan. Hidup tidak surut ke belakang. Karenanya, tidaklah mungkin kita dapat memutar waktu kembali ke masa lampau. Masa lampau adalah sejarah yang telah kita jalani dengan segala pernak perniknya. Kita adalah bagian dari sejarah, pengukir sejarah. Kita pun adalah saksi sejarah meski tidak ikut dalam pusaran ukiran sejarah.
Maka yang di belakang yang baik-baik mesti kita teruskan dan jadikan lagi lebih berkualitas, dan jika ada yang kurang atau bahkan perbuatan buruk yang kita lakukan di masa lalu, maka jadikan itu bahan pelajaran untuk tidak terulang.
Hidup menuju masa depan itu misteri, tidak ada yang bisa menafsir masa depan dengan begitu sempurna. Ikhtiar untuk terus menjaga “irama” kehidupan agar tetap berada dalam koridor kebaikan, itu pun tidak menjamin hidup sesuai dengan harapan.
Namun demikian manusia dituntut untuk tetap istiqamah lahir dan batin. Tetap aktif meraih upaya duniawi sembari tidak meninggalkan ibadah sebagai bekal menuju ke alam keabadian.
Alam keabadian adalah akhirat dalam bahasa agama, alam dimana hidup akan kekal selamanya. Maka hidup di dunia sejatinya adalah ikhtiar membekali diri guna meraih hidup di akhirat dengan nyaman.
Akhirat memang misteri. Kemisteriannya menjadi hal yang dipertanyakan kelompok agnostik. Katanya, “Bagaimana kita bisa tahu itu (akhirat), kan kita belum pernah sampai ke sana?” Tapi kelompok beriman meyakininya, karena al-Qur’an menggambarkan tentang akhirat dengan begitu baiknya. Tentu kabar dari kitab suci (al-Qur’an) itu bukanlah fiksional atau kisah fiksi dalam perspektif agnostik.

Karenanya, Hari Akhir (akhirat) bagi setiap muslim adalah bagian dari mengimaninya. Kedudukan iman itu mengalahkan jangkauan akal untuk mereka-rekanya. Akal menjadi tunduk mutlak sebagai bagian dari sikap kaum beriman. Akal yang dibalut iman itu menyadari bahwa banyak hal yang tidak dapat diungkap oleh akal yang serba terbatas.
Kant (1724-1804), filsuf Jerman, mengungkap bahwa konsep iman atas Tuhan adalah kepercayaan rasional. Tambahnya, eksistensi Tuhanlah dunia menjadi teratur dan moral menjadi sebuah keniscayaan.
Filsafat Kant adalah “idealisme transendental”, yang pemaknaannya pada apa yang dapat kita amati/alami (dunia seisinya), dan juga apa yang tidak bisa kita amati. Katanya lagi, “Saya harus menolak pengetahuan untuk memberi ruang pada iman.”
Pandangan lebih spesifik untuk menggambarkan dunia dan akhirat itu, mampu dihadirkan Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, dengan mengibaratkannya sebagai dua perempuan yang dimadu:
“Jika engkau membahagiakan yang satu, maka satunya akan marah dan cemburu.”
Juga Imam al-Ghazali menggambarkan dunia dan akhirat itu dengan arah mata angin timur dan barat:
“Jika engkau berjalan ke satu arah, maka arah yang lain pasti tertinggalkan.”

Maka kehidupan manusia mesti berimbang antara dunia dan akhirat. Tidak ada yang boleh menonjol di antara keduanya. Namun tentu itu bukan perkara mudah.
Maka, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, mengatakan:
“Barangsiapa mencintai dunianya, maka dia akan mengabaikan akhiratnya. Dan barangsiapa mencintai akhiratnya, maka dia akan mengabaikan dunianya. Karenanya, pilihlah yang kekal abadi (akhirat), dan tinggalkan yang binasa (dunia).”
Maka lagi-lagi, manusia yang mengaku beriman, yang mempercayai Hari Akhir itu ada dan kekal selamanya, masih saja lebih memilih kehidupan duniawi dengan mengabaikan akhiratnya. Mencari kehidupan di dunia bukan tidak penting, tapi bekal menuju akhirat tidak lantas diabaikan.
Semuanya penting, namun meraih keduanya tidaklah mudah. Dituntut kepintaran menjaga ritme keduanya, agar timbangan yang ditimbulkan tidak berat sebelah. Dan jika sulit menyeimbangkan, maka memberatkan timbangan akhirat menjadi pilihan tepat, sebagaimana anjuran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam. Dan kita dituntut terus menyeimbangkan keduanya, meski sulit, haruslah menjadi ikhtiar selayaknya. Wallahu a’lam. (Ady Amar)


Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi