KEMPALAN: Pengamat ekonomi senior Kwik Kian Gie pernah bermimpi jadi koruptor. Dalam mimpinya, Kwik menjadi pelaku korupsi mulai dari main proyek APBD di level kabupaten-kota, sampai korupsi yang lebih canggih seperti memainkan kredit ekspor dari perbankan. Lebih canggih lagi, Kwik mimpi menjadi koruptor kelas hiu dengan menyaplok uang triliunan dari Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).
Dalam melakukan korupsi Kwik kadang menjadi penguasa, terkadang pengusaha, terkadang jadi pegawai negeri rendahan, terkadang jadi konglomerat pengusaha besar, malah pernah juga jadi tukang parkir.
Dalam mimpi itu Kwik menjalankan praktik korupsi dari yang kelas ecek-ecek sampai korupsi kelas dewa.
Korupsi yang paling mudah adalah menjadi rekanan proyek pemerintah daerah. Awalnya belajar dapat proyek penunjukan langsung (PL), dulu nilainya di bawah Rp 100 juta, sekarang naik menjadi Rp 200 juta.
Nilai proyek PL tidak boleh lebih dari pagu Rp 200 juta, karena proyek yang melewati pagu harus dilelang melalui tender. Jadi ribet, apalagi sekarang ada e-proc, tender elektronik yang memakai web dan internet. Sebenarnya e-proc gampang ditembus juga dengan cara kongkalikong dengan pejabat daerah, tapi itu baru bisa dilakukan oleh koruptor kelas menengah yang sudah berpengalaman dengan proyek-proyek PL. Setelah pintar main PL baru naik kelas memainkan e-proc.
Untuk mengakali supaya tidak pakai e-proc maka proyek dipecah-pecah menjadi kecil-kecil di bawah pagu. Proyek ini dibagi-bagikan sebagai suap politik. Banyak anggota dewan yang kebagian proyek kecil-kecilan itu. Tentu anggota dewan tidak mengerjakan proyek, sudah ada makelar dan tukang tadah yang mengambil proyek itu dengan cara pinjam bendera, lalu komisinya disetor dan dan dibagi-bagi.
Kalau sudah lihai main PL boleh naik kelas menjadi koruptor proyek yang lebih besar, ratusan juta sampai puluhan miliar. Tentu ilmu korupsinya sudah lebih canggih karena harus bisa mengakali e-proc dan mengalahkan pesaing dengan cara sehalus mungkin. Bisa juga proyek besar dijadikan PL dengan menerapkan specs yang rumit yang hanya bisa dipenuhi oleh perusahaan si koruptor. Dengan begitu dia menang tender dan tetap mematuhi e-proc.
Korupsi yang lebih canggih melibatkan pejabat-pejabat yang jago mengolah anggaran. Ada dinas-dinas yang kering, ada dinas yang basah yang bisa menghasilkan uang. Dinas yang mengurusi pekerjaan umum seperti pembangunan jalan dan fasilitas umum lainnya biasanya menjadi sasaran para koruptor yang berkolusi dengan pejabat yang korup. Koruptor mendapat proyek miliaran dan dia tahu diri berapa besar upeti yang harus disetor.
Koruptor yang canggih berani keluar modal untuk membiayai ongkos politik calon kepala daerah. Jumlahnya bervariasi dari miliaran sampai ratusan miliar. Biasanya para koruptor kumpul patungan untuk menjadi bohir seorang calon kepala daerah. Setelah jagonya menang sang koruptor tinggal memanen hasilnya. Tapi kalau jagonya kalah koruptor bisa rugi besar. Tapi biasanya koruptor yang canggih jarang kalah, karena dia mengongkosi semua calon yang maju dalak pemilihan kepala daerah.
Selain mimpi menjadi koruptor anggaran Kwik juga mimpi jadi koruptor dengan menggarong bank. Modusnya bermacam-macam. Berikut ini pengakuan mimpi Kwik:
Dalam mimpiku sekarang aku untung besar dengan hanya ongkang-ongkang saja. Pemerintah bermaksud meningkatkan ekspor (export drive).
Caranya memberikan kredit murah dengan bunga 12 persen setahun asalkan kreditnya dipakai untuk membiayai kegiatan ekspor.
Bunga deposito ketika itu 22 persen setahun. Saya mengajukan permohonan kredit ekspor dengan rencana ekspor yang meyakinkan.

Feasibility study dibuat oleh konsultan asing dan ditulis dalam bahasa Inggris. Pejabat tinggi kita menganggap apa saja yang asing dan dalam bahasa Inggris mesti lebih benar dan lebih pandai.
Demikian juga laporan keuangan saya juga seluruhnya ditulis dalam bahasa Inggris setelah diaudit oleh kantor akuntan yang termasuk big five di dunia. Segera saja kreditnya cair.
Tentu dengan uang suap seperlunya. Kegiatan ekspor juga saya laksanakan. Hanya yang saya ekspor gombal, kain pel, potongan-potongan sisa tekstil untuk membuat pakaian jadi. Baranfmg-barang itu diekspor kepada perusahaan Kwik sendiri di Singapura. Setibanya, barang-barang itu langsung dibuang. Jadi tidak ada penggunaan uang dari kredit ekspor untuk ekspor beneran.
Namun, saya dapat memperlihatkan semua dokumen ekspor. Kredit dengan bunga 12 persen saya depositokan dengan bunga 22 persen. Kredit yang saya peroleh Rp 500 miliar.
Dalam setahun saya mendapatkan pendapatan bersih (setelah dipotong pajak) sebesar Rp 93,5 miliar, yaitu 22 persen dari Rp 500 miliar dipotong pajak sebesar 15 persen.
Bunga yang harus saya bayarkan kepada bank BUMN sebesar 12 persen dari Rp 500 miliar atau Rp 60 miliar. Saya untung Rp 33,5 miliar for doing nothing.
Sukses menggarong bank Kwik melanjutkan mimpi menggarong bank dengan modus operandi lebih canggih. Ketika terjadi krisis moneter pada 1998 banyak bank yang kolaps karena semua kredit menjadi macet. Bank-bank swasta itu sebenarnya milik Kwik sendiri. Sekarang dia sudah menjadi konglomerat besar, punya puluhan perusahaan yang mendapatkan konsesi besar dari pemerintah. Untuk perusahaan perkebunan di luar Jawa Kwik dapat konsesi tanah ribuan hektar. Untuk konsesi pertambangan batubara Kwik juga memperoleh konsesi ratusan hektar. Tinggal mengeruk dan menambang, tidak perlu memikirkan kerusakan lingkungan karena hal itu urusan pemerintah yang sudah mendapatkan pajak dari perusahaan Kwik, apalagi Kwik juga sudah membayar upeti kepada banyak orang untuk memuluskan operasinya.
Perusahaan konglomerat milik Kwik ini kemudian mendirikan bank, lalu mengumpulkan dana dari masyarakat sebanyak mungkin. Dana itu kemudian dipakai untuk membiayai perusahaan Kwik sendiri. Semakin banyak dana yang dikumpulkan dari masyarakat semakin banyak kredit yang disalurkan kepada perusahaan milik Kwik sendiri. Soal legal lending limit, batasan jumlah kredit yang legal, tidak terlalu dipikirkan. Kalau biasanya perbankan internasional menerapkan lending limit 15 persen dari total aset Kwik bisa menerabas itu karena penerima kredit adalah perusahaannya sendiri.

Ketika terkena krismon bank-bank itu bangkrut karena semua kredit macet. Pemerintah mengeluarkan bantuan BLBI supaya bank-bank itu tidak ambruk, karena kalau bank swasta ambruk ekonomi Indonesia akan ikut ambruk. Pemerintah mengundang IMF, Dana Moneter Internasional, yang menjadi tukang talang berkelas rentenir internasional. Triliunan uang dikucurkan untuk menyelamatkan bank milik Kwik dan kawan-kawan. Nilai totalnya Rp 144 triliun. Seharusnya uang itu dipakai menyelamatkan bank, tapi ternyata oleh Kwik dibawa lari keluar negeri. Bank miliknya dibiarkan bangkrut dan pemerintah yang terkena getah harus menyelamatkan bank itu dengan mengambil sebagian saham dan menyuntikkan dana segar. Kwik sudah bisa memarkir dana triliunan rupiah di luar negeri, banknya menjadi sehat dan besar lagi, dan dia masih punya saham di bank itu.
Mimpi Kwik terputus disini. Sejak rezim baru berkuasa Kwik tidak berani melanjutkan mimpinya. Di zaman Pak Harto yang katanya represif, Kwik masih berani mengritik melalui media massa besar seperti Kompas. Tapi, sekarang Kwik benar-benar kapok tidak berani mengritik lagi. Jangankan mengritik, meneruskan mimpi pun Kwik tidak berani. Rangkaian mimpi Kwik ini dikisahkan dalam bukunya “Pikiran yang Terkorupsi” (2008).
Andai saja Kwik berani melanjutkan mimpi, mungkin ia akan bermimpi menjadi Sjamsul Nursalim. Dalam mimpi, Kwik ongkang-ongkang tinggal di luar negeri menikmati uang BLBI Rp 4,58 triliun. Statusnya sebagai tersangka dihapus dan perkaranya di KPK dihentikan.
Kwik senyum-senyum sendiri dalam tidurnya. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi