Minggu, 8 Maret 2026, pukul : 14:23 WIB
Surabaya
--°C

SMRC: 29% Tolak Vaksinasi Covid-19, Tak Benar Rentan Sakit setelah Vaksin

JAKARTA-KEMPALAN: Sebanyak 29 persen warga di Indonesia mengaku tak mau melakukan vaksinasi Covid-19. Hal ini merupakan temuan riset lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada Selasa (23/3).

“Jika vaksin sudah tersedia, apakah warga akan melakukan vaksinasi Covid? Ternyata temuan survei ini sangat banyak warga yaitu 29 persen warga yang tidak mau divaksin,” kata Direktur Riset SMRC Deni Irvani dalam rilis survei yang digelar daring, Selasa.

Menurut survei SMRC, hanya 46 persen responden yang mantap untuk melakukan vaksinasi. Sementara itu, 23 persen mengaku pikir-pikir dan 2 persen tidak menjawab pertanyaan ini. “Kalau kita asumsikan pikir-pikir dulu dan tidak menjawab ini terdistribusi secara proporsional kepada dua kategori, akan atau tidak akan (melakukan vaksinasi), maka yang mengatakan akan (melakukan vaksinasi) potensinya kalau proporsional baru 61 persen,” ujar Deni.

Secara demografi, yang tidak mau melakukan vaksinasi mayoritas merupakan laki-laki, yakni 33 persen. Sementara itu, warga perempuan yang enggan divaksin mencapai 26 persen. Warga dari perdesaan yang tidak mau divaksin mencapai 30 persen, sedangkan warga perkotaan sebanyak 28 persen. Dari segi umur, anak mudia usia kurang dari 25 tahun menjadi kelompok yang paling banyak tidak mau divaksin dengan jumlah 37 persen.

Sementara itu, dari segi pendidikan, yang enggan divaksin mayoritas lulusan SD atau kurang, yakni 34 persen. Dilihat dari wilayahnya, masyarakat luar Pulau Jawa lebih banyak yang tidak mau divaksin, yaitu 33 persen. Di Pulau Jawa, warga yang tak mau divaksin mencapai 27 persen. Di Pulau Jawa sendiri, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan penduduk terbanyak yang enggan divaksinasi. Angkanya mencapai 33 persen.

Deni mengatakan, kecenderungan untuk melakukan vaksinasi berkaitan dengan sikap warga terhadap Covid-19. Warga yang sangat takut terhadap virus lebih mantap untuk melakukan vaksinasi. “Kemudian, warga yang yakin bahwa jumlah yang terinfeksi Covid makin banyak itu juga lebih mantap mau divaksin,” ujarnya.

Deni menyebutkan, temuan tentang jumlah warga yang tidak mau divaksin ini perlu menjadi perhatian pemerintah. Sebab, pemerintah menargetkan vaksinasi Covid-19 di Tanah Air menjangkau 71 persen penduduk.

Sementara itu, pihak Kementerian Kesehatan membantah informasi yang menyebutkan bahwa seseorang justru lebih rentan tertular Covid-19 setelah disuntik vaksin karena antibodinya belum terbentuk sempurna.

“Itu tidak benar,” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi, Selasa (23/3/2021). Nadia mengatakan, vaksin Covid-19 yang saat ini digunakan sudah dipastikan keamanannya dan dapat membangun sistem kekebalan tubuh sehingga menimbulkan antibodi. “Jadi dipastikan tidak menjadi sakit,” ujar dia.

Namun, Nadia mengatakan, meski seseorang sudah disuntik vaksin Covid-19, masih bisa tertular virus corona. Ia juga mengatakan, ada kemungkinan seseorang sudah tertular virus corona saat menjalani penyuntikan vaksin Covid-19. “Selalu kita ingatkan vaksin tidak mencegah kita tertular, tetapi vaksin mencegah kita jatuh sakit,” ucap dia.

Nadia juga membantah informasi yang menyebutkan bahwa antibodi akan terbentuk sempurna dalam kurun waktu dua minggu setelah disuntik vaksin dosis kedua. Nadia menekankan, antibodi akan terbentuk sempurna setelah 28 hari atau empat minggu penyuntikan vaksin dosis kedua. Ia juga mengingatkan agar masyarakat yang sudah disuntik vaksin Covid-19 tidak lengah dalam penerapan protokol kesehatan. (km/ist)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.