KEMPALAN: Malu bertanya sesat di jalan, begitu kata pepatah. Terdengar sederhana, dan biasanya dikaitkan dengan kejadian sederhana di sekitar kita. Misalnya, karena malu bertanya arah jalan jadi tersesat tidak bisa sampai ke tempat tujuan, nyasar kemana-mana. Padahal, di balik pepatah sederhana itu ada petitah-petitih yang bernilai filosofi tinggi yang bisa memengaruhi hal-hal penting dalam kehidupan.
Orang Inggris menyebutnya “asking the right question”, mengajukan pertanyaan yang benar. Kalau cara bertanya salah jawabannya bisa salah juga. Akibatnya masalah tidak bisa diselesaikan malah meluas kemana-mana.
Ketika lagi ramai-ramai mengenai bom sekarang ini, ada satu pertanyaan yang diajukan “What Went Wrong?”, Apa Yang Salah. Mengapa jadi begini? Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya rumit dan implikasi luas karena muncul perdebatan kontroversial untuk menjawab pertanyaan itu.
Yang mengajukan pertanyaan itu bukan sembarang orang. Dia adalah Prof. Bernard Lewis dari Princeton University, Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai ahli mengenai Timur Tengah dan masalah-masalah Islam.
Ia melempar pertanyaan itu dalam buku “What Went Wrong? The Clash between Islam and Modernity in the Middle East”, yang diterbitkan pada Januari 2002, tiga bulan setelah pengeboman menara WTC yang menewaskan 3.000 orang.
Buku ini tidak membahas pengeboman WTC, karena sudah naik cetak ketika pengeboman terjadi. Tapi ada edisi khusus yang diberi epilog oleh pengarangnya untuk membahas tragedi WTC.

Bernard Lewis kontroversial karena dia Yahudi dan dianggap sebagai pembenci Islam. Dalam “What Went Wrong” Lewis juga dianggap tidak objektif karena lebih banyak membela Barat dan dinilai mendiskeditkan Islam. Pertanyaan Lewis berkisar pada persoalan kemunduran peradaban Islam di dunia sejak abad ke-18 sampai sekarang. Islam yang sebelumnya jaya kemudian runtuh dan menyisakan peradaban yang surut yang menyebabkan kemunduran dan kemiskinan di Timur Tengah dan wilayah-wilayah Islam lain di seluruh dunia.
Para aktivis Islam menganggap Barat sebagai penyebab kemunduran dan menjadi biang keladi semua kekalahan dan penderitaan di dunia Islam. Eropa menguasai Timur Tengah sejak Perang Dunia I, dan kemudian semakin merajalela setelah Perang Dunia Kedua dengan mendirikan negara satelit Israel di jantung negara-negara Islam di Timur Tengah. Sejak itu dunia Islam tidak bisa bangkit dan tetap dalam keterpurukan sampai sekarang.
Penderitaan dan kekalahan dalam 80 tahun terakhir ini memunculkan berbagai perlawanan, mulai dari perlawanan dengan kekerasan bersenjata sampai perlawanan tidak bersenjata melalui pendidikan. Tapi hasilnya belum mampu membawa Islam mengejar ketertinggalan dari Barat.
Sayyid Qutub di Mesir dan Abul A’la Almaududi merupakan tokoh yang menjadi motor revivalisme, kebangkitan Islam, dengan menyerukan pemurnian ajaran Islam dan kembali kepada ajaran Islam yang murni yang diajarkan oleh Rasulullah. Revivalisme Sayyid Qutub membawa Ikhwanul Muslimin menjadi gerakan Islam politik yang menjadikan jihad bersenjata sebagai sarana perjuangan.
Interpretasi yang berbeda terhadap jihad memunculkan gerakan revivalisme Islam yang menempuh jalur pendidikan sebagai sarana perjuangan untuk mengejar ketertinggalan dari Barat.
Dalam sejarah Islam, jihad menjadi ruh paling penting yang menjadi pilar utama kebesaran Islam. Di zaman Rasulullah semua peperangan yang terjadi melawan orang kafir disebut sebagai jihad. Tetapi Rasulullah juga menegaskan bahwa perang adalah jihad kecil karena ada jihad yang lebih besar yaitu perang melawan kekuatan negatif dalam diri manusia dalam bentuk hawa nafsu.
Jihad secara literer artinya bersungguh-sungguh dalam bertindak. Karena itu, semua tindakan yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dalam Islam disebut sebagai jihad. Tetapi ada interpretasi lain yang lebih radikal yang meyakini bahwa jihad adalah perang. Dua mazhab ini sampai sekarang memecah pemahaman umat Islam dalam memahami jihad.
Kalangan revivalis garis keras berpendapat bahwa dalam menghadapi dominasi Barat jalan yang harus ditempuh adalah konfrontasi. Bernard Lewis mengatakan bahwa dalam konfrontasi itu kelompok revivalis garis keras ini melempar pertanyaan “Siapa yang Melakukan Kejahatan ini terhadap Islam?” Jawabannya adalah Eropa dan Amerika sebagai representasi peradaban Barat.
Menurut Lewis, pertanyaan itu salah, dan karenanya jawabannya juga salah alamat. Akibatnya reaksi dan respons yang muncul juga salah, misalnya terjadinya serangkaian serangan teror terhadap Barat akhir-akhir ini.
Kata Lewis, sebelum Barat mengalahkan Islam sudah ada Bangsa Mongol yang menaklukkan Islam di jantung kekuasaan Kekhalifaan Abbasiyah di Baghdad pada abad ke-13.

Pasukan Mongol di bawah komando Jenghis Khan yang jumlahnya kecil bisa menembus jantung kekuasaan kekhalifaan Islam dan menghancurkan peradaban Islam. Mengapa? Kata Lewis karena kondisi internal Islam sendiri yang ketika itu merosot. Hal yang sama terjadi pada abad ke-18 ketika bangsa Barat bisa menaklukkan kekuasaan Islam di jantung pertahanannya di Timur Tengah.
Lewis menyebut beberapa faktor yang membuat peradaban Islam merosot dan akhirnya dengan mudah ditundukkan oleh peradaban Barat. Salah satu yang penting adalah kejumudan dalam berpikir kreatif, tidak ada kebebasan untuk berpikir kreatif sebagaimana yang ditunjukkan oleh ilmuwan Islam generasi tahun 900 Masehi yang melahirkan pemikir besar seperti Ibnu Sina, Alfarabi, Ibnu Rusydi, dan ilmuwan hebat seangkatannya.
Lewis menuding tidak adanya demokrasi dalam Islam dan tidak adanya emansipasi hak-hak wanita dalam Islam menjadi faktor yang menambah kemerosotan Islam. Karena itu Lewis mengatakan, orang Islam harus bertanya “Apa yang telah kita lakukan terhadap Islam?” Lewis menyimpulkan kemerosotan Islam bukan diakibatkan oleh faktor eksternal, tapi lebih banyak oleh faktor internal.
Karena itu kekerasan dalam bentuk serangan terhadap Barat, termasuk bom manusia yang terjadi belakangan ini, oleh Lewis, dianggap sebagai serangan salah sasaran, dan bom yang meledak adalah bom nyasar.
Pandangan Lewis ini menyakitkan dan dianggap melecehkan oleh banyak aktivis Islam. Pandangannya dianggap sebagai bagian dari imperlialisme dan kolonialisme intelektual Barat terhadap Islam. Lewis dituduh sebagai orientalis anti-Islam.
Tapi, pertanyaan Bernard Lewis yang sederhana itu seharusnya menjadi alarm bagi pemikir Islam untuk berpikir ulang, apakah sudah merumuskan pertanyaan yang benar untuk menjawab kemerosotan Islam yang berkepanjangan ini.
Tidak perlu malu mengakui kesalahan. Seperti kata pepatah itu, kalau malu bertanya akan sesat di jalan maka akan nyasar kemana-mana. Bom Makassar menjadi Bom Maka-nyasar. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi