KEMPALAN: Setiap muslim pastilah merindu surga. Tapi apakah surga juga merindu, ini yang belum pasti. Bisa jadi akan bertepuk sebelah tangan. Satu pihak berharap, tapi pihak lain menampik.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam pun merindu surga, dengan doanya, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, dan berlindung kepada-Mu dari siksa neraka.” Doa ini dilantunkan Rasul hingga tiga kali.
Apa yang terjadi, surga pun merindu yang sama dengan Rasul agar cepat dimasukinya. Surga pun berkata, “Ya Allah, dekatkanlah dia kepadaku.” Itulah keinginan yang saling bersemi, saling merindu.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam ingin berada di surga, dan surga ingin secepatnya didiaminya. Mengapa itu bisa terjadi, dan tidak terjadi pada sebagian manusia lain. Surga digerakkan Allah untuk memberi persyaratan siapa saja yang ingin dirindukannya.
Itulah permintaan yang sebenarnya bisa dinalar, bahwa baik akan diganjar kebaikan, dan buruk juga akan diganjar keburukan. Maka ganjaran baik itu adalah surga, sedang neraka tempat bagi keburukan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam pun memberi pemahaman lewat sebuah hadits, agar di bulan suci Ramadhan umatnya melakukan dua hal: Senantiasa memohon surga kepada Allah, dan berlindung dari siksa neraka.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam bersabda, yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga (semuanya) dibukakan, dan setan-setan dalam kondisi terbelenggu.” (HR. Bukhari-Muslim).
Kesempatan terbuka lebar memasuki surga-Nya, telah dibentangkan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang menjalankan dan mengisi Ramadhan dengan amalan-amalan terbaik. Merugi mereka yang tidak mengambil momentum itu.
Diharapkan amalan-amalan terbaik selama bulan Ramadhan bisa terus dipertahankan di sebelas bulan kemudian, hingga bertemu Ramadhan yang akan datang. Jika itu bisa kita lakukan, maka kita lulus sebagai siswa pada “madrasah” Ramadhan. Lulus menjadi pribadi bertakwa. Pribadi yang menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.
Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu, seorang sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wassallam, mendefinisikan takwa dengan amat baik, “Kesempurnaan takwa ditunjukkan oleh seorang hamba yang menjaga dirinya, bahkan menjaga dirinya dari sesuatu yang sekecil apa pun itu. Yakni sampai dia bisa menjaga diri dari hal-hal yang dihalalkan sekalipun, agar jangan sampai terperosok kepada hal-hal yang dilarang Allah (yang haram).”

Bisa jadi perkataan Abu Darda’ di atas bersumber dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wassallam yang menegaskan, “Seorang hamba tidak dapat sampai pada derajat kaum muttaqin, hingga dia meninggalkan sesuatu yang semula dibolehkan, karena khawatir berbagai hal tersebut akan menjerumuskannya pada sesuatu yang tidak diperbolehkan.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim).
Bulan suci Ramadhan merupakan karunia Allah kepada para hamba-Nya, agar dapat mengambil momen tertentu untuk melaksanakan ibadah dengan penuh kesungguhan dan ketaatan kepada-Nya. Ramadhan juga memberi motivasi yang amat tinggi bagi yang berpuasa, guna meraih pahala kebaikan berlipat ganda. Wallahu a’lam. (Ady Amar)


Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi