SURABAYA-KEMPALAN: Usai peledakan bom di depan Gereja Katedral, Makassar pada Minggu (28/3), terjadi baku tembak di Bareskrim Polri, Jakarta pada Rabu (31/3). Dua serangan dalam jangka waktu yang tidak terlalu jauh.
Keduanya melibatkan perempuan, dimana serangan Makassar adalah sepasang suami-istri, sementara di Bareskrim Polri telah diidentifikasi sebagai perempuan namun belum ada identitas yang dibuka dari penyerang.
Ada perubahan sasaran dari kelompok teroris dan paradigma baru yang melibatkan perempuan.
Pasca reformasi, terjadi pengeboman yang dilakukan oleh kelompok militan bernama Jamaah Islamiyah yang dikenal sebagai Bom Bali 1 pada tahun 2002 yang menewaskan 202 orang. Pengeboman ini menyasar tiga tempat: Sari Club, Paddy’s Club, dan Konsulat Amerika Serikat.
Tahun-tahun selanjutnya juga ada tindakan terorisme yang menyasar sasaran yang kurang lebih sama, tahun 2003 ada pengeboman di Hotel JW Marriot di Jakarta diikuti dengan pengeboman kedutaan besar Australia pada tahun 2004.
Pengeboman yang dilakukan oleh JI itu menyasar pada simbol-simbol Barat non-agama dan tidak menarget instansi pemerintah Indonesia. Penyerangan itu didasarkan pada pandangan bahwa Barat telah membawa kerugian besar di Timur Tengah, terutama dunia Islam yang menghadapi intervensi militer dari Barat, seperti Afghanistan yang hingga sekarang masih sarat akan konflik.
Tindak terorisme yang dilakukan JI berujung kepada penangkapan besar-besaran terhadap para anggotanya dan membuat strukturnya terancam.
Di tengah kealpaan JI, muncul kelompok-kelompok dengan doktrin berbeda, yang disebut-sebut oleh Kepolisian sebagai Jamaah Ansharut Daulah, dimana kepolisian mengklaim bahwa kelompok baru ini dipimpin oleh Aman Abdurrahman.
Kelompok ini mulai mengudara namanya semenjak Serangan Plaza Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat yang menewaskan empat warga sipil. Kasus Sarinah ini dilaksanakan oleh kelompok Bahrun Naim yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS), dimana JAD juga berafiliasi pada jejaring teroris luar negeri tersebut.
Tembak-menembak di Thamrin terjadi antara Kepolisian dengan pelaku dimana ada peledakan pos polisi di persimpangan Plaza Sarinah. Meskipun menyasar Starbucks, namun kelompok ini juga menyerang pos polisi, tindakan yang tidak dilakukan oleh JI.
Setahun kemudian pada 2017, terjadi dua ledakan di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Satu bom meledak di toilet Halte Transjakarta, sementara lainnya di Terminal Bus Kampung Melayu. Sasaran yang terbaru ini lebih kepada fasilitas umum yang biasa digunakan oleh warga sipil.
Selanjutnya pada 2018, terjadi penyerangan terhadap Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, Gereja Pentekosta Pusat Surabaya, dan Markas Polrestabes Surabaya. Kali ini pengeboman menyasar gereja dan kepolisian yang notabene instansi pemerintah lagi.
Tindak terorisme di Surabaya ini melibatkan satu keluarga, dimana perempuan (sang istri) juga ikut dalam peledakan bom.
Selang beberapa tahun pada 2021, terjadi peledakan bom di depan Gereja Katedral, Makassar dan baku tembak di Bareskrim Polri, Jakarta seperti yang telah dijelaskan di awal. Serangan 2018 dan 2021 dikaitkan juga dengan Jamaah Ansharut Daulah.
Sekilas dapat terlihat perubahan sasaran, dimana JI lebih sering menyasar simbol-simbol asing seperti kelab malam, kedutaan besar, dan hotel, sementara JAD justru menyasar ke gereja dan instansi pemerintahan, notabene kepolisian.
Perubahan sasaran ini diakibatkan perubahan pandangan dari kedua pihak, yang mana JI memiliki kedekatan dengan Al-Qaeda yang selalu menggambarkan dirinya melawan dominasi Barat, AS utamanya, dan JAD dianggap berafilisasi dengan ISIS yang lebih ganas dengan menyasar banyak pihak, terutama pemerintah yang tidak sepaham dengannya juga umat beragama lainnya. Apalagi dalam pamflet-pamfletnya lebih menekankan penggunaan istilah thogut, yang dapat dimaknai sebagai pemimpin lalim yang multi-tafsir.
Perubahan lainnya terjadi pada pelaku pengeboman, dimana JI kerapkali dilakukan oleh jejaring yang ada didalamnya, sementara mereka yang dituding JAD oleh pemerintah, juga melibatkan keluarga dan perempuan. Perempuan sekarang tidak hanya menjadi korban terorisme, tapi pelaku terorisme itu sendiri.
Hal ini bermuara dari cara indoktrinasi yang berbeda, dimana JI lebih ketat dalam menyeleksi pelaku bom bunuh diri, sementara para pelaku dari JAD biasanya teradikalisasi sendiri melalui konten-konten JAD yang tersebar di dunia maya. Rekaman suara ceramah serta buku PDF yang ditulis oleh Aman Abdurrahman sempat bebas tersebar di berbagai platform, sehingga semua orang bisa mengunduhnya, hal ini akan menyebabkan self-radicalization yang terbukti melibatkan satu keluarga.
Terorisme “gaya baru” ini harus dihadapi dengan intelijen yang kuat karena tidak memiliki struktur yang kuat yang justru melibatkan persebaran sel-sel pelaku terorisme lone wolf. Pelaku terkadang muncul dari arah yang tidak diduga. (reza m hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi