AMMAN-KEMPALAN: Saudara tiri Raja Yordania sekaligus mantan putra mahkota yakni Hamzah bin Hussein menjadi ‘tahanan rumah’ karena dianggap mengganggu kestabilitas negara seperti yang dikutip dari Al Jazeera dan Anadolu Agency pada Minggu (4/4).
Pada hari Sabtu (3/4), militer mengatakan telah mengeluarkan peringatan kepada pangeran atas tindakan yang menargetkan “keamanan dan stabilitas” di kerajaan. Pangeran Hamzah ditahan dengan beberapa tokoh negara.
Orang lain yang dekat dengan Pangeran Hamzah ditangkap pada hari Sabtu, termasuk Sharif Hassan bin Zaid, seorang anggota keluarga kerajaan, dan Bassem Ibrahim Awadallah, mantan kepala istana kerajaan.
Militer sebelumnya membantah dia menjalani tahanan rumah, tetapi mengatakan dia diperintahkan untuk menghentikan tindakan yang dapat digunakan untuk menargetkan “keamanan dan stabilitas negara.”
Wakil Perdana Menteri Yordania, Ayman Safadi mengatakan saudara tiri Raja Abdullah dan mantan putra mahkota, Pangeran Hamzah, telah berhubungan dengan pihak asing atas rencana untuk mengguncang negara dan telah dipantau selama beberapa waktu.
“Investigasi telah memantau gangguan dan komunikasi dengan pihak asing atas waktu yang tepat untuk membuat tidak stabil Yordania,” kata Safadi.
Dia juga menambahkan bahwa ada badan intelijen asing menghubungi istri Pangeran Hamzah untuk mengatur pesawat bagi pasangan itu untuk meninggalkan Yordania.
“Penyelidikan awal menunjukkan kegiatan dan gerakan ini telah mencapai tahap yang secara langsung mempengaruhi keamanan dan stabilitas negara, tetapi Yang Mulia memutuskan bahwa yang terbaik adalah berbicara langsung dengan Pangeran Hamzah, menanganinya di dalam keluarga untuk mencegahnya dieksploitasi,” dia berkata.
Safadi mengatakan, pihak keamanan telah meminta pihak yang terlibat dalam plot tersebut dibawa ke pengadilan keamanan negara. Dia mengatakan sekitar 14-16 orang ditahan.
Daoud Kuttab, direktur jenderal organisasi media nirlaba, Community Media Network, menyarankan hal tersebut adalah masalah “kritik internal”.
“Mantan Putra Mahkota Hamzah telah berkeliling, terutama di daerah kesukuan, dan itu semacam garis merah bagi pemerintah dan raja. Mereka adalah pendukung terkuat monarki dan orang-orang yang lebih berani melawan korupsi pemerintah. Jadi saya pikir itulah yang benar-benar membuat marah orang-orang di istana, ” kata Kuttab.
Dia menyarankan kemungkinan tidak akan ada penahanan lebih lanjut. “Saya rasa ini bukan kasus yang serius. Tidak ada petugas keamanan yang ditangkap. Anda tidak dapat melakukan kudeta kecuali ada petugas keamanan yang terlibat,” imbuhnya.
Tetangga dan sekutu Yordania menyatakan solidaritas dengan Raja Abdullah atas langkah-langkah keamanan di kerajaan. Yordania dipandang sebagai salah satu negara paling stabil di Timur Tengah.
Raja Maroko Mohammed VI lantas menyatakan dukungan mengadakan panggilan telepon dengan Raja Abdullah II di mana dia menyatakan solidaritas dan dukungan untuk langkah-langkah keamanan negara, kata istana kerajaan Maroko pada hari Minggu (4/4). (Al Jazeera/Anadolu Agency, Belva Dzaky Aulia)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi