Minggu, 10 Mei 2026, pukul : 03:48 WIB
Surabaya
--°C

Hubungan Rusia-Ukraina Memanas

MOSKOW-KEMPALAN: Ketegangan di Eropa Timur perlahan meningkat akhir-akhir ini, meskipun Pemerintah Rusia mengumumkan pada Minggu (11/4) bahwa mereka tidak ingin memicu perang dengan Ukraina seperti yang diperingatkan Amerika Serikat terhadap Rusia mengenai konsekuensi jika mereka tetap bertindak agresif.

Pada minggu-minggu terakhir, gesekan semakin meningkat antara tentara Ukraina dan separatis pro-Rusia yang mengendalikan dua wilayah di timur negara itu, menaikkan kewaspadaan akan peningkatan besar dari konflik jangka panjang.

“Tentu saja, tidak ada yang berencana untuk bergerak menuju perang dan secara umum, tidak ada yang menerima kemungkinan perang seperti itu,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dalam wawancara yang disiarkan televisi pada Minggu yang dikutip Kempalan dari Daily Sabah. Ia juga menambahkan bahwa tida ajan ada yang menerima kemungkinan perang saudara dengan Ukraina.

Peskov menekankan bahwa Rusia tidak terlibat dalam konflik tersebut akan tetapi menambahkan bahwa Rusia tidak akan diam saja terhadap nasib pengguna bahasa Rusia yang tinggal di wilayah yang dilanda konflik. Peskov mengatakan bahwa Rusia akan melakukan segala upaya untuk membantu menyelesaikan konflik tersebut dan terus menjelaskan hal itu tanpa lelah.

Ukraina menuduh Rusia mengumpulkan ribuan personel militer di perbatasan utara dan timurnya serta di semenanjung Krimea yang dicaploknya. Pemerintah Rusia tidak membantah pergerakan pasukan itu tetapi bersikeras bahwa mereka tidak berniat mengancam siapa pun.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken memperingatkan pada Minggu (11/4) mengenai konsekuensi jika Rusia bertindak secara agresif terhadap Ukraina. Seperti yang dikutip Daily Sabah dari NBC, sang menteri menyatakan bahwa dirinya sangat waswas terhadap tindakan Rusia di perbatasan dengan Ukraina.

“Itu sebabnya kami berhubungan sangat dekat, dalam koordinasi yang erat, dengan sekutu dan mitra kami di Eropa. Kami semua memiliki kepedulian itu,” kata Blinken seraya menambahkan bahwa Presiden AS, Joe Biden, juga sangat jelas dalam perkara ini, jika Rusia bertindak agresif akan ada konsekuensinya.

Dalam ketegangan ini, Turki, melalui juru bicara Presiden, Ibrahim Kalin meminta de-eskalasi ketegangan antara Ukraina dan Rusia pada Minggu (11/4).

“Turki membela integritas teritorial Ukraina dan hak-hak Tatar Krimea serta mendukung penyelesaian masalah antara Rusia dan Ukraina melalui negosiasi,” kata Ibrahim Kalin di Twitter seperti yang dikutip Kempalan dari Daily Sabah. Ia juga menambahkan bahwa semua jenis ketegangan dan konflik di Laut Hitam dan wilayah itu akan merugikan semua orang.

Pidato Kalin ini keluar seharu setelah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan bertemu dengan Presiden Ukraina, Vladimir Zelensky dimana Erdogan menyerukan de-eskalasi ketegangan di Ukraina dan menyatakan bahwa Turki menginginkan Laut Hitam yang damai.

Adapun Menurut Kementerian Luar Negeri Ukraina, Pemerintah Rusia pada Senin (12/4) telah menolak upaya Pemerintah Ukraina untuk memulai dialog mengenai penambahan pasukan di perbatasan Ukraina. Mereka meminta Rusia untuk “menarik pasukannya di perbatasan dengan Ukraina dan menghentikan retorika dan disinformasi.” (Daily Sabah, reza m hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.