Sabtu, 14 Maret 2026, pukul : 00:59 WIB
Surabaya
--°C

Fungsi Akal dalam Konsumsi Islam

KEMALAN: Fenomena di hadapan mata setiap bulan Ramadan, ketika umat Islam berpuasa, adalah pola konsumsinya yang terlihat berubah.

Secara teoretis, jika seseorang berpuasa, maka konsumsinya menjadi berkurang. Karena dari makan yang semula tiga kali sehari, menjadi dua kali sehari.

Namun apa yang terjadi, kenyataanya konsumsinya bukannya berkurang atau tetap, malah menjadi bertambah dan berlebihan. Bisa jadi makannya memang dua kali sehari, namun dengan porsi yang kelebihan. Ditambah lagi dengan kudapan yang dibeli saat acara ngabu burit di pinggir-pinggir jalan atau perumahan.

Padahal fungsi ibadah puasa adalah untuk menahan diri dari memperturutkan hawa nafsu untuk menghasilkan pribadi yang bertakwa. Yakni pribadi yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan dari Tuhannya.

Fenomena tidak mampu menahan diri terjadi pada saat berbuka, akan nampak di atas meja adalah jajaran menu mengundang selera makan. Ketika makan, kemudian dihabis-habiskan semuanya hingga perut terasa berat, yang kemudian juga memberatkan badan untuk bergerak, terutama untuk ibadah.

Di atas adalah contoh sikap berlebih-lebihan dalam makan. Padahal, di dalam Al Quran disebutkan “Wakuluu wasyrabuu walaa tusrifuu.” Potongan dari Surah Al-A’raf ayat 31 adalah menunjukan larangan untuk makan dan minum secara berlebih-lebihan.

Berlebih-lebihan dalam hal ini adalah pada batas melewati kekenyangan, yakni kekenyangan yang kemudian memberi efek bahaya bagi tubuh. Bahaya pada kekenyangan yang berlebihan dan secara terus menerus dalam waktu tertentu akan membawa dampak pada peningkatan berat badan, obesitas.

Termasuk jika pun makan makanan tertentu secara berlebihan, tentu akan membawa pada sakit baik itu diabetes, darah rendah/tinggi, peningkatan kadar asam urat dalam darah, kelebihan kolesterol, dan lain sebagainya.

Berbagai efek di atas adalah disebabkan oleh pola konsumsi, dalam hal ini menghabiskan makanan yang menyalahi aturan yang telah ditetapkan oleh agama, yakni makan dan minum yang tidak berlebihan. Karenanya Islam mengajarkan untuk menggunakan akal dan perasaannya untuk mengukur kadar kenyangnya saat makan.

Sehingga dalam hal ini pun nabi kemudian mengajarkan untuk makan sepatutnya saja. Kepatutan dalam Islam itu pun diajarkan oleh Nabi, “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan, “Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah”.

Bahkan kekenyangan hukumnya bisa haram, Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Larangan kekenyangan dimaksudkan pada kekenyangan yang membuat penuh perut dan membuat orangnya berat untuk melaksanakan ibadah dan membuat angkuh, bernafsu, banyak tidur dan malas. Bisa jadi hukumnya berubah dari makruh menjadi haram sesuai dengan dampak buruk yang ditimbulkan”.

Dalam konteks di atas, akal dan perasaanlah yang mampu mengetahui apakah perut sudah pada batas penuh. Bahkan Umar Ibn Khattab menyatakan: “Al-dinu ‘aqlun la dina liman la aqla lahu.” Karenanya Islam mengajarkan bahwa tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal, artinya bahwa penggunaan akal ini adalah untuk menentukan batas dan agar tidak melampaui batas yang telah ditetapkan agama. Tentu harus disertai dengan kejujuran. Karena tanpa kejujuran dari hati nurani, tentu akal tidak akan bisa menjadi indikator yang alamiah dari Allah.

Sehingga, dari konsumsi ini akan berdampak pada belanja sehari-hari, terutama untuk menu saat berbuka puasa maupun makan sahur. Karena belanja sehari-hari ini tentu difaktori oleh batas-batas konsumsi yang diperlukan. Akal pun akan memandu bahwa belanja yang diperlukan adalah belanja yang sesuai dengan kebutuhan.

Dengan demikian, bahwa puasa yang dilakukan oleh umat Muslim akan berdampak. Dengan puasa, akan menunjukkan fungsi ekonomi yang luar biasa. Wallahu’alam

(Penulis adalah dosen pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Sekretaris Takmir Masjid An-Nur Sidoarjo)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.