KEMPALAN: Hari ini, Jumat (2/4/2021), umat Kristiani di seluruh dunia memperingati Jumat Agung, hari wafat Yesus Kristus, sebagai pengorbananNya di atas kayu salib di Bukit Kalvari, Golgota sekitar 2000 tahun yang silam untuk menebus dosa manusia yang pasti membawa ke kebinasaan. Yesus Kristus adalah firman Allah yang turun berinkarnasi menjadi manusia, menjadi sama dengan ciptaan-Nya itu, bahkan rela mengorbankan diri-Nya demi keselamatan umat manusia yang seharusnya kena hukuman maut akibat dosa, supaya beroleh keselamatan kekal.
Hari-hari ini, kita makin sulit dan jarang melihat manusia mau berkorban demi sesamanya manusia lain. Yang justru lebih umum adalah manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya, bahkan hal itu juga terjadi kepada orang dekat, bahkan keluarga. Demi ego dan kepentingan pribadi, tidak segan orang lain, bahkan orang dekatpun, dikorbankan. Kalaupun ada sikap dan perbuatan baik, banyak yang cenderung berdasarkan motivasi transaksional dengan perhitungan untuk mendapatkan lebih banyak di masa mendatang. Semua dimanfaatkan untuk mendapat lebih banyak lagi bagi pribadi.
Realita yang dapat dilihat di sekitar kita, seperti pejabat publik yang menebalkan muka dan mematirasakan hati nurani dengan merampok hak rakyat demi menimbun harta sampai ditangkap basah KPK dan dihukum sesuai dengan legalitas yang ada. Sebenarnya korupsi yang dilakukan itu bahkan bukan karena alasan kekurangan, justru sudah di dalam kelimpahan, tetapi keserakahan tidak dapat dibendung oleh hati nurani pejabat yang seharusnya mengabdi pada rakyat dan negara.
Bila direnungkan lebih dalam, apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus itu justru bertolak belakang dengan fenomena masa kini tentang manusia yang tidak peduli. Justru karena mengasihi manusia yang pasti binasa karena dosa, maka Yesus Kristus yang dalam iman Kristiani sebagai inkarnasi Allah menjadi manusia, rela menjadi sama dengan manusia, mempraktikkan kebaikan dan mengajarkan kebenaran sepanjang hidupNya. Puncak atas pelayananNya adalah dengan mencurahkan darahNya dan mengorbankan jiwaNya agar manusia yang seharusnya binasa itu memperoleh keselamatan yang kekal. Inilah yang merupakan keteladanan atas bela rasa dan solidaritas yang paling mulia untuk dilakukan bagi manusia yang membutuhkan keselamatan sebagai hakikat hidup sejati.
Kondisi terkini juga relevan situasi pelik dan anomali yang sedang dihadapi bangsa dan negara Indonesia. Di tengah pandemi Covid-19, kesulitan bisnis dan ekonomi, justru tetap deras perilaku korupsi, saling sikut dan sikat, bahkan teror radikalisme dan intoleransi, aksi bom bunuh diri, tetap mengancam kehidupan damai dan produktif yang harus tetap dilakukan dalam rangka keberlangsungan dan kemajuan bangsa dan NKRI. Keteladanan hidup Yesus Kristus yang hanya melakukan kebaikan dan meneladankan kebenaran harus menjadi sumber inspirasi bagi peringatan Jumat Agung sebagai pengorbananNya, akan tetapi pengorbanan itu tidak pernah sia-sia karena berlanjut pada kebangkitanNya sebagai kepastian kemenangan atas kuasa maut. Karena itu, hal ini harus menjadi sumber inspirasi dan inisiatif untuk tetap melakukan yang baik dan benar di dalam posisi apapun kita ditempatkan Tuhan di negara tercinta ini, agar kita menjadi garam dan terang bagi dunia, seperti yang dikehendaki Yesus Kristus melalui keberadaan kita masing-masing. (Wiyono Pontjoharyo, Hamba Tuhan GSKI Jemaat Bethany, Nginden, Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi