Auriel, Atta Halilintar, dan Habib Rizieq The Influencer
KEMPALAN: Anak-anak zaman old kalau ditanya cita-cita jawabannya tidak jauh-jauh dari jadi dokter, pilot, atau insinyur. Sekarang, anak zaman now cita-citanya menjadi youtuber, bisa hidup glamor crazy super rich, tanpa susah-payah, dan tanpa susah-susah sekolah.
Dengan modal cengengas-cengenges di depan kamera para youtuber bisa mendapatkan jamaah belasan juta orang. Semua tingkah lakunya diperhatikan dan ditiru. Cara dia bicara, makanan dan minuman apa yang dia konsumsi, dan apa saja yang melekat di badannya, mulai dari ujung rambut sampai ke jempol kaki, akan diikuti dan ditiru. Puluhan juta anak-anak muda terhipnotis lalu bermimpi menikmati hidup hedonis sebagai youtuber.
Seorang anak laki-laki drop out SMA seperti Atta Halilintar punya jamaah pengikut 26 juta orang yag menjadi pelanggan kanal Youtube-nya. Dari situ Atta bisa meraup rata-rata Rp 3 miliar setiap bulan. Ditambah endorser berbagai produk di Instagram dan penghasilannya dari berbagai line business dia diperkirakan bisa meraup Rp 4 miliar perbulan. Rencana pernikahannya dengan Auriel Hermansyah akan menjadi merger bisnis raksasa karena Auriel punya jamaah sekitar 3 juta orang. Total jenderal pasangan ini bisa mengeruk Rp 10 miliar setiap bulan.
Berapa penghasilan seorang profesor? Nol nol koma sekian dibanding para youtuber itu. Berapa jumlah follower dan pelanggannya? Nol koma sekian juga. Tak heran, pada 2017 Tom Nichols mengumumkan “The Death of Expertise”, kepakaran telah mati, orang-orang cerdik cendekia harus diparkir minggir dan kepakarannya disimpan di rak buku.
Orang bicara tanpa keahlian, tanpa pengetahuan, dan seringkali tidak tahu apa yang dibicarakannya. Luna Maya bicara mengenai Covid 19 dan penyakit komorbid, lalu menjadi viral. Anjie berbicara mengenai jamu ramuan tradisional penyembuh Covid 19 temuan seorang profesor. Belakangan setelah gaduh baru ketahuan bahwa si profesor ternyata palsu. Bahkan Anjie si pewawancara tidak tahu identitas dan keahlian “profesor” yang diwawancarainya.
Selebritas Gwyneth Paltrow bukan ahli andrologi. Tapi ia posting cara untuk gurah vagina dengan cara merebus sejumlah ramuan dan menguapkannya di bawah dua kaki. Resep itu disebut sebagai pengawet rumah tangga yang bakal membuat suami betah di rumah. Jutaan wanita di seluruh dunia mempraktikkan resep itu. Para ahli andrologi sudah mengingatkan bahwa resep itu salah, tapi tidak ada yang mendengarkan para ahli. Jutaan orang masih tetap memraktikkannya dan yakin akan khasiatnya untuk melanggengkan rumah tangga. Sekarang ini Paltrow cerai dari suaminya, Chris Martin vokalis band Coldplay, tapi videonya masih tetap dilihat jutaan wanita di seluruh dunia.
Kepakaran mati bukan hanya oleh para youtuber di media sosial tapi juga dibunuh oleh para intelektual sendiri yang suka berbicara diluar disiplin ilmunya. Para ilmuwan sudah menjadi selebritas karena komentar-komentarnya sering dikutip media meskipun tidak sesuai dengan kepakarannya. Nichols mengritik Noam Chomsky pakar linguistik Amerika yang lebih sering berbicara politik daripada bicara linguistik. KritikĀ Chomsky terhadap Partai Republik Amerika sangat keras dan tajam. Ia menyebut Partai Republik sebagai organisasi teroris terbesar di dunia. Kutipan itu dikenal di seluruh dunia, tapi kutipan Chomsky mengenai linguistik tidak ada yang seviral soal politik.
Mungkin Nichols agak lebay dalam kritiknya terhadap Chomsky, tapi ada benarnya juga untuk mendisiplinkan para intelektual supaya tidak gampang menjadi selebritas media. Di Indonesia godaan menjadi intelektual selebritas sangat besar. Di negara-negara maju di Eropa maupun Amerika hampir tidak pernah ada komentar intelektual yang menjadi headline surat kabar. Di Indonesia hampir tiap hari komentar intelektual menjadi headline. Habermas, misalnya, tidak pernah menjadi headline media Jerman atau Amerika. Di Indonesia dosen yang baru selesai program doktor dari luar negeri langsung menjadi selebritas media dan memilih menjadi influencer yang ingar-bingar daripada menekuni kampus yang sepi.
Influencer dibayar mahal dan dipakai untuk membangun opini publik maupun untuk menjadi propagandis. Pemerintah memakai mereka untuk mengampanyekan program-program strategis. Tidak semuanya berhasil, banyak terjadi communication breakdown, kegagalan komunikasi, yang membuat masyarakat lari dan mencibir.

Kasus Raffi Ahmad yang mendampingi Presiden Jokowi dalam program vaksinasi pertama menunjukkan bukti the death of expertise. Alih-alih memilih tokoh yang profesional pemerintah memilih Raffi the influencer. Malam hari setelah vaksinasi Raffi langsung ikut pesta ulang tahun bersama para sosialita teman-temannya. Message mengenai vaksinasi pun ambyar. Sampai sekarang, survei terbaru menunjukkan 30 persen responden menolak vaksin.
Survei itu juga menunjukkan bahwa 80 persen responden khawatir mengenai kehalalan vaksin. Rata-rata responden lebih khawatir bahwa vaksin itu haram daripada khawatir mengenai efektifitas vaksin. Bahkan anak-anak muda yang menjadi responden survei pun khawatir vaksin itu haram.
Kalau survei ini benar maka memilih Raffi sebagai influencer keliru. Burhanudin Muhtadi pemilik lembaga survei Indikator Politik Indonesia mengusulkan Habib Rizieq sebagai influencer. Alasannya sederhana, umat Islam masih ragu-ragu mengenai kehalalan vaksin. Pernyataan MUI bahwa vaksin Astra-Zenica buatan Inggris haram–karena mengandung babi tapi boleh dipakai karena darurat–malah membuat umat ragu.
Dibutuhkan influencer sekelas Habib Rizieq untuk mengomunikasikan program besar vaksinasi nasional ini.
Dalam hal memengaruhi massa harus diakui Habib Rizieq Shihab jagonya. Dia punya kemampuan orasi yang hebat dengan pemilihan diksi yang cermat dan intonasi yang terkontrol. Jutaan orang bisa terhipnotis oleh orasinya.
Tidak banyak orang yang punya kemampuan orasi sehebat Habib Rizieq. Orang akan dipaksa mendengar argumennya dan menyimak logika-logikanya. Di masa lalu Indonesia punga orator ulung seperti Bung Karno yang mampu membuat orang berhenti di pinggir jalan untuk menguping pidatonya melalui radio. Sekarang jarang ada pidato politik yang inspiratif apalagi menghipnotis. Pidato para elite politik umumnya datar dan hambar.

Pidato-pidato yang standar dan sloganistis tidak bisa menjadi sumber inspirasi, tidak bisa memberi motivasi, dan tidak bisa memengaruhi. Audiens terpaksa mendengar karena terpaksa mendengar.
Di situlah Habib Rizieq mempunyai kelebihan. Ia argumentatif dan menguasai logika bahasa. Sulit berdebat dengan dia kalau lawan debat tidak sepadan dan tidak mempunyai bekal retorika yang cukup. Karena itu persidangannya yang akan dilakukan secara luring akan banyak menarik perhatian massa.
Habib Rizieq the influencer diperkirakan akan mudah meyakinkan 80 persen responden untuk percaya terhadap kehalalan vaksin.
Merekurt Habib Rizireq sebagai influencer adalah terobosan out of the box yang layak dicoba.
Habib Rizieq sudah menyatakan kesediaannya membantu pemerintah. Tentu ada kompensasi dan konsesi yang harus diberi dan diterima oleh masing-masing pihak.
Memang ini dilematis bagi pemerintah Jokowi yang sudah kadung menempatkan Habib Rizieq sebagai outlaw dan outcast, pelanggar hukum yang dikucilkan. Tapi, menghadapi persoalan Covid 19 yang sangat kompleks ini diperlukan langkah besar yang ou of the box. Jokowi punya kemampuan yang hebat untuk melakukan hal itu. Kalau terhadap Prabowo saja bisa, Jokowi bisa melakukannya terhadap Habib Rizieq.
Momentum dan kesempatan tidak pernah datang dua kali. Kapan lagi kalau tidak sekarang. (*)

