KEMPALAN: Dua kali dalam seminggu di Amerika terjadi pembunuhan masal dan brutal. Di Atlanta, negara bagian Georgia, seorang anak muda Robert Aaron Long, 21 tahun, membeli senjata api, lalu menyerbu panti pijat dan tempat hiburan dan menembaki pelanggannya. Delapan orang tewas terkapar, enam di antaranya etnis China.
Selang beberapa hari kemudian, Selasa (23/) WIB seorang anak muda memasuki supermarket di Kota Boulder, Colorado dan menembak membabi buta menewaskan sepuluh orang termasuk seorang polisi. Anak muda itu Ahmad Al-Aliwi Alissa, 21 tahun juga, keturunan imigran Timur Tengah, baru seminggu sebelumnya membeli senjata api. Ia lalu masuk ke supermarket yang lagi banyak pengunjung dan membunuh sembilan orang. Polisi datang dan terjadi baku tembak, seorang polisi tewas dan Alissa luka cukup parah dan dilarikan ke rumah sakit.
Presiden Joe Biden bereaksi dengan menyerukan pengetatan penjualan senjata api yang selama ini diperdagangkan dengan bebas di toko. Orang bisa membeli senjata api sama mudahnya dengan membeli sandwich atau sekaleng Coca Cola. Seruan Biden ini sudah pasti sia-sia dan tidak akan menyelesaikan masalah rasisme di Amerika.
Respons Biden yang ingin penjualan senjata dilarang atau dibatasi adalah suara khas Partai Demokrat yang sudah pasti akan ditentang oleh pendukung Partai Republik, yang juga didukung oleh industri senjata api yang punya lobi politik terkuat di Amerika sejajar dengan lobi Yahudi yang juga sangat powerful.
Reaksi Biden ini menyederhanakan masalah, seolah problem utamanya adalah penjualan senjata api yang bebas. Padahal core of the core kasus ini adalah rasisme dan sikap anti-asing, xenophobia, yang mengurat mengakar di Amerika Serikat yang selalu menjadi api dalam sekam.
Di Indonesia rasisme dan sikap anti-China juga menjadi api dalam sekam yang asapnya kemebul terlihat jelas setiap saat. Pada saat bersamaan dengan penembakan Atlanta dan Colorado insiden rasisme terjadi di Indonesia. Patrich Wanggai, pemain sepakbola kelahiran Papua yang bermain untuk PSM Makassar, menjadi korban serangan rasial melalui media sosial, setelah timnya menang melawan Persija Jakarta di turnamen Piala Menpora yang sekarang tengah digelar.
Insiden Patrich Wanggai mungkin oleh sebagian orang dianggap kecil dan tidak penting, karena hanya insiden di media sosial yang sudah biasa dengan caci maki. Tapi insiden terhadap Wanggai bisa menjadi indikasi bahwa rasisme masih meluas di Indonesia. Kebencian karena beda warna kulit, beda suku, beda agama, dan beda derajat ekonomi dan sosial, masih sangat luas di Indonesia. Kasus pembunuhan brutal terhadap etnis China di Amerika mempunyai garis paralel yang kuat di Indonesia.
Pembunuhan etnis China di Amerika dipicu oleh kebencian terhadap komunitas China yang dianggap hidup eksklusif dan ekonomi lebih mapan. Di mana-mana pasti begitu, etnis minoritas pasti hidup eksklusif di wilayah enclave tertentu dan hidup lebih kaya karena bekerja lebih keras dibanding orang pribumi yang sering dituduh malas.

Etnis China di Atlanta Georgia menguasai bisnis hiburan dan esek-esek, panti pijat dan prostitusi terselubung maupun setengah terselubung, perdagangan narkoba, termasuk jaringan kriminal Triad yang menjadi pelindung bisnis gelap itu. Pasti ada juga Sembilan Naga yang punya modal dan jaringan besar dan memengaruhi keputusan politik strategis dengan kekuatan modal mereka.
Robert Aaron Long hanyalah anak muda yang belum matang, tapi dia sudah terjebak dalam xenopobia parah dan stereotyping umum bahwa etnis China hidup makmur dan eksklusif karena bisnis-bisnis haram. Kalau keluarga Robert Long adalah pendukung Partai Republik maka akan makin kuat siyalemen bahwa penembakan itu juga mempunyai motif agama.
Sudah jamak diketahui bahwa warga kulit hitam bersama warga etnis kulit berwarna adalah pendukung utama Partai Demokrat. Wapres Kamala Harris adalah politisi wanita blasteran Asia-Afrika pertama yang mencapai kedudukan eksekutif tertinggi mendampingi Presiden Joe Biden. Pendukung utama pasangan ini adalah kelompok kulit hitam, hispanik, imigran Asia dan Afrika, serta kelompok liberal kulit putih yang mendukung LGBT.
Sementara pendukung Partai Republik yang memilih Donald Trump adalah warga kulit putih yang konservatif dan penganut Protestan garis keras yang anti LGBT dan membenci imigran. Sudah umum diketahui bahwa banyak di antara imigran keturunan itu yang lebih “kemlondo”, kebarat-baratan, dan malah lebih liberal dibanding orang kulit putih.
Kebencian ini tidak sekadar ada di perbedaan orientasi politik tapi sudah mengurat mengakar dalam kehidupan sosial dan setiap saat bisa menjadi ledakan kekerasan rasial.
Ketika pandemi Covid 19 membuat ekonomi Amerika berantakan dan hampir 4 juta orang menjadi penganggur abadi, maka yang dipersalahkan sebagai biang kerok adalah imigran Asia terutama China.
Para imigran Asia pasti mau bekerja apa saja dengan gaji bantingan di bawah UMR. Tapi orang-orang bule, no way, pasti tidak bakal mau bekerja underpaid. Mending menganggur dan hidup mengandalkan dole, tunjangan pengangguran, dan mabuk di kafe tiap weekend.
Para imigran Asia pasti juga menderita karena menjadi korban ekonomi. Tapi, orang-orang Asia masih punya budaya komunal, saling membantu, kalau ada keluarga yang menganggur masih ada yang peduli. Di sisi lain, orang-orang kulit putih–yang mengaku pribumi dan mengamalkan agama yang fundamentalistis–adalah manusia-manusia yang individualistis.
Secara filosofis kalangan pendukung Partai Republik menjunjung nilai-nilai keluarga dan agama. Tapi dalam praktiknya mereka tetap lebih mengedepankan kebebasan individu daripada kehidupan komubal dengan menggantungkan diri kepada keluarga atau sanak kerabat. Robert Aaron Long yang sudah 21 tahun pasti malu kalau masih hidup sama orangtuanya. Tapi anak-anak Asia akan santuy saja ngekos gratis di rumah orangtua sampai kapanpun.
Tuduhan Donald Trump bahwa virus Covid 19 adalah virus Kung Flu dari China membuat kebencian itu semakin meluap. Dan ketika Trump menghasut pendukungnya supaya bergerak mempertahankan hak-haknya yang terampas, ribuan orang bergerak membawa senjata api menyerbu dan menduduki gedung DPR.

Korban ekonomi dan sosial Covid 19 yang paling parah adalah warga kulit putih, dan warga imigran praktis masih bisa bertahan karena masih ada kerekatan komunal. Rasa frustrasi seperti itulah yang membuat Robert Long membeli bedil dan menembaki para pelaku maksiat yang merampas pekerjaannya dan membuatnya jadi pengangguran.
Gelombang imigran asing ini membuat orang kulit putih galau dan kehilangan identitas. Orang kulit putih adalah kolonis, penjajah dari Inggris, yang mempertahankan identitas sebagai WASP, White, Anglo-Saxon, Protestan, kulit putih turunan Inggris beragama Protestan. Identitas tunggal itu maunya dipertahankan, tapi influx imigran Hispanik dari tetangga Meksiko dan Amerika Selatan membuat Amerika ibarat salad yang terdiri dari bermacam sayuran. Ketambahan lagi imigran Islam dari Timur Tengah dan imigran konfusian dari China, makin kaburlah identitas kulit putih Amerika.
Prof. Samuel Huntington dengan masygul mempertanyakan identitas Amerika dalam buku “Who Are We: The Challenges to America’s National Identity” (2004). Ia meratapi hilangnya identitas kulit putih dan menyesali makin hilangnya agama dan bahasa sebagai bagian identitas itu.
Orang-orang nasionalis fundamentalis bermunculan. Banyak yang ekstrem dan menenteng senjata api kemana-mana. Ada yang diam-diam membeli senjata api lalu menyerbu panti pijat dan karaoke seperti Robert Aaron Long.
Coba, berapa banyak calon-calon Robert Aaron Long baru di Amerika. Coba, berapa banyak anak-anak muda Indonesia yang akan dengan mudah tertular virus Robert Aaron Long.
Ketika hidup menjadi makin sulit karena desakan ekonomi, maka pelarian yang paling mudah adalah menyalahkan orang lain yang hidup makmur. Cara yang paling ampuh mencari pelarian adalah menyalahkan ketidakadilan yang terjadi dimana-mana. Ketika kondisi sudah makin buruk maka agama akan menjadi benteng terakhir untuk mendapatkan perlindungan dan keadilan.
Sama dengan di Amerika, di Indonesia juga banyak yang merasa risau karena kehilangan identitas nasional. Islam yang menjadi agama dominan tidak bisa dikonversi menjadi kekuatan ekonomi dan politik yang dominan. Kalangan etnis China yang jumlahnya hanya 1,2 persen bisa mendominasi 90 persen putaran ekonomi. Inilah sasaran empuk rasa frustrasi yang mengendap bertahun-tahun mencari pelampiasan.
Etnis China selalu menjadi “Kambing Hitam” meminjam istilah Romo Sindhunata (2006). Dalam setiap kerusuhan sosial etnis minoritas ini dikorbankan seperti kambing oleh kekuasaan dan tirani mayoritas. Seperti halnya Huntington, Romo Sindhu juga galau akan identitas nasional dan kemudian sebagian lari mencari perlindungan pada agama.
Rasa dikambinghitamkan ini sekarang diderita oleh sebagian kalangan Islam. Reaksi perlakuan terhadap Habib Rizieq–yang hari-hari ini diadili–menjadi bukti rasa ketertindasan itu.
Potensi untuk terjadi ledakan selalu ada, karena puluhan ribu Robert Aaron Long ada di Indonesia. Hidup mulia atau mati sebagai martir, itu semboyannya. Tinggal tunggu pemicu-pemicu kecil saja. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi